Categories
Kamus Obat

Fentanyl

Fentanyl (fentanil) merupakan obat-obatan opioid sintesis turunan fenilpiperidin yang sering dimanfaatkan sebagai analgesik. Obat ini termasuk dalam satu kelompok dengan morfin.

Fentanyl kali pertama disetujui untuk penggunaan medis di Amerika Serikat pada 1968. Kini, obat ini telah masuk dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan banyak digunakan di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Berikut informasi selengkapnya mengenai fentanyl, manfaat, dosis, cara pakai, serta risiko efek samping yang mungkin terjadi.

Untuk apa obat fentanyl?

Fentanyl adalah obat nyeri narkotik yang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit atau nyeri yang parah, seperti setelah operasi atau kanker ganas. Obat ini mungkin juga diresepkan untuk menghilangkan rasa sakit lain yang parah ketika obat lain sudah tidak bekerja.

Biasanya, fentanyl diberikan secara transdermal, yakni melalui permukaan kulit berupa plester. Kemudian, obat dapat terserap secara perlahan dan masuk ke dalam sistem peredaran darah langsung ke jantung. Obat ini hanya bisa digunakan dengan pengawasan dari dokter.

Terkadang, obat juga diberikan secara parenteral (suntikan) untuk mengontrol kondisi nyeri akut.

Apa fungsi dan manfaat obat fentanyl?

Fentanyl berfungsi sebagai pereda nyeri dengan mengikat reseptor opioid tubuh dan meningkatkan kadar dopamin dalam otak.

Peningkatan kadar dopamin tersebut dapat membuat seseorang mengalami relaksasi, mengurangi rasa sakit, dan euforia (rasa bahagia meningkat).

Fentanyl dapat menekan pusat pernapasan dan refleks batuk serta menyempitkan pupil mata. Obat ini dapat bekerja dalam beberapa menit untuk menghilangkan rasa sakit dan memiliki durasi efek yang pendek, yakni hanya 30-90 menit.

Dalam bidang medis, fentanyl sering dimanfaatkan untuk beberapa kondisi berikut:

Nyeri akut

Fentanyl diberikan sebagai pereda nyeri selama operasi dan setelah operasi melalui suntikan (parenteral). Biasanya, obat ini diberikan untuk mengatasi nyeri berdurasi pendek, seperti dalam prosedur diagnostik.

Fentanyl sangat mudah larut dalam lemak sehingga lebih mudah melewati sawar cairan darah-serebrospinal. Dengan demikian, ia dapat menghasilkan efek analgesik lebih cepat daripada morfin.

Karena durasi kerja yang lebih pendek, obat ini cocok diberikan untuk keperluan analgesik dan pemulihan cepat dari sedasi. Untuk mengoptimalkan penggunaan, biasanya obat ini diberikan bersama dengan obat lain yang sesuai.

Obat dapat diberikan dengan disuntikkan ke otot (intramuskuler), tetapi suntikan ke pembuluh darah (intravena) lebih direkomendasikan. Hal ini karena suntikan intramuskuler dapat menyebabkan nyeri dan trauma apabila digunakan berulang.

Nyeri kanker ganas

Perawatan untuk menghilangkan nyeri karena kanker ganas biasanya membutuhkan pengobatan jangka panjang. Oleh karena itu, fentanyl dalam bentuk plester atau koyok sering diresepkan untuk menghilangkan nyeri kanker ganas.

Namun, obat ini hanya diberikan sebagai alternatif apabila pasien tidak dapat menerima pereda nyeri yang memadai. Alasannya karena fentanyl berisiko tinggi menyebabkan ketergantungan, risiko overdosis, dan kematian, meskipun dalam dosis yang sesuai.

Pemberian obat ini untuk pasien harus benar-benar dipertimbangkan, terutama untuk jangka panjang. Sebaiknya obat tidak diberikan apabila diketahui pasien tidak toleran terhadap obat opioid.

Nyeri kronis lainnya

Fentanyl yang diberikan secara transdermal juga dapat diberikan untuk perawatan nyeri kronis lain yang tidak berhubungan dengan kanker. Umumnya obat diberikan untuk nyeri kronis, yakni nyeri yang berlangsung selama lebih dari 3 bulan.

Pertimbangan untuk memberikan obat ini dilakukan apabila pasien tidak menanggapi obat nyeri kronis lain yang lebih aman dan memadai.

Pemberian obat dalam jangka panjang harus disertai dengan terapi perilaku yang memadai untuk mengantisipasi kemungkinan ketergantungan. Oleh karena itu, pengawasan ketat dari dokter diperlukan selama menggunakannya.

Anestesi

Fentanyl dapat digunakan sebagai obat bius (anestesi) dalam prosedur operasi. Obat ini diberikan baik untuk anestesi umum maupun lokal.

Fentanyl dapat juga diberikan untuk induksi anestesi sebelum operasi dalam operasi kecil yang memiliki durasi pendek. Misalnya, prosedur diagnostik atau perawatan yang mengharuskan pasien untuk terjaga atau dibius ringan.

Selain itu, obat ini juga dapat mencegah atau meredakan takipnea dan timbulnya delirium pascaoperasi.

Merek dan harga obat fentanyl

Obat ini hanya digunakan dengan pengawasan ketat dari dokter. Beberapa merek obat fentanyl yang telah beredar di Indonesia adalah Durogesic.

Obat ini bisa kamu jumpai di beberapa instansi kesehatan, seperti rumah sakit. Obat yang diresepkan oleh dokter, bisa kamu dapatkan baik di instalasi kesehatan rumah sakit atau apotek tertentu yang memiliki izin edar untuk obat-obatan narkotika.

Fentanyl mungkin sulit kamu jumpai di beberapa apotek lain karena memperjualbelikan obat ini di luar izin khusus, termasuk tindakan melanggar hukum.

Bagaimana cara pakai obat fentanyl?

Gunakan obat sesuai petunjuk cara pakai dan dosis yang telah diresepkan oleh dokter. Jangan menggunakan obat lebih banyak dari yang direkomendasikan.

Beritahu dokter apabila kamu mengalami perubahan perilaku saat menggunakan obat ini, seperti terlalu bersemangat dan perasaan ingin menggunakan obat lebih banyak.

Sediaan obat berupa suntikan akan diberikan oleh dokter, baik ke dalam pembuluh darah (intravena) atau ke dalam otot (intramuskuler).

Untuk sediaan koyok transdermal, jangan diaplikasikan pada kulit yang terluka. Aplikasikan koyok pada bagian kulit yang datar, seperti dada, lengan bagian atas, atau punggung supaya koyok menempel dengan baik.

Untuk mengaplikasikan obat transdermal, kamu bisa mengikuti instruksi berikut:

  1. Lepas plester/koyok dari bungkusnya. Jangan menggunakan gunting karena dapat memotong koyok. Jangan memotong koyok kecuali dokter yang memerintahkannya.
  2. Kupas plastik dari bagian belakang koyok. Jangan menyentuh bagian lengket dari koyok.
  3. Tempelkan bagian yang lengket dari koyok pada bagian kulit yang rata, kering, dan tidak terluka. Usahakan menghindari kulit yang terlalu berbulu, atau bila perlu gunting rambut pada kulit untuk memudahkan koyok menempel.
  4. Jangan menutupi koyok dengan apa pun, termasuk perban atau plester. Tanyakan pada dokter atau apoteker apabila kamu menjumpai koyok yang tidak menempel dengan baik.
  5. Cuci tangan setelah kamu menyentuh koyok. Sebaiknya cuci tangan dengan air mengalir.

Hindari terkena panas yang kuat atau sinar matahari saat menggunakan koyok. Hal ini dapat meningkatkan jumlah fentanyl yang terserap ke dalam kulit dan dapat meningkatkan risiko efek samping atau overdosis.

Jangan berhenti menggunakan obat tiba-tiba karena dapat memperburuk gejala yang kamu alami. Konsultasikan dengan dokter apabila ingin menghentikan pengobatan. Dokter mungkin akan mengurangi dosis secara perlahan dan mengalihkan ke obat lain yang memadai.

Jika kamu akan menjalani operasi, termasuk operasi kecil dan perawatan gigi, beritahu dokter bahwa menggunakan fentanyl.

Kamu bisa menyimpan obat pada suhu kamar, terhindar dari kelembapan dan sinar matahari setelah digunakan. Pastikan obat tersimpan di tempat aman dan jauh dari jangkauan anak-anak.

Berapa dosis obat fentanyl?

Dosis dewasa

Nyeri kronis yang tidak bisa disembuhkan

Dosis diberikan secara transdermal (koyok) berkisar 12-100mcg per jam. Dosis disesuaikan dengan kondisi pasien dan riwayat penggunaan opioid sebelumnya.

Premedikasi sebelum anestesi

Dosis diberikan secara intramuskuler: 50-100mcg harus diberikan 30 sampai 60 menit sebelum induksi anestesi.

Obat tambahan untuk anestesi umum

Untuk pasien yang tidak menggunakan alat bantu napas, dapat diberikan dosis 50 sampai 200mcg diikuti 50mcg dengan dosis maksimal 200mcg.

Untuk pasien yang menggunakan alat bantu napas, dapat diberikan dosis 300 sampai 3.500mcg (50mcg/kg) diikuti 100-200mcg tergantung respons pasien

Dosis anak

Obat tambahan untuk anestesi umum

Dosis lazim untuk anak usia 2 hingga 12 tahun dapat diberikan 2-3mcg/kg melalui suntikan intravena diikuti dosis 1mcg/kg.

Dosis lansia

Dosis untuk orang tua usia lanjut sebaiknya dipertimbangkan untuk diberikan dosis terendah yang paling efektif. Pengurangan dosis mungkin diperlukan.

Apakah fentanyl aman untuk ibu hamil dan menyusui?

