Categories
Info Sehat

Gusi Bengkak dan Bernanah? Jangan Panik, Ini Cara Mengatasinya

Gusi bengkak dan bernanah relatif umum terjadi. Kabar baiknya adalah, ada banyak hal yang dapat kamu lakukan di rumah untuk meringankan ketidaknyamanan yang kamu rasakan.

Meski begitu, ada juga yang bertahan sampai berminggu-minggu. Yuk, kenali lebih jauh tentang keluhan kesehatan tersebut dengan membaca ulasan berikut.

Baca juga: Bayi Diare Saat Tumbuh Gigi, Apakah Normal?

Penyebab gusi bengkak dan bernanah

Dilansir dari Healthline, berikut adalah beberapa hal yang bisa menjadi faktor penyebab gusi bengkak di sekitar satu gigi.

1. Radang gusi

Disebut juga dengan gingivitis, ini adalah penyebab paling umum dari pembengkakan gusi. Banyak orang tidak tahu bahwa mereka menderita radang gusi karena gejalanya bisa jadi sangat ringan.

Namun, jika tidak diobati, gangguan tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan kondisi yang jauh lebih serius yang disebut periodontitis dan kemungkinan kehilangan gigi.

Gingivitis paling sering disebabkan oleh kebersihan mulut yang buruk, yang memungkinkan penumpukan plak di garis gusi dan gigi.

Plak adalah lapisan yang terdiri dari bakteri dan partikel makanan yang mengendap di gigi dari waktu ke waktu. Jika plak tertinggal di gigi selama lebih dari beberapa hari, itu menjadi karang gigi.

2. Kehamilan

Gusi bengkak dan bernanah juga bisa terjadi selama kehamilan. Hormon yang dihasilkan tubuh selama kehamilan dapat meningkatkan aliran darah di gusi. Peningkatan ini dapat menyebabkan gusi jadi lebih mudah teriritasi, sehingga menyebabkan pembengkakan serta nanah.

Perubahan hormonal ini juga dapat menghalangi kemampuan tubuh untuk melawan bakteri yang biasanya menyebabkan infeksi gusi. Ini dapat meningkatkan kemungkinan masalah kesehatan gigi ini terjadi pada dirimu.

3. Infeksi

Infeksi yang disebabkan jamur dan virus berpotensi menyebabkan masalah gusi. Misalnya, jika kamu menderita herpes, hal itu dapat menyebabkan kondisi yang disebut gingivostomatitis herpes akut.

Ini sangat mungkin membuat gusi mengalami infeksi lalu membengkak dan juga bernanah. Sariawan, yang merupakan hasil dari pertumbuhan berlebih jamur alami di mulut, juga dapat menyebabkan masalah ini.

Langkah mengatasi gusi bengkak dan bernanah

Perawatan medis untuk gangguan ini bisa dimulai dengan melakukan pengobatan rumahan seperti:

  • Tenangkan gusi dengan menyikat dan membersihkan gigi dengan benang secara lembut, agar tidak menyebabkan iritasi.
  • Beli benang gigi, lalu bersihkan sela-sela gigi dari sisa makanan penyebab bakteri menumpuk.
  • Bilas mulut dengan larutan air asin untuk membersihkan mulut dari bakteri.
  • Minum banyak air. Air akan membantu merangsang produksi air liur, yang melemahkan bakteri penyebab penyakit di mulut.
  • Hindari bahan iritan, termasuk obat kumur yang kuat, alkohol, dan tembakau.
  • Tempelkan kompres hangat di wajah untuk mengurangi nyeri gusi. Kompres dingin dapat membantu mengurangi pembengkakan.