U.S. Food and Drug Administration (FDA) memasukkan fentanyl dalam golongan obat kategori kehamilan C.

Studi penelitian telah hewan percobaan menunjukkan bahwa obat ini dapat menimbulkan risiko merugikan pada janin. Namun, studi terkontrol pada wanita hamil masih belum memadai. Penggunaan obat dapat dilakukan apabila potensi manfaat yang didapatkan lebih besar dari risikonya.

Obat ini diketahui dapat terserap dalam ASI sehingga tidak direkomendasikan untuk digunakan oleh ibu menyusui.

Apa efek samping obat fentanyl yang mungkin terjadi?

Pasien usia lanjut lebih mungkin mengalami efek samping, terutama efek depresi pernapasan dari fentanyl. Penggunaan obat untuk orang tua usia lanjut harus sangat hati-hati.

Berikut efek samping yang mungkin terjadi dari penggunaan fentanyl, antara lain:

  • Rasa kantuk
  • Kebingungan
  • Sembelit
  • Tubuh lemas
  • Mulut kering
  • Pupil mata menyempit
  • Ketidaksadaran
  • Pernapasan melambat
  • Penurunan detak jantung
  • Mual
  • Berkeringat
  • Otot kaku
  • Perasaan sesak di tenggorokan
  • Kesulitan dalam berkonsentrasi

Efek samping yang terkait dengan penggunaan obat secara transdermal termasuk kemerahan, ruam, gatal, dan bengkak pada bagian kulit bekas obat digunakan.

Apabila tiba-tiba berhenti menggunakan obat, dapat menimbulkan gejala putus obat biasanya mulai dalam 12 jam setelah dosis terakhir. Gejala ini dapat berlangsung selama 1 minggu atau lebih, yang meliputi:

  • Pupil mata berdilatasi
  • Muntah dan diare
  • Merinding
  • Pilek
  • Kepekaaan terhadap cahaya
  • Kegelisahan
  • Tubuh panas dingin
  • Agitasi
  • Insomnia
  • Nyeri umum yang parah.

Penggunaan opioid berulang sering mengakibatkan kecanduan. Oleh karena itu, penggunaan obat yang lebih aman sebaiknya dipertimbangkan.

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Kamus Obat

Silver Sulfadiazine

Silver sulfadiazine (perak sulfadiazin) merupakan senyawa tidak larut dan disintesis dari perak nitrat dan natrium sulfonamida sulfadiazin. Antibiotik berwarna putih yang termasuk dalam golongan sulfa ini hanya digunakan untuk kulit (topikal) dan ditemukan kali pertama pada 1960-an.

Silver sulfadiazine telah masuk dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan diedarkan di berbagai negara. Berikut informasi mengenai manfaat obat, dosis, cara pakai, serta risiko efek sampingnya.

Untuk apa obat silver sulfadiazine?

Silver sulfadiazine adalah obat yang digunakan untuk mengobati luka bakar, baik luka bakar parah atau luka lain, seperti tukak kaki dan luka tekan. Selain untuk mengobati, obat ini juga berfungsi untuk mencegah infeksi bakteri pada luka bakar.

Penggunaan silver sulfadiazine biasanya cukup dioleskan pada kulit yang terluka. Obat ini bisa diresepkan sebagai obat tunggal atau dikombinasikan dengan agen antibakteri lain untuk mencegah kemungkinan infeksi serius.

Apa fungsi dan manfaat silver sulfadiazine?

Silver sulfadiazine memiliki fungsi sebagai antimikroba spektrum luas yang efektif melawan bakteri gram positif dan gram negatif.

Ion peraknya dapat mengikat DNA organisme dan melepaskan sulfonamide yang mengganggu metabolisme bakteri. Dengan demikian, ia dapat menghambat dan mematikan pertumbuhan bakteri.

Beberapa manfaat agen topikal ini adalah kemudahan penggunaan dan kemampuannya untuk mengurangi rasa sakit. Efektivitas antimikrobanya telah diamati mampu bertahan hingga 24 jam.

Silver sulfadiazine secara khusus memiliki manfaat untuk mengobati kondisi berikut:

Mencegah dan mengobati infeksi luka bakar

Krim silver sulfadiazine digunakan secara topikal sebagai pengobatan infeksi luka pada pasien dengan luka bakar serius. Obat ini bekerja dengan menghentikan pertumbuhan bakteri yang dapat menginfeksi luka terbuka.

Pemberian obat ini juga bertujuan untuk membantu mengurangi risiko penyebaran bakteri ke kulit di sekitarnya, atau ke darah yang dapat menyebabkan infeksi darah serius (sepsis).

Silver sulfadiazine biasanya diberikan setelah dilakukan tindakan resusitasi, misalnya kontrol syok dan nyeri serta menyesuaikan ketidakseimbangan elektrolit pasien.

Krim ini diberikan juga sebagai bentuk pencegahan terhadap infeksi berbagai macam mikroba patogen luka bakar. Patogen ini termasuk Staphylococcus aureus, E. coli, spesies Klebsiella, P. aeruginosa, spesies Proteus, Enterobacteriaceae lain, dan Candida albicans.

Selain itu, pemberian obat untuk luka bakar biasanya ditujukan untuk mengendalikan bakteri sehingga dapat mencegah terjadinya luka dalam. Obat akan bekerja lebih efektif dengan dikombinasikan obat antiinfeksi lain apabila diketahui kemungkinan terjadi infeksi.

Silver sulfadiazine tidak boleh digunakan pada bayi prematur atau bayi baru lahir selama 2 bulan pertama karena risiko efek samping serius.

Merek dan harga obat silver sulfadiazine

Obat ini termasuk dalam golongan obat resep yang bisa didapatkan dengan rekomendasi dari dokter. Beberapa merek silver sulfadiazine yang telah beredar di Indonesia adalah Burnazin dan Vorzelin.

Berikut informasi mengenai merek obat silver sulfadiazine beserta harganya:

  • Burnazin Plus cr 25gr. Sediaan krim topikal mengandung kombinasi dengan asam hyaluronate 2mg untuk merawat luka bakar yang berisiko tinggi infeksi. Obat ini diproduksi oleh PT Darya Varia Laboratories dan bisa kamu dapatkan dengan harga Rp146.157/tube.
  • Burnazin cream 35mg. Sediaan krim topikal mencegah dan mengobati sepsis luka pada luka bakar. Obat ini diproduksi oleh Darya Varia dan bisa kamu dapatkan dengan harga Rp86.209/tube.

Bagaimana cara pakai obat silver sulfadiazine?

Gunakan obat sesuai takaran dan cara pakai yang telah ditetapkan oleh dokter. Jangan menggunakan obat lebih banyak, atau kurang, atau lebih lama dari yang direkomendasikan.

Obat ini digunakan dengan dioleskan pada kulit yang membutuhkan dan tidak untuk diminum. Obat sangat berbahaya jika tertelan. Hubungi dokter segera apabila kamu tidak sengaja menelan obat.

Saat menggunakan obat, jauhkan dari area mata, hidung, atau mulut karena bisa menimbulkan sensasi terbakar.

Sebelum mengaplikasikan obat, sebaiknya cuci tangan lebih dahulu dan bersihkan area kulit yang ingin diobati, termasuk kulit mati. Oleskan obat tipis-tipis pada bagian yang sakit. Kamu bisa menggunakan pembalut luka apabila perlu.

Jangan menerapkan obat topikal lain secara bersamaan dengan obat ini karena kemungkinan menimbulkan iritasi. Konsultasikan lebih lanjut dengan dokter apabila kamu terlanjur menggunakan obat lain.

Gunakan obat secara teratur untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari pengobatan. Jika lupa melewatkan satu dosis, segera gunakan apabila saat kamu ingat, dosis berikutnya masih lama. Lewati dosis apabila tiba untuk menggunakan obat dosis berikutnya.

Jika kamu menggunakan obat dalam jangka waktu lama, kamu mungkin perlu melakukan tes darah rutin untuk memeriksa respons tubuh terhadap obat. 

Apabila kamu akan melalukan tes laboratorium, beritahu dokter atau tenaga medis terkait bahwa kamu menggunakan silver sulfadiazine. Obat ini diketahui dapat memengaruhi hasil medis tertentu.

Kamu bisa menyimpan obat pada suhu kamar terhindar dari kelembapan dan sinar matahari setelah digunakan. Pastikan obat tertutup rapat saat tidak digunakan.

Berapa dosis obat silver sulfadiazine?

Dosis dewasa

Oleskan krim 1% secara topikal pada luka bakar yang telah dibersihkan dan dalam kondisi steril, misalnya menggunakan sarung tangan steril. Krim topikal tidak boleh dioleskan pada mata.

Teruskan mengoleskan krim selama ada kemungkinan infeksi kecuali terjadi reaksi efek samping secara klinis.

Dosis anak

Dosis untuk anak tersedia dalam bentuk garam dari perak sulfadiazin. Penggunaan untuk anak sebaiknya dengan pengawasan ketat dari dokter.

Apakah silver sulfadiazine aman untuk ibu hamil dan menyusui?

U.S. Food and Drug Administration (FDA) memasukkan obat ini dalam golongan obat kategori kehamilan B. Penggunaan tidak dianjurkan kecuali benar-benar diperlukan, terutama pada wanita hamil yang cukup umur.

Studi penelitian telah menunjukkan bahwa obat ini tidak menimbulkan risiko efek merugikan pada janin hewan percobaan. Namun, studi terkontrol pada wanita hamil masih belum memadai.

Silver sulfadiazine belum diketahui apakah dapat terserap dalam ASI sehingga kurang disarankan untuk digunakan oleh ibu menyusui, kecuali untuk situasi tertentu yang mengancam jiwa.

Apa efek samping obat silver sulfadiazine yang mungkin terjadi?