Pencegahan

Mengambil langkah untuk mencegah keluhan ini terjadi adalah bagian penting dari perawatan gigi apa pun. Tindakan ini di antaranya adalah:

  • Sikat secara teratur, setidaknya dua kali setiap hari atau setelah makan.
  • Bersihkan sela-sela gigi dengan benang secara teratur.
  • Gunakan produk oral yang lembut seperti pasta gigi dan obat kumur.
  • Hindari minuman manis, karena dapat menyebabkan penumpukan bakteri di mulut.
  • Sebaiknya hindari tembakau, termasuk merokok atau mengunyahnya.
  • Hindari alkohol dan obat kumur beralkohol, karena alkohol dapat mengeringkan dan mengiritasi gusi.
  • Hindari makanan tajam seperti keripik, biji-bijian, dan berondong jagung, yang dapat tersangkut di gigi dan menyebabkan nyeri.

Kapan harus ke dokter?

Meskipun pengobatan rumahan dapat membantu mengatasi gangguan gusi yang menjengkelkan ini untuk sementara waktu. Namun, itu bukanlah pengganti diagnosis dan pengobatan dari ahli kesehatan.

Kondisi yang mendasari terjadinya keluhan ini dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat. Siapa pun yang mengalami gusi bengkak dan bernanah, harus menemui dokter gigi untuk diagnosis dan perawatan lengkap.

Jika masalah ini tetap terjadi selama lebih dari seminggu, buatlah janji dengan dokter gigi untuk mendapatkan rekomendasi perawatan yang tepat.

Jangan lupa untuk untuk mengecek kondisi kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Caranya mudah, cukup download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Categories
Kulit & Perawatan Tubuh

Makanan Pedas Bikin Jerawat Muncul, Apakah Benar Begitu?

Kulit adalah cerminan dari apa yang masuk ke dalam tubuh. Tak heran jika sebagian orang bilang bahwa mengonsumsi makanan pedas bisa bikin jerawat muncul.

Benarkah kedua hal tersebut benar-benar berkaitan? Mari simak jawabannya lewat artikel di bawah ini.

Baca juga: Ingin Minum Pil KB untuk Mengobati Jerawat? Cek Dulu 5 Fakta Ini

Apakah makanan pedas bikin jerawat muncul?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa nutrisi dan vitamin tertentu membantu kulit wajah tetap sehat. Begitu pula sebaliknya, asupan makanan yang kurang tepat, sangat rentan menimbulkan berbagai masalah kulit, termasuk jerawat.

Tapi apakah benar makanan pedas bikin jerawat muncul? Jawabannya adalah tidak selalu demikian. Berikut penjelasan lebih lengkapnya:

Jerawat bisa timbul karena makan makanan pedas

Dilansir dari Marque Medical, sebuah studi yang dilakukan pada 2006 dan diterbitkan oleh Eastern Mediterranean Health Journal menyimpulkan bahwa makanan pedas dapat menjadi pemicu lain yang menyebabkan munculnya jerawat pada kulit.

Ini karena makanan pedas sering kali mengandung likopen asam yang dapat mengiritasi kulit, mengganggu keseimbangan tingkat pH, dan memicu munculnya jerawat.

Meskipun setiap orang akan bereaksi berbeda, namun kamu dapat mempertimbangkan menghindari makanan pedas untuk mencegah terjadinya jerawat.

Makanan pedas bisa juga tidak menimbulkan jerawat

Banyak penelitian menunjukkan hubungan yang kuat antara diet dan jerawat. Sebagian besar penderita jerawat bahkan percaya bahwa makanan pedas dan asin memperburuk jerawat.

Hal ini kemudian diteliti untuk menilai hubungan antara asupan makanan asin dan pedas terhadap tingkat keparahan, maupun durasi jerawat.

Melibatkan 200 pasien acne vulgaris yang dikelompokkan berdasarkan usia dan jenis kelamin, para peserta diberikan kuesioner, pemeriksaan klinis dan penilaian diet yang disebut metode “24 jam recall“.

Para peneliti lalu menghitung asupan kandungan natrium dari makanan yang dikonsumsi para peserta selama 24 jam. Memakai program komputer yang menghubungkan informasi diet peserta ke tabel komposisi makanan dari basis data National Nutrition Institute.

Hasil penelitian

Studi tersebut menunjukkan bahwa pasien dengan jerawat diketahui mengonsumsi jumlah harian natrium klorida (NaCl) yang lebih tinggi secara signifikan. Korelasi negatif antara jumlah NaCl dalam makanan pasien berjerawat dengan timbulnya lesi jerawat juga terdeteksi.

Meski begitu studi tersebut menyimpulkan bahwa baik makanan asin maupun pedas pada dasarnya tidak berkorelasi terhadap durasi maupun tingkat keparahan gangguan kulit yang satu ini.

Mengapa makanan pedas sering dikaitkan dengan jerawat?

Pada dasarnya hal ini tidak berlaku pada setiap orang. Dalam kondisi tertentu, ada orang yang rentan berjerawat setelah makan makanan pedas, tapi tidak demikian pada orang lainnya. Ini sangat tergantung pada kondisi tubuh dan bawaan alergi yang dimiliki masing-masing orang.

Selain itu faktor keringat juga cukup memengaruhi munculnya jerawat setelah makan makanan pedas. Makanan pedas menyebabkan reaksi inflamasi dalam tubuh yang menyebabkan kenaikan suhu, diikuti oleh keringat di sekujur tubuh khususnya wajah.

Keringat meningkatkan kemungkinan munculnya jerawat, dan semakin kamu tidak nyaman dengan rasa pedas pada makanan yang kamu makan, maka semakin besar pula kemungkinan kamu akan berkeringat.

Pada gilirannya, keringat tersebut akan memicu minyak untuk dilepaskan di kulit. Minyak itulah yang memerangkap kotoran dan bakteri yang menyebabkan jerawat.

Baca juga: Efektif dan Aman, Begini Cara Menghilangkan Jerawat Secara Tepat

Bagaimana mencegah jerawat setelah makan makanan pedas?

Satu hal yang bisa kamu lakukan adalah mencuci muka setelah mengalami reaksi keringat. Itu akan membantu menghilangkan minyak berlebih penyebab jerawat.

Jika pada dasarnya kondisi kulitmu memang sering berjerawat, pilihan lain yang bisa kamu lakukan adalah membangun toleransi agar kamu tidak terlalu berkeringat saat makan makanan pedas.

Hindari makan makanan yang sangat pedas seperti jalapeno. Jika kamu ingin mencicipi cita rasa yang satu ini, mulailah dengan skala kecil seperti merica. Dengan cara ini, kamu tidak akan terlalu rentan mengalami reaksi peradangan kulit yang ekstrem.

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Categories
Kehamilan

3 Penyebab Nyeri Selangkangan saat Hamil dan Cara Mengatasinya

Nyeri selangkangan sering terjadi selama mengandung, dan umumnya menjadi semakin sakit seiring dengan perkembangan kehamilan.

Meski cukup merepotkan, tapi rasa sakit pada pangkal paha bukanlah keadaan darurat. Biasanya ini juga tidak mengindikasikan adanya masalah pada kehamilan.

Dalam artikel ini, kamu akan membaca ulasan tentang penyebab nyeri selangkangan selama kehamilan dan cara mengatasinya.

Baca jug: 3 Fakta Menarik soal Ibu Hamil dan Sex Toy, Boleh Dipakai Tidak Ya?

Penyebab nyeri selangkangan saat mengandung

Di bawah ini adalah beberapa penyebab paling umum nyeri selangkangan selama kehamilan dan perawatan yang terkait.

1. Nyeri ligamen bundar

Dilansir dari Web MD, beberapa ligamen tebal mengelilingi dan menopang rahim saat tumbuh selama kehamilan. Salah satunya disebut ligamentum bundar.

Ligamen bundar menghubungkan bagian depan rahim ke selangkangan, area di mana kaki menempel pada panggul. Ligamen bundar biasanya mengencang dan mengendur perlahan.

Saat bayi dan rahim tumbuh, ligamen bundar meregang. Itu membuatnya lebih mungkin menjadi tegang.