Beberapa efek samping dapat terjadi akibat penggunaan obat yang tidak sesuai dosis atau karena respons dari tubuh pasien. Hubungi dokter apabila muncul reaksi efek samping berikut:

  • Gejala reaksi alergi, seperti ruam, gatal-gatal, bengkak, melepuh, kesulitan bernapas, atau pembengkakan pada mulut, wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan.
  • Tanda-tanda gangguan hati, seperti urine berwarna gelap, kelelahan, sakit perut, tinja berwarna terang, muntah, kulit atau mata menguning.
  • Tidak bisa buang air kecil atau perubahan jumlah urine yang dikeluarkan.
  • Demam, menggigil, atau sakit tenggorokan memar atau perdarahan yang tidak dapat dijelaskan
  • Agranulositosis
  • Mual atau muntah
  • Diare
  • Trombositopenia
  • Hematuria
  • Sakit perut yang sangat parah.
  • Reaksi hipersensitivitas, seperti kulit merah, bengkak, melepuh, atau mengelupas, mata merah, iritasi atau luka di mulut, tenggorokan, hidung, atau mata.

Efek samping lain yang mungkin terjadi dari penggunaan topikal silver sulfadiazine, antara lain:

  • Perubahan warna kulit
  • Iritasi kulit
  • Sensasi terbakar pada area sekitar kulit yang diobati

Peringatan dan perhatian

Jangan gunakan silver sulfadiazine apabila kamu memiliki riwayat alergi dengan obat ini sebelumnya.

Kamu mungkin tidak bisa menggunakan obat ini apabila berada pada trimester ketiga kehamilan karena obat ini mungkin tidak cocok untuk digunakan. Beritahu dokter apabila kamu sedang hamil atau sedang menyusui bayi.

Jangan berikan obat ini untuk bayi yang baru lahir, bayi prematur, atau bayi usia di bawah dua bulan tanpa ada rekomendasi dari dokter.

Beritahu dokter apakah aman bagi kamu untuk menggunakan obat silver sulfadiazine apabila memiliki riwayat kesehatan berikut:

  • Defisiensi G6PD (kelainan darah bawaan yang memengaruhi sel darah merah)
  • Gangguan hati
  • Gangguan ginjal
  • Porfiria
  • Luka bakar di area tubuh yang luas

Obat ini bisa membuat kulit kamu lebih mudah terbakar sinar matahari. Berhati-hatilah apabila kamu berada di luar ruangan. Beritahu dokter apabila kamu mudah terbakar sinar matahari saat menggunakannya.

Beritahu dokter apabila kamu sedang menggunakan obat-obatan antidiabetik dari golongan sulfonilurea, seperti glimepiride dan glyburide. Obat ini dapat meningkatkan efek antidiabetik sulfonilurea saat digunakan bersamaan.

Jangan menggunakan obat ini untuk luka skala luas atau luka yang melibatkan kerusakan jaringan. Ketika hal ini dilakukan, sulfadiazine dapat terserap secara sistemik (dalam tubuh) dan menimbulkan reaksi merugikan.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Kamus Obat

Benzodiazepine

Benzodiazepine merupakan golongan obat ataraktika yang paling banyak digunakan di dunia karena risiko toksisitasnya ringan. Salah satu obat yang termasuk dalam kelompok ini adalah clonazepam, clobazam, diazepam.

Obat-obatan ini dikenal sebagai obat penenang ringan. Berikut informasi selengkapnya mengenai benzodiazepine, manfaat, dosis, cara pakai, serta risiko efek samping yang mungkin terjadi.

Untuk apa obat benzodiazepine?

Benzodiazepine adalah obat-obatan yang digunakan untuk berbagai kondisi berkaitan dengan sistem saraf pusat. Golongan obat ini sering diresepkan untuk mengatasi gangguan kecemasan, kejang, dan insomnia.

Beberapa jenis obat lain juga digunakan sebagai obat penenang (relaksan) sebelum operasi. Penggunaan obat untuk jangka pendek biasanya cukup aman dan efektif.

Obat tersedia dalam berbagai bentuk sediaan, seperti tablet, kapsul, tablet salut selaput, atau sediaan parenteral (suntikan). Penggunaan obat ini harus dengan pengawasan dokter.

Apa fungsi dan manfaat obat benzodiazepine?

Golongan obat benzodiazepine memiliki fungsi berdasarkan sifat yang dimilikinya sebagai obat penenang. Obat ini bekerja dengan cara mengubah aktivitas neuron dalam otak yang memicu reaksi stres dan kecemasan.

Secara khusus, benzodiazepine memiliki mekanisme kerja dengan meningkatkan efek dari neurotransmitter yang dikenal sebagai asam gamma-aminobutyric, atau GABA.

Saat seseorang merasa cemas, stimulasi berlebihan terjadi di otak. Ketika orang menggunakan benzodiazepine, otak akan mengirim pesan untuk melawan stimulasi berlebihan ini. Aktivitas inilah yang bisa mengurangi gejala kecemasan.

Secara umum, golongan obat benzodiazepine memiliki manfaat untuk mengatasi beberapa masalah kesehatan berikut:

Gejala putus alkohol

Diagnosis gejala sindrom putus alkohol biasanya terjadi pada orang-orang yang memiliki kebiasaan minum alkohol berat yang berkepanjangan. Kemudian, ia tiba-tiba berhenti minum yang mengakibatkan gejala:

  • Gemetar atau tremor
  • Kesulitan tidur
  • Kebingungan
  • Kegelisahan
  • Halusinasi
  • Kejang
  • Delirium tremens

Golongan obat benzodiazepine merupakan pengobatan lini pertama untuk mengatasi gejala sindrom putus alkohol akut. Golongan obat ini mampu mengurangi gejala putus obat dan mengurangi risiko tidak menyenangkan.

Obat-obatan yang umum digunakan, seperti chlordiazepoxide, diazepam, dan lorazepam. Lorazepam atau oxazepam mungkin lebih direkomendasikan pada pasien dengan gangguan hati seperti sirosis.

Gangguan kecemasan

Perawatan untuk gangguan kecemasan biasanya didasarkan pada parahnya masalah dan faktor dari pasien, seperti usia dan fungsi organ. Gejala umum dari gangguan kecemasan dapat meliputi:

  • Kecemasan yang berlebihan setidaknya selama enam bulan yang bukan disebabkan kondisi mental, pengobatan, atau penyalahgunaan zat lainnya
  • Insomnia
  • Kelelahan
  • Kegelisahan
  • Kesulitan berkonsentrasi
  • Mudah marah
  • Ketegangan otot

Penggunaan benzodiazepine dosis rendah dalam jangka pendek, yakni 2 sampai 6 minggu, cukup direkomendasikan. Apabila pasien tidak ingin menerima obat-obatan, maka terapi perilaku kognitif dan terapi relaksasi juga efektif diberikan.

Benzodiazepine yang umum digunakan untuk gangguan kecemasan, termasuk alprazolam, clonazepam, diazepam, dan lorazepam. Mirtazapine dan buspirone juga efektif untuk pasien yang tidak menanggapi obat antidepresan.

Namun, penggunaan benzodiazepine dalam jangka panjang harus dihindari karena kemungkinan risiko ketergantungan terhadap obat (adiktif). Obat ini juga harus digunakan dengan sangat hati-hati pada orang tua karena risiko sedasi berlebihan, kebingungan, mudah jatuh, dan patah tulang.

Insomnia

Sifat hipnotik benzodiazepine dapat dimanfaatkan sebagai obat tidur. Obat ini dapat mempercepat seseorang untuk tertidur dan memperpanjang waktu tidur.

Penggunaan obat untuk insomnia harus diberikan dalam waktu pengobatan yang singkat, biasanya 2 sampai 4 minggu. Golongan obat benzodiazepine yang disetujui untuk insomnia, meliputi temazepam dan triazolam.

Relaksan otot

Golongan obat yang umumnya diberikan untuk relaksan otot rangka, meliputi baclofen, carisoprodol, methocarbamol, metaxalone, dan cyclobenzaprine. Obat diazepam juga dapat digunakan sebagai pelemas otot dalam jangka pendek.

Obat-obatan ini biasanya diberikan untuk meredakan kejang otot rangka akut yang menyakitkan, seperti kejang otot punggung bawah yang akut. Perawatan yang diberikan harus disertai istirahat yang cukup serta terapi fisik yang memadai.

Gangguan panik

Gangguan panik bisa menjadi gangguan kronis yang berkepanjangan sehingga perlu diberikan perawatan. Pengobatan lini pertama yang umumnya diberikan termasuk obat inhibitor reuptake serotonin selektif (SSRI) dan inhibitor reuptake serotonin-norepinefrin (SNRI).

Golongan benzodiazepine dapat digunakan sebagai awal terapi untuk mengurangi gejala sementara antidepresan mulai diberikan. Antidepresan biasanya memerlukan waktu pengobatan 4 hingga 6 minggu. 

Golongan obat benzodiazepine seperti clonazepam, lorazepam, diazepam, dan alprazolam dapat berguna untuk mengatasi serangan panik. Obat ini aman digunakan sesuai petunjuk dan dapat meredakan gejala panik dengan cepat.

Prosedur untuk sedasi (penenang)

Prosedur sedasi biasanya menggunakan kombinasi obat-obatan untuk membantu pasien rileks (obat penenang). Selain itu, obat-obatan ini juga digunakan untuk anestesi selama prosedur medis atau gigi.

Golongan obat benzodiazepine, seperti diazepam dan midazolam, umumnya digunakan untuk tujuan ini. Pemberian jenis obat tersebut didasarkan pada durasi kerja masing-masing obat.

Diazepam biasanya digunakan untuk perawatan jangka panjang, sedangkan midazolam untuk jangka pendek.

Kejang

Kelompok obat benzodiazepine sering kali digunakan untuk mengatasi serangan kejang. Obat-obatan ini meliputi clobazam, clonazepam, clorazepate, diazepam, lorazepam, dan midazolam.