Gerakan tiba-tiba dapat menyebabkan ligamen mengencang dengan cepat, seperti karet gelang yang patah. Hal ini menyebabkan nyeri selangkangan yang tiba-tiba dan cepat.

Pengobatan

Nyeri ligamen bundar tidak menunjukkan masalah pada kehamilan, dan biasanya hilang segera setelah wanita melahirkan. Sementara itu, beberapa strategi yang dapat membantu meredakan nyeri meliputi:

  • Menekuk atau meregangkan pinggul sebelum melakukan apa pun yang cenderung menyebabkan nyeri ligamen bundar
  • Menopang rahim dengan tangan sebelum berdiri, duduk, atau batuk
  • Mengubah posisi secara perlahan
  • Mengoleskan bantalan panas ke area yang sakit

2. Infeksi vagina

Dilansir dari Medical News Today, vagina mengandung ragi dan bakteri dalam keseimbangan tertentu.

Infeksi jamur vagina terjadi ketika ada pertumbuhan berlebih jamur di dalam vagina. Dalam kebanyakan kasus, terjadi pertumbuhan berlebih dari ragi yang disebut Candida albicans.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan pertumbuhan berlebih jamur di vagina, termasuk kehamilan. Perubahan hormon yang terjadi selama kehamilan dapat mengganggu tingkat pH normal vagina, menyebabkan jamur berkembang biak di luar kendali.

Wanita yang mengalami infeksi jamur vagina mungkin mengalami gejala berikut:

  • Gatal dan terbakar di vagina dan vulva
  • Gatal dan terbakar pada perineum atau anus
  • Keputihan berwarna putih kental yang biasanya tidak berbau dan menyerupai keju cottage
  • Nyeri saat buang air kecil
  • Nyeri saat berhubungan seks

Pengobatan

Obat antijamur adalah pengobatan yang biasa digunakan untuk mengatasi infeksi jamur vagina.

Wanita yang sedang hamil atau menyusui sebaiknya tidak minum obat antijamur oral. Namun, lebih aman mengoleskan krim antijamur topikal atau memasukkan supositoria antijamur ke dalam vagina.

3. Kekeringan vagina

Beberapa wanita melaporkan mengalami kekeringan vagina selama kehamilan. Kekeringan vagina dapat menyebabkan beberapa keluhan termasuk nyeri selangkangan.

Pengobatan

Pelembap vagina dapat membantu meringankan kekeringan vagina. Ini adalah obat topikal yang dapat diterapkan wanita ke bagian dalam vagina.

Pelumas seksual berbahan dasar air juga akan membantu meringankan kekeringan vagina selama aktivitas seksual. Namun, seorang wanita sebaiknya tidak menggunakan pelumas berbahan dasar estrogen selama kehamilan.

Jika kekeringan vagina tidak membaik dengan perawatan di rumah, seorang wanita harus berbicara dengan dokter atau bidannya untuk nasihat lebih lanjut.

Kapan harus ke dokter

Nyeri selangkangan adalah gejala umum yang dipercaya selama kehamilan, dan sering kali penyebabnya relatif jinak dan dapat diobati.

Meskipun demikian, seorang wanita harus menemui dokter untuk mengesampingkan kondisi medis yang lebih serius. Seorang dokter juga dapat memberikan perawatan untuk membantu mengatasi rasa sakit dan gejala terkait.

Siapa pun yang mengalami salah satu gejala berikut selama kehamilan harus menemui dokter sesegera mungkin:

  • Sakit parah
  • Nyeri yang memburuk
  • Sakit dan nyeri lainnya, seperti nyeri di perut bagian atas

Jika gejala berikut terjadi selama kehamilan, penting untuk segera menghubungi dokter atau pergi ke ruang gawat darurat terdekat:

  • Kontraksi yang menyakitkan sebelum minggu ke-37 kehamilan
  • Perdarahan dari vagina
  • Demam atau menggigil
  • Nyeri dada

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Puasa

Tenggorokan Sakit saat Puasa? Ini 4 Tips Mengatasinya!

Saat sedang berpuasa, sistem kekebalan tubuh melemah karena tidak mendapat asupan nutrisi seperti biasa. Kondisi ini kadang menimbulkan beberapa keluhan kesehatan misalnya tenggorokan terasa sakit.

Kondisi tersebut biasanya semakin rentan apabila kamu kurang minum di saat sahur dan berbuka.

Jangan biarkan hal ini terus berlangsung. Agar puasamu tetap optimal, kenali penyebab tenggorokan sakit saat puasa, dan solusi untuk mengatasinya.

Baca juga: Hati-Hati! Konsumsi Makanan Ini, Bisa Jadi Penyebab Amandel Bengkak

Penyebab radang tenggorokan saat puasa

Sakit tenggorokan biasanya ditandai oleh rasa nyeri, gatal atau iritasi pada tenggorokan yang seringkali memburuk saat kamu menelan.

Penyebab paling umum dari radang tenggorokan (faringitis) adalah infeksi virus, seperti pilek atau flu. Virus ini menjadi semakin mudah menyerang ketika daya tahan tubuh melemah di saat berpuasa.

Meski jarang terjadi, tapi sakit tenggorokan juga bisa disebabkan oleh bakteri. Ini bisa bersumber dari makanan atau lingkungan yang kurang terjaga kebersihannya.

Terakhir, saat berpuasa udara kering dapat menyedot kelembapan dari mulut dan tenggorokan, serta membuatnya terasa kering dan gatal. Hal ini juga rentan menjadi pemicu sakit tenggorokan di bulan Ramadan.

Cara mengobati sakit tenggorokan

Berikut adalah beberapa tips yang dapat kamu coba untuk mengatasi tenggorokan sakit saat sedang berpuasa:

1. Berkumur dengan air garam

Cara pertama dan paling hemat biaya untuk meredakan sakit tenggorokan adalah dengan berkumur dengan air hangat dan garam.

Kamu hanya perlu menuang sekitar satu sendok makan garam ke dalam 240 ml air hangat lalu mengaduknya sampai larut. Kemudian, minum beberapa teguk, miringkan kepala ke belakang, dan berkumurlah.

Pastikan untuk tidak menelan. Sebaliknya, keluarkan dan ulangi. Lakukan cara ini ketika kamu habis sahur atau berbuka. Dengan begitu kamu tak perlu khawatir puasa menjadi batal karenanya.

2. Menggunakan pengobatan herbal

Dilansir dari Healthline, beberapa pengobatan herbal dapat membantu mengatasi tenggorokan yang terasa sakit. Carilah obat sakit tenggorokan berbahan akar licorice atau bunga honeysuckle untuk meredakan nyeri yang kamu rasakan.

Namun, sebelum menggunakan pengobatan herbal, pastikan kamu telah mengatuhi hal-hal berikut ini:

  • Efek samping
  • Alergi
  • Interaksi dengan obat lain
  • Interaksi dengan suplemen herbal lainnya

Jika kamu tidak yakin apa yang dapat kamu konsumsi dengan aman, tanyakan kepada dokter. Terutama jika kamu sedang hamil atau merasa mungkin hamil. Beberapa pengobatan herbal tidak aman digunakan selama kehamilan.

3. Buat ramuan madu

Dilansir dari Healthline, madu yang dicampur dalam teh atau diminum sendiri adalah obat alami yang umum untuk sakit tenggorokan.

Satu studi bahkan menemukan bahwa madu bahkan lebih efektif dalam menjinakkan batuk malam hari daripada obat penekan batuk biasa.

Penelitian lain menunjukkan bahwa madu adalah penyembuh luka yang efektif, yang berarti dapat membantu mempercepat penyembuhan sakit tenggorokan.