Untuk kasus jenis kejang akut, seperti kejang status epileptikus, biasanya obat diberikan secara intravena yang disuntikkan dalam pembuluh darah.

Clonazepam merupakan obat yang paling sering digunakan untuk pengendalian kejang jangka panjang dan pencegahan gangguan kejang. Namun, secara umum benzodiazepine biasanya bukan pilihan pertama untuk pencegahan kejang.

Merek dan harga obat benzodiazepine

Golongan obat ini termasuk dalam kategori obat dengan resep yang penggunaannya harus diawasi oleh dokter. Berikut jenis-jenis obat benzodiazepine beserta merek obat yang telah beredar:

1. Clobazam

Bentuk sediaan: tablet 10mg.

Merek obat: Clofritis, Proclozam, Anxibloc, Clobium, Frisium.

Informasi lebih lanjut mengenai harga, dosis, serta cara pakai obat lebih lanjut bisa kamu lihat pada laman clobazam.

2. Lorazepam

Bentuk sediaan: tablet 0,5mg dan 1mg.

Merek obat: Ativan, Merlopam, Lorex, Renaquil, Loxipaz.

Informasi lebih lanjut mengenai harga, dosis, serta cara pakai obat lebih lanjut bisa kamu lihat pada laman lorazepam.

3. Clonazepam

Bentuk sediaan: tablet 2mg.

Merek obat: Clonazepam 2, Rivotril, Riklona.

4. Alprazolam

Bentuk sediaan: tablet 0,5mg dan 1mg.

Merek obat: Actazolam, Alganax, Atarax, Apazol, Feprax, Frixitas, Grazolam, Opizolam, Xanax, Zypraz.

Informasi lebih lanjut mengenai harga, dosis, serta cara pakai obat lebih lanjut bisa kamu lihat pada laman alprazolam.

5. Diazepam

Bentuk sediaan: tablet 2mg dan injeksi 10mg/2ml.

Merek obat: Prozepam, Stesolid, Valdimex, Valisanbe, Vodin.

6. Bromazepam

Bentuk sediaan: tablet 1,5mg, 3mg, 6mg.

Merek obat: Lexotan, Lexzepam.

7. Chlordiazepoxide

Bentuk sediaan: kapsul 5mg dan 10mg.

Merek obat: Librium.

8. Flurazepam

Bentuk sediaan: kapsul 15mg.

Merek obat: Dalmadorm.

9. Nitrazepam

Bentuk sediaan: tablet salut selaput 5mg.

Merek obat: Dumolid.

Bagaimana cara pakai obat benzodiazepine?

Penggunaan masing-masing obat berdasarkan bentuk sediaan dan jenis obat yang kamu gunakan. Pastikan kamu mengikuti petunjuk penggunaan serta dosis yang telah diarahkan oleh dokter.

Jangan gunakan obat lebih lama dari dosis yang direkomendasikan. Obat ini bisa menyebabkan ketergantungan. Jangan membagikan obat dengan orang lain karena perbuatan ini termasuk tindak pidana yang melanggar hukum.

Beritahu dokter apabila kamu mengalami gejala perubahan perilaku, seperti halusinasi, rasa senang berlebihan, terlalu bersemangat, atau perasaan ingin menggunakan obat lebih banyak.

Jika gejala yang kamu alami tidak membaik atau bahkan memburuk, konsultasikan hal tersebut dengan dokter.

Kamu bisa menyimpan sediaan obat berdasarkan bentuk sediaannya. Simpan obat suppositoria, seperti stesolid, dalam lemari pendingin. Sediaan tablet bisa kamu simpan dalam suhu kamar terhindar dari kelembapan dan paparan sinar matahari.

Berapa dosis obat benzodiazepine?

Dosis obat ini bergantung dari masing-masing jenis obat benzodiazepine yang kamu gunakan. Beberapa merek obat dapat diberikan untuk anak-anak dengan pengawasan ketat dari dokter.

Apakah benzodiazepine aman untuk ibu hamil dan menyusui?

Umumnya obat benzodiazepine tidak direkomendasikan untuk ibu hamil karena sifat relaksan ototnya yang dapat menyebabkan depresi pernapasan.

Di Amerika Serikat, Food and Drug Administration (FDA) telah mengategorikan benzodiazepine ke dalam kategori D atau X yang berarti potensi bahaya pada janin telah dibuktikan.

Obat umumnya juga tidak direkomendasikan untuk digunakan oleh ibu menyusui karena efek sedasi obat dapat memengaruhi bayi yang disusui.

Apa efek samping obat benzodiazepine yang mungkin terjadi?

Beberapa efek samping yang mungkin terjadi dari penggunaan benzodiazepine, antara lain:

  • Mengantuk
  • Kebingungan
  • Pusing
  • Gangguan koordinasi
  • Meningkatkan risiko jatuh dan kecelakaan
  • Depresi
  • Kecemasan meningkat

Efek samping lain yang lebih serius dan mungkin terjadi dari penggunaan benzodiazepine, antara lain:

  • Gangguan memori
  • Perubahan perilaku
  • Mengigau, terutama pada orang tua
  • Risiko ketergantungan, terutama dalam penggunaan obat jangka panjang
  • Kemungkinan peningkatan risiko demensia

Berbagai gejala penarikan dapat terjadi saat menghentikan benzodiazepine. Mereka termasuk:

  • Kecemasan dan kepanikan
  • Agitasi dan kegelisahan
  • Tremor
  • Pusing
  • Kelelahan
  • Masalah tidur
  • Sesak napas
  • Berkeringat
  • Kram otot
  • Kejang
  • Halusinasi
  • Gangguan pencernaan
  • Sakit kepala dan nyeri otot

Para ahli tidak merekomendasikan penggunaan benzodiazepine selama lebih dari 2 minggu karena risiko terjadinya ketergantungan. Seseorang yang menggunakannya selama 3 sampai 4 minggu dan kemudian berhenti tiba-tiba kemungkinan besar akan mengalami gejala putus obat.

Orang yang menggunakannya dalam jangka panjang mungkin perlu menghentikan penggunaannya selama 3 sampai 12 bulan yang harus diawasi oleh dokter.

Peringatan dan perhatian

Sebaiknya kamu tidak menggunakan obat golongan benzodiazepine apabila memiliki riwayat alergi dengan obat ini sebelumnya. Beritahu dokter mengenai riwayat alergi yang kamu miliki.

Kamu bisa menginfokan ke dokter apabila memiliki riwayat gangguan ginjal, gangguan pernapasan, sleep apnea, penyakit hati, myasthenia gravis, glaukoma, epilepsi, dan gangguan mental.

Beritahu dokter apabila kamu pernah terlibat riwayat penyalahgunaan obat-obatan narkotika.

Jangan menggunakan obat dengan alkohol. Penggunaan alkohol bersamaan dengan obat apa pun dapat meningkatkan risiko efek samping tertentu yang mengancam jiwa.

Penggunaan benzodiazepine sebaiknya dihindari untuk orang tua usia lanjut. Orang tua usia lanjut sangat mungkin mengalami gejala efek samping dan menurunkan metabolisme golongan obat ini.

Jangan gunakan obat-obatan yang dapat menurunkan kewaspadaan, seperti obat relaksan otot dan obat opioid. Jika diberikan bersamaan, maka dapat meningkatkan risiko depresi pernapasan.

Jangan berkendara atau melakukan aktivitas yang membutuhkan kewaspadaan setelah menggunakan golongan obat benzodiazepine. Obat-obatan ini dapat menyebabkan mengantuk dan menurunkan kewaspadaan.

Beritahu dokter sebelum menggunakan obat ini apabila kamu sedang hamil atau menyusui bayi.

Interaksi benzodiazepine dengan obat lain

Kamu dapat mengalami overdosis obat-obatan dan risiko fatal bila menggunakan benzodiazepine dengan alkohol, opioid, obat penenang lain. 

Berikut jenis obat lain yang dapat menambah depresi sistem saraf pusat jika dikombinasikan dengan benzodiazepine, antara lain:

  • Fenotiazin
  • Barbiturat, seperti fenobarbital, pentobarbital, dan lain-lain.
  • Penghambat monoamine oxidase (MAOI), seperti selegiline, isocarboxazid, phenelzine
  • Antidepresan

Penggunaan benzodiazepine dengan obat-obatan opioid secara bersamaan dapat menyebabkan sedasi berat, depresi pernapasan, koma, dan kematian.

Sebaiknya hindari menggunakan obat benzodiazepine dengan obat-obatan penghambat CYP3A4, seperti:

  • Klaritromisin
  • Ketokonazol
  • Ritonavir
  • Nefazodone

Kamu juga tidak disarankan menggunakan obat benzodiazepine dengan obat-obatan penghambat CYP2C19, seperti:

  • Flukonazol
  • Fluvoxamine
  • Vorikonazol

Kadar obat dari benzodiazepine dapat meningkat apabila digunakan dengan obat penghambat enzim CYP3A4 atau CYP2C19. Hal ini karena metabolisme dan ekskresi benzodiazepine yang merupakan substrat CYP3A4 atau CYP2C19 menjadi berkurang.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Categories
Kamus Obat

Polymyxin

Polymyxin merupakan salah satu dari lima antibiotik polipeptida yang berasal dari spesies bakteri tanah, yaitu Paenibacillus polymyxa. Jenis antibiotik ini terdiri dari beberapa jenis, tetapi hanya polymyxin B dan E yang digunakan secara klinis.

Berikut informasi selengkapnya mengenai manfaat obat, dosis, cara pakai, serta risiko efek samping yang mungkin terjadi.

Untuk apa obat polymyxin?

Polymyxin adalah obat antibiotik yang digunakan dalam pengobatan infeksi bakteri gram negatif yang resistan terhadap penisilin dan antibiotik spektrum luas lainnya.