4. Gunakan obat-obatan yang dijual bebas

Apabila pengobatan di atas tidak bekerja, kamu bisa minum obat untuk meredakan sakit tenggorokan. Obat bebas yang meredakan sakit tenggorokan meliputi:

  1. Asetaminofen
  2. Ibuprofen
  3. Aspirin

Jangan berikan aspirin kepada anak-anak dan remaja, karena dapat menyebabkan kondisi langka namun serius yang disebut sindrom Reye. Kamu juga dapat menggunakan satu atau lebih perawatan berikut, yang bekerja langsung pada rasa sakit di tenggorokan:

  1. Semprotan sakit tenggorokan yang mengandung antiseptik mati rasa seperti fenol, atau bahan pendingin seperti mentol atau kayu putih
  2. Pelega tenggorokan
  3. Obat batuk

Mencegah sakit tenggorokan di bulan Ramadan

Berikut adalah beberapa cara untuk menghindari rasa panas, gatal, dan terbakar di bagian belakang tenggorokan saat menjalani ibadah puasa.

  1. Jauhi orang yang sakit.
  2. Cuci tangan sesering mungkin.
  3. Jangan berbagi makanan, minuman, atau perkakas.
  4. Jauhkan tangan dari mata dan wajah.
  5. Saat berbuka maupun sahur, makan makanan yang sehat.
  6. Beristirahatlah yang banyak.
  7. Minum banyak cairan.

Kamu mungkin juga rentan mengalami masalah tenggorokan jika memiliki alergi atau penyakit gastroesophageal reflux (GERD). Mengobati GERD ini biasanya dapat menurunkan sakit tenggorokan yang kamu alami, jadi bicarakan dengan dokter, ya.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Kesehatan Anak

Penting Moms, Serba Serbi Vaksin untuk Cegah Pneumonia pada Anak-anak

Pneumonia adalah penyebab kematian anak-anak yang paling umum, terutama di negara-negara dengan kematian anak tertinggi.

Dilansir dari WHO, hampir 99,9 persen kematian akibat pneumonia pada anak, terjadi di negara berkembang dan kurang berkembang.

Untuk itu penting bagi Moms untuk mengenali penyakit ini, termasuk tentang vaksin apa saja yang bisa diberikan pada si Kecil untuk mencegah terjadinya pneumonia.

Baca juga: Mengenal Gejala Bronchopneumonia pada Anak dan Pengobatannya

Pneumonia pada anak-anak

Pneumonia adalah infeksi paru-paru di mana kantung udara di paru-paru atau alveoli, terisi dengan nanah dan cairan lainnya. Ini membuat oksigen sulit mencapai aliran darah dan mengakibatkan anak batuk, atau kesulitan bernapas.

Penyebab pneumonia pada anak

Gangguan kesehatan ini bisa disebabkan oleh virus dan bakteri. Anak-anak dengan pneumonia yang disebabkan oleh bakteri biasanya menjadi sakit cukup cepat, dimulai dengan demam tinggi yang tiba-tiba dan pernapasan yang sangat cepat.

Sementara anak-anak dengan pneumonia yang disebabkan oleh virus mungkin akan memiliki gejala yang muncul secara bertahap dan tidak terlalu parah, meskipun mengi bisa lebih umum.

Meskipun berbagai patogen dapat menyebabkan pneumonia. Namun dari bukti penelitian yang sejauh ini dilakukan, bakteri Haemophilus influenzae tipe b (Hib) dan Streptococcus pneumoniae (pneumococcus) adalah penyebab utama penyakit ini

WHO memperkirakan bahwa pada tahun 2000, kedua bakteri tersebut bersama-sama menyumbang lebih dari 50 persen kematian akibat pneumonia pada anak usia 1 bulan hingga 5 tahun.

Vaksin pneumonia untuk si Kecil

Terdapat beberapa vaksin yang telah terbukti efektif mencegah pneumonia pada anak-anak. Nama vaksin-vaksin tersebut adalah vaksin konjugasi pneumokokus (PCV13) dan vaksin polisakarida pneumokokus (PPSV23).