Polymyxin B biasanya digunakan dengan dioleskan atau diteteskan untuk mengobati infeksi seperti mata, telinga, kulit, dan kandung kemih.

Polymyxin E, juga dikenal sebagai colistin, sering digunakan untuk diare pada anak-anak. Obat ini terkadang juga diberikan melalui injeksi intramuskuler.

Apa fungsi dan manfaat obat polymyxin?

Polymyxin diketahui bekerja dengan cara mengganggu osmosis bakteri dengan mengikat fosfolipid membran sel bakteri. Akibatnya, terjadi kebocoran pada membran sel bakteri yang akhirnya bakteri mengalami lisis dan mati.

Namun, karena polymyxin juga bereaksi dengan membran sel manusia, polymyxin dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan neurotoksisitas. Oleh karena itu, penggunaan obat oral terbatas sebagai obat alternatif.

Dalam bidang kesehatan, obat ini secara khusus memiliki manfaat untuk mengobati beberapa kondisi berikut:

Meningitis dan infeksi saraf lainnya

Antibiotik ini digunakan sebagai alternatif untuk pengobatan infeksi meningitis yang disebabkan oleh bakteri gram negatif yang rentan. Infeksi ini termasuk dari Pseudomonas aeruginosaEscherichia coliKlebsiella pneumoniae, dan Haemophilus influenzae.

Polymyxin diberikan terutama apabila pasien kontraindikasi terapi dengan antibiotik lini pertama. Biasanya obat ini diberikan melalui suntikan dengan dikombinasikan dengan meropenem, penisilin, atau cephalosporin.

Kombinasi diberikan karena diketahui lebih efektif daripada obat digunakan sebagai terapi tunggal. Pasien yang sebelumnya tidak merespons terapi lini pertama karena resistansi, juga dapat diberikan obat ini.

Infeksi saluran pernapasan

Polymyxin dapat menjadi terapi alternatif untuk infeksi saluran pernapasan, termasuk pneumonia, yang disebabkan oleh bakteri gram negatif. Penyebab utama dari infeksi yang bisa diobati dengan obat ini, seperti Pseudomonas aeruginosa dan Acinetobacter baumanii.

Obat ini dapat diberikan sebagai obat tunggal atau dalam kombinasi dengan aztreonam yang diberikan melalui suntikan. Penyebab infeksi ini biasanya oleh bakteri Pseudomonas yang resistan terhadap berbagai pengobatan.

Polymyxin juga cukup efektif bila diberikan melalui inhalasi oral pada pasien dengan infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram negatif yang rentan.

Meskipun keamanan obat belum ditetapkan, beberapa ahli medis menyarankan penggunaan dari polymyxin B aerosol sebagai tambahan. Hal ini dapat dipertimbangkan untuk pengobatan infeksi saluran pernapasan yang serius.

Keracunan darah (septikemia)

Polymyxin digunakan sebagai pengobatan septikemia atau bakteremia yang disebabkan oleh Pseudomonas aeruginosaEnterobacter aerogenes, atau Klebsiella pneumoniae.

Obat ini juga telah digunakan untuk pengobatan infeksi aliran darah yang disebabkan oleh A. baumannii yang resistan terhadap beberapa obat. Umumnya obat hanya digunakan apabila agen antibakteri lain yang lebih memadai tidak bisa ditoleransi oleh pasien.

Obat dapat digunakan sendiri atau dikombinasikan dengan aztreonam untuk mengobati infeksi Pseudomonas yang telah resistan terhadap beberapa obat.

Infeksi saluran kemih (ISK)

Polymyxin juga dapat digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih serius yang disebabkan oleh bakteri Pseudomonas aeruginosa atau E. coli. Umumnya obat hanya diberikan apabila pengobatan pasien tidak merespons pengobatan lini pertama yang memadai.

Profilaksis bakteriuria dan bakteremia

Kombinasi polymyxin B dan neomycin digunakan sebagai pencegahan terjadinya bakteremia pada pasien yang menggunakan kateter tetap. Biasanya, diberikan pada pasien yang menjalani pembilasan kandung kemih atau pasien bakteriurik untuk irigasi jangka pendek (≤10 hari).

Beberapa dokter menyatakan bahwa irigasi atau pembilasan kandung kemih dengan larutan anti infeksi kemungkinan tidak akan bermanfaat. Terutama saat kateter terpasang dan solusi semacam ini tidak disarankan.

Pemberian kembinasi tetap dari kedua obat tersebut hanya bisa diberikan untuk irigasi saluran kandung kemih dan tidak untuk daerah lain.

Merek dan harga obat polymyxin

Obat ini termasuk dalam obat resep sehingga kamu mungkin memerlukan resep dokter untuk bisa mendapatkannya. Beberapa merek obat polymyxin yang telah beredar di Indonesia adalah Antibakteri DOEN dan Liposin.

Beberapa merek obat yang telah beredar beserta harganya bisa kamu lihat berikut ini:

  • Colistine 250.000IU tablet. sediaan tablet untuk gastroenteritis, enterokolitis, dan disentri yang disebabkan bakteri gram negatif. Obat ini mengandung colistin sulfate (polymyxin E sulfat) yang bisa kamu dapatkan dengan harga Rp1.616/tablet.
  • Otopain Ear Drop 8ml. Sediaan obat tetes telinga mengandung polymyxin B sulfat, neomycin sulfat, fludrocortisone acetate, dan lidocaine. Obat ini diproduksi oleh Interbat dan bisa kamu dapatkan dengan harga Rp109.618/pcs.
  • Otilon Ear Drop 8ml. Sediaan tetes telinga untuk mengobati otitis eksterna akut dan kronis. Obat ini memiliki kandungan seperti Otopain yang diproduksi oleh Sanbe Farma. Kamu bisa mendapatkannya dengan harga Rp56.343/botol.
  • C Polypred MD 0,6ml. Sediaan tetes mata steril untuk mengobati infeksi mata mengandung prednisolone asetat, neomycin sulfat, dan polymyxin B sulfat. Obat ini diproduksi oleh Cendo dan bisa kamu dapatkan dengan harga Rp25.395/pcs.
  • Liposin salep 10gr. Sediaan salep antibiotik topikal mengandung kombinasi bacitracin, lidocaine, dan lidocaine. Obat ini diproduksi oleh Pharos dan bisa kamu dapatkan dengan harga Rp55.540/tube.
  • Colistine 1.500.000IU tablet. Sediaan tablet untuk mengobati infeksi saluran cerna karena bakteri gram negatif. Obat ini diproduksi oleh Actavis dan bisa kamu dapatkan dengan harga Rp7.868/tablet.

Bagaimana cara pakai obat polymyxin?

Penggunaan obat didasarkan pada tujuan penggunaan. Baca dan ikuti petunjuk pemakaian serta dosis yang tertera di label kemasan obat. Jangan minum obat lebih banyak atau kurang dari dosis yang direkomendasikan.

Cara pakai obat polymyxin sesuai sediaannya yakni:

  • Sediaan tablet bisa diminum sesudah makan dengan segelas air. Minum obat secara rutin. Tablet jangan dihancurkan, dikunyah, atau dilarutkan tanpa ada perintah dari dokter.
  • Sediaan salep topikal untuk kulit bisa kamu oleskan pada area yang membutuhkan setelah bagian tersebut dibersihkan. Atau kamu bisa mengoleskan salep setiap selesai mandi.
  • Sediaan salep mata atau obat tetes mata hanya digunakan untuk mengobati infeksi mata. Kamu bisa meneteskan pada mata 4 sampai 6 kali sehari, satu hingga dua tetes pada mata yang mengalami infeksi.
  • Sediaan tetes telinga hanya digunakan untuk mengobati infeksi telinga. Teteskan obat 3 sampai 4 tetes pada telinga yang terinfeksi 3 sampai 4 kali sehari.
  • Untuk sediaan parenteral yang disuntikan dalam tubuh, dokter atau tenaga medis lain yang akan memberikan suntikan ini. Beritahu dokter apabila kamu tidak bisa menerima obat ini sebelumnya.
  • Sediaan oral sebaiknya diminum hingga dosis penuh yang telah ditentukan oleh dokter. Tetap minum obat meskipun kamu merasa baik-baik saja. Berhenti tiba-tiba dapat meningkatkan risiko resistansi dan kambuhnya infeksi.

Berapa dosis obat polymyxin?

Dosis dewasa

Infeksi yang rentan

Dosis diberikan melalui suntikan dalam otot (intramuskuler)

  • Dosis lazim: 25.000 sampai 30.000 UI/kg/hari dalam dosis terbagi tiap 4-6 jam.
  • Dosis maksimal: 2.000.000 UI per hari.

Dosis diberikan melalui suntikan dalam pembuluh darah (intravena)

  • Dosis lazim: 15.000 sampai 25.000 UI/kg/hari tiap 12 jam dengan durasi 60 sampai 120 menit.
  • Dosis maksimal: 2.000.000 UI/hari.

Meningitis

  • Dosis lazim: 50.000 UI diberikan melalui suntikan di sekitar sumsum tulang belakang sekali sehari selama 3 sampai 4 hari.
  • Dosis maksimal: 2.000.000 UI/hari.

Infeksi mata

  • Dosis lazim sebagai obat tetes mata: teteskan 1 sampai 2 tetes ke mata yang sakit hingga 6 kali sehari. Obat dapat digunakan setiap jam pada kasus yang parah.
  • Dosis lazim sebagai sediaan salep: oleskan secukupnya pada kantung konjungtiva 3 hingga 4 kali sehari.

Infeksi kulit

Dosis sebagai larutan 0,1% atau salep dalam kombinasi dengan obat lain cukup oleskan obat secukupnya pada are kulit yang membutuhkan 1 sampai 3 kali sehari.

Dosis anak

Infeksi yang rentan

  • Dosis untuk anak usia di bawah 2 tahun: 40,000 UI/kg/hari melalui suntikan ke otot dalam dosis terbagi tiap 6 jam.
  • Dosis untuk anak di atas usia 2 tahun dapat diberikan dosis sama dengan dosis dewasa tetapi tidak secara rutin.
  • Direkomendasikan untuk tidak memberikan suntikan secara rutin karena risiko nyeri pada tempat bekas suntikan.

Meningitis

  • Dosis untuk anak usia di bawah 2 tahun: 20.000 UI sekali sehari selama 3-4 hari atau 25.000 UI dua hari sekali.
  • Dosis untuk anak usia di atas 2 tahun dapat diberikan dosis sama dengan dosis dewasa.

Infeksi kulit

Dosis untuk mengobati infeksi kulit pada anak dapat disesuaikan dengan dosis orang dewasa.

Infeksi mata

Dosis lazim untuk mengobati infeksi mata pada anak dapat diberikan sesuai dengan dosis dewasa.

Apakah polymyxin aman untuk ibu hamil dan menyusui?

U.S. Food and Drug Administration (FDA) memasukkan polymyxin dalam golongan obat kategori kehamilan C.

Studi penelitian pada hewan telah menunjukkan bahwa obat ini dapat menyebabkan risiko merugikan pada janin (teratogenik). Namun, studi terkontrol pada wanita hamil masih belum memadai. Obat dapat digunakan jika potensi manfaat yang didapatkan lebih besar dari risikonya.

Saat ini, obat masih belum diketahui apakah dapat terserap dalam ASI sehingga tidak diketahui mengenai keamanan penggunaan obat. Konsultasikan lebih lanjut dengan dokter sebelum menggunakan obat ini saat kamu sedang hamil atau menyusui.

Apa efek samping obat polymyxin yang mungkin terjadi?

Efek samping mungkin terjadi karena penggunaan obat yang tidak sesuai dosis atau karena respons tubuh pasien terhadap obat. Beberapa efek samping yang mungkin muncul karena penggunaan polymyxin, antara lain:

  • Gejala reaksi alergi terhadap obat, seperti ruam kemerahan, gatal-gatal, kesulitan bernapas, pembengkakan pada bibir, lidah, wajah, atau tenggorokan
  • Gangguan neurologis
  • Eosinofilia
  • Gangguan ginjal
  • Pusing
  • Diare yang dapat menyebabkan masalah usus yang berbahaya, seperti kolitis
  • Demam
  • Sakit kepala
  • Leher kaku
  • Keratitis atau iritasi mata untuk sediaan tetes mata

Hentikan pemakaian apabila gejala efek samping muncul dan konsultasikan lebih lanjut dengan dokter.

Peringatan dan perhatian

Jangan gunakan polymyxin apabila kamu pernah mengalami reaksi alergi saat menggunakan obat ini sebelumnya.

Kamu juga tidak bisa menggunakan polymyxin apabila kamu sedang menggunakan obat-obatan berikut:

  • Obat nefrotoksik, seperti acetaminofen, aspirin, sefalosporin, kokain, dan lain-lain.
  • Obat neurotoksik, seperti dapsone, amiodarone, cisplatin, disulfiram, dan lain-lain.
  • Obat penghambat neuromuskuler, seperti succinylcholine

Kamu mungkin juga tidak dapat menggunakan obat ini apabila kamu memiliki riwayat gendang telinga berlubang (otic).

Beritahu dokter apabila sebelumnya kamu pernah mengalami retensi nitrogen atau memiliki riwayat gangguan ginjal sebelumnya.

Jangan berkendara atau mengoperasikan mesin setelah kamu menggunakan obat tetes mata. Polymyxin tetes mata mungkin dapat menyebabkan penglihatan kabur sementara atau gangguan penglihatan lainnya.

Beritahu dokter mengenai obat-obatan lain yang sedang kamu gunakan, terutama:

  • Bacitracin
  • Streptomisin
  • Neomisin
  • Kanamisin
  • Gentamisin
  • Tobramisin
  • Amikasin
  • Sefaloridin
  • Paromomisin
  • Viomisin
  • Kolistin
  • Penghambat neuromuskuler, misalnya anestesi dan obat pelemas otot

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Categories
Kamus Obat

Quinine (Kina)

Quinine merupakan alkaloid yang diperoleh dari kulit kayu kina yang pertama kali diisolasi pada 1820. Obat ini termasuk dalam golongan obat antiinfeksi yang digunakan untuk mengobati infeksi protozoa tertentu.

Obat quinine telah masuk dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan telah beredar di Indonesia. Berikut informasi selengkapnya mengenai obat quinine, manfaat, dosis, cara minum, serta risiko efek samping yang mungkin terjadi.

Untuk apa obat quinine?

Quinine adalah obat yang digunakan untuk mengobati malaria tanpa komplikasi dan terkadang untuk infeksi parasit yang disebut babesiosis.

Obat ini juga digunakan untuk mengobati kram kaki di malam hari, tetapi belum disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA). Hal ini karena berkaitan dengan risiko efek samping serius yang dapat terjadi.

Obat quinine biasanya diminum melalui mulut sebagai sediaan per oral atau melalui suntikan yang diberikan ke dalam pembuluh darah vena.

Apa fungsi dan manfaat obat quinine?

Quinine memiliki fungsi sebagai agen antiinfeksi yang bertindak dengan mengganggu pertumbuhan dan reproduksi parasit, terutama protozoa.

Mekanisme kerja dari obat ini masih belum sepenuhnya jelas, tetapi ia dipercaya dapat menekan metabolisme karbohidrat dan oksigen. Dengan demikian, ia dapat mengganggu pembentukan DNA parasit.

Quinine secara khusus memiliki manfaat untuk mengobati beberapa infeksi berikut:

Malaria

Quinine digunakan untuk mengobati malaria tanpa komplikasi yang disebabkan protozoa Plasmodium falciparum. Obat ini juga digunakan untuk mengobati malaria yang disebabkan oleh P. vivax yang resistan terhadap klorokuin.

Pengobatan malaria karena infeksi Plasmodium falciparum yang telah resistan klorokuin, maka dapat direkomendasikan quinine yang dikombinasikan dengan doxycycline atau tetrasiklin.

Pengobatan malaria dengan quinine umumnya dapat diberikan untuk anak-anak sesuai dengan usia dan berat badan.

Pemberian quinine diketahui dapat memperbaiki kondisi penderita malaria secara memadai karena parasit dapat segera dihilangkan dari dalam darah. Gejala penyakitnya juga dapat segera berkurang.

Namun, ketika pengobatan quinine dihentikan, banyak pasien yang sembuh mengalami serangan malaria lagi beberapa minggu kemudian. Kekambuhan ini berasal dari kegagalan quinine untuk membunuh parasit malaria di sel tubuh selain sel darah merah.

Parasit ini bertahan beberapa saat, kemudian masuk kembali ke sel darah merah dan memicu serangan malaria kedua sehingga penyakit kambuh. Oleh karena itu, penyembuhan malaria secara lengkap biasanya digunakan dengan primaquine atau klorokuin sebagai terapi lini pertama.

Malaria berat

Pengobatan untuk malaria berat dapat diberikan quinine yang dikombinasikan dengan doxycycline, tetrasiklin, atau clindamycin.

Malaria berat biasanya disebabkan oleh P. falciparum dan membutuhkan pengobatan awal yang intensif dengan suntikan obat antimalaria. Pengobatan yang disarankan untuk terapi awal adalah quinidine intravena dan harus segera dilakukan setelah penyakit terdiagnosis.

Setelah gejalanya berkurang dan terapi oral dapat ditoleransi, maka dapat dialihkan ke terapi quinine oral.

Babesiosis

Quinine juga digunakan untuk mengobati infeksi babesiosis yang disebabkan oleh Babesia microti. Gejala infeksi ini mirip dengan malaria, seperti berkeringat di malam hari, demam, gangguan keseimbangan, kelelahan, sakit perut, nyeri sendi, nyeri otot, serta penyakit kuning.

Untuk kasus infeksi berat, pengobatan dengan quinine dan clindamycin umumnya direkomendasikan sebagai terapi awal. Namun, beberapa bukti menunjukkan bahwa atovaquone dan azithromycin cukup efektifnya untuk mengobati infeksi ringan sampai sedang.

Merek dan harga obat quinine

Obat ini termasuk dalam golongan obat keras yang hanya bisa didapatkan dengan resep dokter. Beberapa merek obat yang telah beredar di Indonesia adalah Qualaquin, Kuinin HCl, Aethylcarbonas Chinin (Euchinin), dan lain-lain.

Salah satu merek obat yang telah beredar di Indonesia adalah Tablet Kina yang diproduksi oleh Kimia Farma. Obat ini umumnya bisa kamu dapatkan dengan harga Rp23.308/strip isi 12 tablet.

Bagaimana cara minum obat quinine?

Baca dan ikuti cara pakai serta dosis yang telah diarahkan oleh dokter. Jangan minum obat dalam dosis yang lebih banyak atau kurang dari yang direkomendasikan.

Obat sebaiknya diminum dengan makanan atau segera setelah satu suap makan untuk mengurangi ketidaknyamanan saat menelan tablet.

Obat tablet sebaiknya diminum utuh dengan segelas air putih. Jangan dihancurkan, dikunyah, atau dilarutkan tanpa ada rekomendasi dari dokter.

Untuk sediaan injeksi akan diberikan oleh dokter atau tenaga medis ke dalam pembuluh darah vena.

Minum obat secara teratur untuk mendapatkan efek terapi yang maksimal. Tetap minum dosis obat meskipun kamu merasa baik-baik saja. Minum obat hingga dosis penuh yang ditentukan dan jangan berhenti minum sebelum obat habis.