PCV13 mampu melindungi dari 13 jenis bakteri pneumokokus, yang menyebabkan infeksi pneumokokus paling umum pada anak-anak. Sedangkan PPSV23 efektif melindungi si Kecil dari 23 jenis bakteri penyebab pneumonia.

Kedua vaksin tersebut tak hanya dapat mencegah infeksi pneumonia, tapi juga membantu menghentikan penyebarannya kepada orang lain.

Kapan imunisasi PCV dan PPSV diberikan?

Dilansir dari Kids Health, bayi dapat memperoleh imunisasi PCV13 dalam rangkaian empat kali suntikan yang terdiri dari:

  1. Pemberian pertama saat usia 2 bulan
  2. Lalu selanjutnya pada usia 4 bulan, 6 bulan, dan 12–15 bulan

Beberapa anak yang lebih tua dari usia 2 juga mungkin memerlukan suntikan PCV13 jika mereka melewatkan satu atau lebih bidikan, terutama jika:

  1. Mereka memiliki kondisi kesehatan yang kronis (seperti penyakit jantung atau paru-paru).
  2. Mereka memiliki kondisi yang melemahkan sistem kekebalan (seperti asplenia, infeksi HIV, dll.).
  3. Seorang dokter dapat memutuskan kapan dan seberapa sering seorang anak harus mendapatkan PCV13.

Dokter juga merekomendasikan imunisasi PPSV23 untuk anak-anak berusia 2–18 tahun dengan beberapa jenis kondisi kesehatan kronis. Ini termasuk:

  1. Penyakit jantung, paru-paru, atau hati
  2. Diabetes
  3. Gagal ginjal
  4. Sistem kekebalan yang lemah (seperti dari kanker atau infeksi HIV)
  5. Implan koklea

Baca juga: Catat, Ini 10 Cara Mengatasi Speech Delay pada Anak di Rumah

Mengapa vaksin PCV dan PPSV direkomendasikan?

Anak-anak di bawah usia 2 tahun termasuk kelompok yang berisiko tinggi terkena infeksi pneumokokus serius.

Oleh sebab itu, vaksin ini sangat efektif untuk mencegah si Kecil terkena gejala pneumonia yang parah, rawat inap, bahkan kematian.

Apa kemungkinan efek samping dari vaksin PCV dan PPSV?

Anak-anak akan mungkin mengalami kemerahan, nyeri tekan, atau bengkak di tempat suntikan diberikan. Seorang anak juga mungkin mengalami demam setelah disuntik.

Penting untuk dicatat bahwa vaksin ini tidak dianjurkan jika anak:

  1. Sedang sakit. Tetapi flu biasa atau penyakit ringan lainnya seharusnya tidak mencegah imunisasi.
  2. Memiliki reaksi alergi yang serius terhadap dosis sebelumnya dari vaksin pneumokokus atau vaksin DTaP

Perawatan setelah imunisasi PCV dan PPSV

Vaksin ini dapat menyebabkan demam ringan dan nyeri atau kemerahan di area suntikan. Periksakan si Kecil dengan dokter untuk mengetahui apakah ia perlu diberikan obat pereda nyeri atau demam dengan dosis yang tepat.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Diet dan Nutrisi

Mitos atau Fakta? Sering Makan Mi Instan Menyebabkan Sakit Tifus

Mi instan adalah makanan praktis yang populer dimakan di seluruh dunia. Meskipun murah dan mudah disiapkan, tapi ada banyak kontroversi mengenai apakah makanan ini bisa menyebabkan penyakit atau tidak?

Salah satu yang paling terkenal adalah anggapan bahwa mengonsumsi mi instan terlalu sering bisa menyebabkan sakit tifus. Apakah hal tersebut benar?

Baca juga: Catat 6 Alasan Mengapa Kamu Tidak Boleh Sering-Sering Makan Mi Instan

Komponen utama mi instan

Mi instan adalah sejenis mi yang sudah dimasak sebelumnya, dan biasanya dijual dalam kemasan satuan.

Komponen utama makanan ini adalah mi yang terbuat dari tepung, garam dan minyak sawit. Selain itu biasanya ada juga paket penyedap yang mengandung garam, bumbu dan monosodium glutamat (MSG).

Dampak konsumsi mi instan terhadap kesehatan

Beberapa penelitian telah mengemukakan bahwa konsumsi mi instan terlalu sering dapat dikaitkan dengan pola makanan yang buruk secara keseluruhan.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di NCBI, menyebutkan bahwa mengonsumsi makanan ini terlalu sering terbukti memiliki kaitan erat dengan risiko pengembangan sindrom metabolik pada anak muda.

Ini merupakan sekelompok gejala yang mengarah pada beberapa penyakit seperti gangguan jantung, tekanan darah tinggi, obesitas, stroke, dan semacamnya.

Selain itu, asupan mi instan juga dihubungkan dengan penurunan kadar vitamin D. Itu juga dikaitkan dengan gaya hidup yang tidak banyak bergerak dan asupan minuman yang mengandung pemanis buatan.

Apakah makan mi instan bisa menyebabkan tifus?

Sejauh ini tidak ada penelitian yang menyebutkan bahwa mengonsumsi mi instan terlalu sering dapat menyebabkan penyakit tifus.

Pada dasarnya penyakit tifus adalah gangguan kesehatan yang disebabkan oleh bakteri Salmonella Typhii. Jadi bisa dikatakan tidak ada kaitan antara mi instan dengan penyakit tersebut.

Akan tetapi mengingat bakteri penyebab tifus dapat membuat sistem kekebalan tubuh penderitanya melemah, maka mi instan sudah sepatutnya dihindari saat menderita penyakit ini dengan alasan:

1. Mi instan memiliki kandungan gizi yang rendah

Dilansir dari Healthline, mi instan cenderung mengandung sedikit kalori, serat, dan protein. Makanan ini juga memiliki jumlah lemak, karbohidrat, dan natrium yang cukup tinggi.

Sebuah studi menunjukkan bahwa satu kemasan saji mi instan umumnya mengandung 7 gram lemak, dan hanya memiliki 4 gram protein serta 0,9 gram serat.

Mengonsumsinya di saat kamu terkena tifus, tidak hanya akan gagal memenuhi kebutuhan nutrisi yang diperlukan tubuh. Tapi juga bisa membuat saluran pencernaan mengalami gangguan karena sedikitnya serat yang dapat diserap oleh tubuh.

2. Menghindari efek buruk MSG

Meski Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan Amerika Serikat (FDA), telah mengategorikan MSG sebagai zat aditif yang aman. Akan tetapi MSG tetap perlu dicantumkan dalam label makanan karena efek berbahayanya yang masih kontroversial.

Konsumsi MSG yang berlebihan bisa menimbulkan beberapa reaksi pada tubuh seperti:

  1. Sakit kepala
  2. Otot terasa tegang
  3. Mati rasa
  4. Kesemutan

Di saat tubuh kamu masih diserang oleh bakteri penyebab penyakit tifus, kamu disarankan untuk tidak mengonsumsi mi instan karena dikhawatirkan akan mengalami beberapa gejala-gejala di atas.

Baca juga: Catat! Ini Ragam Alternatif Cara Membuat Mi Ayam Sehat

Bagaimana dengan mengonsumsi mi instan yang dilabeli sehat?

Saat ini ada berbagai produk mi instan yang dibuat dari bahan-bahan alami tanpa pengawet dan MSG. Umumnya mi seperti ini lebih baik dan aman dikonsumsi, karena tidak mengandung lemak jahat di dalamnya.

Akan tetapi kamu tetap dianjurkan untuk tidak mengonsumsinya secara berlebihan. Dilansir dari Straits Times, ahli diet Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, Seow Vi Vien menyarankan untuk membatasi asupan mi instan menjadi satu hingga dua kali seminggu.

Kamu juga bisa membuat mi instan jadi lebih menyehatkan, dengan memasak sayuran maupun protein hewani ke dalamnya.

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!