Sebaiknya kamu tidak melupakan dosis minum obat. Jika lupa, kamu bisa segera meminumnya saat ingat apabila dosis berikutnya masih lama. Lewati dosis apabila telah masuk waktu minum obat dosis selanjutnya. Jangan menggandakan dosis obat dalam satu waktu minum.

Selama kamu mengonsumsi obat, kamu perlu melakukan tes darah secara rutin untuk memeriksa respons tubuh terhadap obat tersebut. Konsultasikan lebih lanjut mengenai hal ini dengan dokter.

Jika kamu memerlukan pembedahan atau tes medis, beritahu dokter bahwa kamu sebelumnya mengonsumsi quinine. Kamu mungkin perlu berhenti menggunakan obat untuk beberapa waktu sebelum operasi.

Hubungi dokter apabila gejala penyakit tidak membaik setelah dua hari pengobatan, atau jika gejala kambuh setelah selesai pengobatan.

Kamu bisa menyimpan obat quinine pada suhu kamar terhindar dari kelembapan dan panas matahari setelah digunakan.

Berapa dosis obat quinine?

Dosis dewasa

Malaria falciparum

Dosis yang diberikan melalui suntikan ke pembuluh darah vena (intravena)

  • Dosis lazim: 20mg per kg berat badan dengan dosis maksimal 1.400mg diinfuskan selama 4 jam.
  • Dosis pemeliharaan: 10mg per kg berat badan dengan dosis maksimal 700mg selama 8 jam setelah 4 jam pertama dosis lazim.

Dosis yang diberikan secara oral

  • Dosis sebagai tablet quinine sulfate/bisulfate: 600 mg setiap 8 jam selama 7 hari.
  • Dosis sebagai kapsul quinine sulfate: 648 mg setiap 8 jam selama 7 hari.
  • Apabila diketahui obat telah resistan, maka dapat dilanjutkan terapi tambahan dengan doxycycline atau clindamycin.

Kram kaki di malam hari

  • Dosis sebagai tablet quinine sulfate: 200mg diminum sekali sehari sebelum tidur dengan dosis maksimal 300mg setiap hari.
  • Dosis sebagai tablet quinine bisulfate: 300mg diminum sekali sehari sebelum tidur.

Dosis anak

Malaria falciparum

  • Dosis yang diberikan melalui suntikan ke pembuluh darah vena (intravena) dapat diberikan secara perlahan tidak melebihi 5mg per kg per jam.
  • Dosis yang diberikan sebagai tablet quinine sulfate/bisulfate: 10mg per kg setiap 8 jam selama 7 hari.

Apakah quinine aman untuk ibu hamil dan menyusui?

U.S. Food and Drug Administration (FDA) belum memasukkan quinine dalam golongan obat kategori kehamilan apa pun. Namun, untuk sediaan per oral, FDA memasukkan obat ini dalam golongan obat C.

Umumnya obat tidak direkomendasikan untuk ibu hamil kecuali manfaat yang diperoleh lebih besar dari risikonya.

Obat ini diketahui dapat masuk dalam ASI meskipun dalam jumlah yang sangat sedikit. Penggunaan pada ibu menyusui dilakukan dalam kondisi tertentu dengan peringatan khusus.

Apa efek samping obat quinine yang mungkin terjadi?

Hentikan penggunaan obat dan hubungi dokter apabila muncul reaksi efek samping berikut:

  • Gejala reaksi alergi terhadap quinine, seperti gatal-gatal, ruam kemerahan pada kulit, kesulitan bernapas, pembengkakan pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan
  • Demam, menggigil, nyeri tubuh, gejala flu, ulserasi mulut dan tenggorokan, seperti seriawan
  • Kulit mudah memar, pendarahan yang tidak biasa pada hidung, mulut, vagina, atau rektum, serta muncul bintik-bintik ungu atau merah di bawah kulit.
  • Sakit kepala disertai nyeri dada dan pusing parah, pingsan, serta detak jantung cepat atau berdebar-debar.
  • Mati rasa atau kelemahan mendadak, terutama di satu sisi tubuh
  • Sakit kepala parah mendadak, bicara cadel, gangguan keseimbangan
  • Nyeri dada, batuk mendadak, mengi, napas cepat, batuk darah
  • Gangguan penglihatan atau pendengaran
  • Nyeri, bengkak, sensasi hangat pada kulit, atau kemerahan di salah satu atau kedua kaki.
  • Nyeri parah pada punggung bawah, urine berdarah, tidak bisa buang air kecil.
  • Gula darah rendah yang ditandai dengan gejala sakit kepala, lapar, lemah, berkeringat, kebingungan, mudah marah, pusing, detak jantung cepat, atau perasaan gelisah.
  • Kehilangan nafsu makan, urine berwarna gelap, tinja berwarna seperti tanah liat, penyakit kuning.
  • Reaksi hipersensitivitas.

Efek samping umum yang mungkin terjadi dari penggunaan quinine, antara lain:

  • Sakit kepala, penglihatan kabur, perubahan kemampuan mata untuk mengenali warna
  • Berkeringat atau kulit kemerahan, terutama di malam hari
  • Pusing ringan, vertigo, telinga berdenging
  • Sakit perut
  • Mual atau muntah

Peringatan dan perhatian

Jangan mengonsumsi obat ini apabila kamu memiliki riwayat alergi dengan quinine, atau obat yang sejenis, seperti mefloquine atau quinidine sebelumnya.

Kamu mungkin tidak bisa mengonsumsi quinine apabila memiliki riwayat kesehatan berikut:

  • Gangguan irama jantung yang disebut sindrom Long QT
  • Defisiensi enzim yang disebut defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase (G-6-PD)
  • Myasthenia gravis (gangguan kelemahan otot)
  • Hemoglobinuria
  • Neuritis optik atau peradangan pada saraf penglihatan
  • Gangguan telinga atau pendengaran misalnya tinnitus (telinga berdenging).
  • Apabila pernah mengonsumsi kina di masa lalu, tetapi penggunaannya menyebabkan kelainan sel darah, perdarahan hebat, atau masalah ginjal.

Beritahu dokter mengenai riwayat penyakit lain yang kamu miliki untuk memastikan keamanan penggunaan obat, terutama:

  • Gangguan hati
  • Gangguan ginjal
  • Penyakit jantung atau aritmia
  • Tingkat trombosit rendah dalam darah
  • Hipokalemia.

Beritahu dokter sebelum menggunakan quinine apabila kamu sedang hamil atau menyusui bayi.

Jangan berikan obat untuk anak-anak usia di bawah 16 tahun kecuali ada rekomendasi dari dokter.

Jangan mengonsumsi alkohol saat kamu menggunakan quinine. Risiko efek samping berbahaya dapat terjadi apabila diminum bersamaan.

Beritahu dokter dan apoteker apabila kamu sedang mengonsumsi obat-obatan berikut sebelum menggunakan quinine:

  • Obat untuk menetralkan asam lambung, misalnya cimetidine
  • Obat untuk penyakit jantung, misalnya digoxin, amiodarone
  • Obat lain untuk mengobati malaria, misalnya halofantrine, mefloquine
  • Obat untuk mengobati tuberkulosis atau TBC, misalnya rifampicin, isoniazid, ethambutol, dan lain-lain.
  • Obat untuk gangguan mood, misalnya thioridazine, pimozide
  • Obat pengencer darah, misalnya warfarin
  • Obat untuk pilek atau alergi, misalnya terfenadine
  • Obat untuk hiperurisemia dan asam urat, misalnya suxamethonium.

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Kamus Obat

Sulpiride

Sulpiride merupakan obat antipsikotik atipikal dari kelas benzamid yang memiliki fungsi berkaitan dengan psikosis. Obat ini termasuk dalam golongan antagonis selektif D2 dopamin yang memiliki fungsi mirip dengan obat clozapine.

Berikut informasi selengkapnya mengenai obat sulpiride, manfaat, dosis, serta efek samping yang mungkin terjadi.

Untuk apa obat sulpiride?

Sulpiride adalah obat yang digunakan untuk meredakan dan mengobati gejala umum psikosis berkaitan dengan skizofrenia. Skizofrenia adalah kelainan otak yang menyebabkan halusinasi, delusi, dan pola pikir serta perilaku yang sangat tidak teratur.

Selain itu, sulpiride juga digunakan untuk mengobati gangguan kecemasan, gangguan depresi, vertigo, tukak lambung, dan sindrom Tourette.

Obat ini umumnya diberikan dengan diminum melalui mulut atau melalui suntikan ke dalam otot (intramuskular).

Apa fungsi dan manfaat obat sulpiride?

Sulpiride memiliki fungsi sebagai agen yang menghambat secara selektif terhadap reseptor D2 dopamin. Melalui mekanisme kerja ini, ia diketahui memiliki sifat neuroleptik serta antidepresif dalam dosis rendah hingga sedang.

Obat ini secara khusus memiliki manfaat untuk mengobati beberapa kondisi kesehatan berikut:

Sebagai terapi antipsikotik

Sulpiride bekerja dengan memblokir berbagai reseptor di otak, terutama reseptor dopamin yang terlibat dalam pengiriman sinyal antar sel otak.

Ketika ada jumlah dopamin yang berlebihan di otak, hal itu menyebabkan rangsangan berlebih pada reseptor dopamin. Reseptor ini biasanya bertindak untuk mengubah perilaku dan stimulasi berlebihan. Akibatnya dapat menyebabkan penyakit psikotik.

Sulpiride memblokir reseptor tersebut sehingga membantu mengendalikan penyakit psikotik seperti skizofrenia.

Obat ini dapat diberikan sebagai terapi tunggal atau terapi tambahan pada orang dengan skizofrenia yang telah mengalami resistensi pengobatan.

Selain itu, sulpiride diketahui dapat mempercepat respons antidepresan pada pasien dengan gangguan depresi mayor meskipun masih di bawah uji penelitian.

Kontrasepsi

Efek kontrasepsi sulpiride disebabkan oleh efek pelepasan prolaktin dan antigonadotropiknya serta hiperprolaktinemia.

Kombinasi sulpiride dan norethindrone diketahui lebih efektif daripada norethindrone saja dalam menekan ekskresi estron dan pregnanediol. Keduanya merupakan hormon yang berperan dalam menentukan kehamilan.

Namun, penggunaannya masih belum sepenuhnya disetujui karena potensinya yang dapat menyebabkan tardive dyskinesia. Dalam penelitian lain menyarankan bahwa meningkatkan dosis progestogen akan mencapai efek yang sama seperti terapi kombinasi sulpiride.

Ulkus

Sulpiride oral 50 sampai 100mg 3 kali sehari diketahui dapat meningkatkan kemanjuran antasida (aluminium-magnesium hidroksida) pada ulkus duodenum.

Dalam penelitian lain, tingkat kekambuhan ulkus duodenum dapat dikurangi dengan kombinasi sulpiride 200mg ditambah cimetidine 800mg dibandingkan dengan cimetidine saja. 

Namun, studi lebih lanjut diperlukan untuk menentukan manfaat potensial secara pasti dari terapi pengobatan.

Sindrom Tourette

Sindrom Tourette merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan ucapan dan gerakan tubuh yang tidak terkontrol.

Dalam sebuah studi, sulpiride oral 200mg hingga 1.000mg setiap hari diketahui bermanfaat dalam pengobatan sindrom Tourette. Namun, studi lanjutan masih diperlukan untuk melihat efektivitas obat dengan haloperidol.

Migrain

Dalam sebuah studi penelitian, obat ini diketahui efektif dalam mengatasi migrain yang berkaitan dengan komplikasi gangguan psikologis.

Pada wanita, serangan migrain sering dikaitkan dengan perubahan hormonal. Beberapa bukti telah menunjukkan bahwa serangan migrain berhubungan dengan penurunan kadar estrogen plasma.

Sulpiride, turunan benzamide dengan sifat neuroleptik dan timoleptik, diketahui bekerja pada hipotalamus. Obat ini secara khusus menghambat faktor pelepasan yang bertanggung jawab atas hormon perangsang folikel dan sekresi prolaktin.

Dengan cara tersebut, obat dapat menjaga tingkat estrogen tetap rendah dan mencegah kemungkinan migrain.

Merek dan harga obat sulpiride

Obat ini termasuk dalam golongan obat resep yang bisa kamu dapatkan dengan rekomendasi khusus dari dokter. Beberapa merek obat sulpiride yang telah beredar di Indonesia adalah Dogmatil.

Dogmatil bisa kamu dapatkan dengan harga per strip berkisar antara Rp48.000-Rp80.000.

Bagaimana cara minum obat sulpiride?

Minum obat sesuai dengan aturan pakai dan dosis yang telah diresepkan oleh dokter. Bila dikonsumsi jangka panjang, perhatikan dosis minum. Jangan minum terlalu banyak atau kurang dari yang direkomendasikan.

Kamu bisa meminum obat dengan atau tanpa makanan. Jika kamu merasa mual, kamu bisa meminumnya bersama dengan makanan.

Usahakan untuk meminum obat secara teratur dalam waktu yang sama setiap hari. Selain untuk memudahkan kamu mengingat jadwal minum obat, hal ini akan membantu kamu mendapatkan efek terapi yang maksimal.

Sediaan tablet sebaiknya diminum secara utuh dengan air putih. Obat sebaiknya tidak digerus, dihancurkan, atau dilarutkan kecuali diarahkan oleh dokter.

Obat harus tetap diminum meskipun kamu merasa baik-baik saja. Berhenti mengonsumsi obat secara tiba-tiba dapat menyebabkan gejala yang semakin memburuk. Konsultasikan dengan dokter apabila akan berhenti mengonsumsi obat.

Jika kamu lupa minum, segera minum sesaat setelah kamu ingat. Lewati dosis minum obat apabila tiba waktu minum berikutnya. Jangan menggandakan dosis obat dalam satu waktu minum.

Kamu bisa menyimpan obat pada suhu kamar terhindar dari kelembapan dan paparan sinar matahari setelah digunakan.

Berapa dosis obat sulpiride?

Dosis dewasa

Untuk skizofrenia

Dosis lazim diberikan melalui suntikan ke dalam otot (intramuskular): 200mg hingga 800mg setiap hari.

Sedangkan dosis lazim diberikan sebagai obat oral: 200mg hingga 400mg diminum dua kali sehari.

Berikut dosis untuk pasien dengan gejala campuran positif dan negatif: 400mg hingga 600mg diminum dua kali sehari.

Dosis anak

Untuk skizofrenia

Dosis lazim dapat diberikan sama seperti dosis orang dewasa pada anak usia di atas 14 tahun.

Dosis lansia

Untuk skizofrenia

Dosis untuk orang tua usia lanjut sebaiknya diberikan dosis awal efektif paling rendah, disesuaikan dengan gejala dan kondisi pasien.

Apakah sulpiride aman untuk ibu hamil dan menyusui?

Sulpiride sebaiknya tidak dikonsumsi selama kehamilan, terutama dalam trisemester kehamilan terakhir. Penggunaan obat selama trisemester terakhir dalam menyebabkan kelemahan dan kram otot, sulit bernapas, gangguan makan, mengantuk dan kegelisahan.

Obat ini telah diketahui dapat terserap ke dalam ASI sehingga tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi oleh ibu menyusui.

Apa efek samping obat sulpiride yang mungkin terjadi?

Sulpiride biasanya dapat ditoleransi dengan baik dan menimbulkan sedikit efek samping. Beberapa efek samping umum yang mungkin muncul, antara lain:

  • Pusing
  • Sakit kepala
  • Efek samping ekstrapiramidal, seperti tremor, distonia, akathisia, dan parkinsonisme
  • Insomnia
  • Kenaikan atau penurunan berat badan
  • Hiperprolaktinemia
  • Mual
  • Muntah
  • Hidung tersumbat
  • Efek samping antikolinergik seperti mulut kering, sembelit, dan penglihatan kabur
  • Konsentrasi yang terganggu

Efek samping lain yang mungkin terjadi dari penggunaan sulpiride, tetapi jarang dijumpai, antara lain:

  • Tardive dyskinesia
  • Sindrom neuroleptik ganas, yakni komplikasi langka yang mengancam jiwa akibat penggunaan agen antidopaminergik.
  • Diskrasia darah dapat terjadi, terutama penggunaan sejumlah antipsikotik yang berbeda, seperti clozapine. Contoh gangguan ini termasuk agranulositosis, neutropenia, leukopenia, dan leukositosis.
  • Kejang

Kejadian efek samping yang tidak diketahui, tetapi pernah terjadi setelah menggunakan sulpiride, antara lain:

  • Aritmia yang berpotensi fatal.
  • Penyakit kuning
  • Enzim hati yang meningkat
  • Sirosis bilier primer
  • Reaksi alergi
  • Fotosensitifitas
  • Ruam kulit
  • Depresi
  • Palpitasi
  • Agitasi
  • Diaforesis, yaitu berkeringat tanpa diketahui penyebabnya
  • Hipotensi
  • Hipertensi
  • Tromboemboli vena

Peringatan dan perhatian

Kamu tidak boleh menggunakan sulpiride apabila kamu pernah mengalami gejala reaksi alergi saat mengonsumsi obat ini sebelumnya.

Obat ini mungkin tidak cocok untuk kamu konsumsi apabila kamu memiliki riwayat psikosis terkait demensia.

Kamu mungkin tidak dapat mengonsumsi sulpiride apabila memiliki riwayat kesehatan berikut:

  • Phaeochromocytoma, yakni tumor langka pada kelenjar adrenal, yang berada di dekat ginjal)
  • Porfiria (kelainan pigmen darah langka)
  • Kanker payudara atau jenis tumor tertentu yang disebut prolaktinoma hipofisis
  • Penekanan sumsum tulang sehingga jumlah sel darah merah atau putih dalam tubuh berkurang

Jangan mengonsumsi obat ini apabila kamu telah menggunakan levodopa untuk mengobati penyakit Parkinson.

Untuk memastikan bahwa kamu aman menggunakan sulpiride, beritahu dokter mengenai riwayat penyakit yang kamu miliki, terutama:

  • Penyakit jantung
  • Penyakit parkinson
  • Riwayat epilepsi
  • Gangguan ginjal
  • Gangguan darah
  • Riwayat stroke

Beritahu dokter apabila kamu sedang hamil atau menyusui bayi sebelum mengonsumsi sulpiride.

Jangan berikan obat untuk anak-anak dan orang tua usia lanjut tanpa ada rekomendasi dari dokter.

Jangan mengonsumsi alkohol saat kamu menggunakan sulpiride. Efek samping serius dapat meningkat saat kamu mengonsumsinya bersamaan.

Beritahu dokter dan apoteker apabila kamu menggunakan salah satu dari obat-obatan berikut saat akan mengonsumsi sulpiride:

  • Antibiotik tertentu, misalnya eritromisin
  • Obat-obatan untuk mengobati penyakit jantung, misalnya kuinidin, amiodaron, sotalol, disopiramid
  • Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati depresi, misalnya fluoxetine, amitriptyline, lithium
  • Obat untuk mengobati tekanan darah tinggi, misalnya diltiazem, verapamil
  • Mengonsumsi obat lain yang digunakan untuk mengobati gangguan mental atau emosional, misalnya pimozide, haloperidol, thioridazine
  • Obat lain yang digunakan untuk mengobati penyakit Parkinson, misalnya ropinirole
  • Obat untuk mengobati malaria, misalnya halofantrine

Sulpiride tidak boleh dikonsumsi bersamaan dengan antasida. Jika kamu harus menggunakan antasida, minumlah setidaknya 2 jam setelah kamu mengonsumsi sulpiride.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.