Categories
Puasa

Puasa Bikin Tubuh Rentan Terkena COVID-19? Penelitian Ungkap Fakta Sebaliknya!

Sebagian orang percaya bahwa selama berpuasa, tubuh akan rentan terhadap sejumlah infeksi, termasuk COVID-19. Puasa dianggap bisa menurunkan daya tahan tubuh karena tidak adanya asupan makanan selama berjam-jam.

Lantas, benarkah orang yang berpuasa mengalami penurunan kekebalan hingga berisiko untuk terpapar virus Corona? Yuk, temukan jawabannya dengan ulasan berikut ini!

Penurunan kadar nutrisi saat berpuasa

Selama berpuasa, kamu tidak mendapat asupan makanan dan minuman sekitar 13 jam. Akibatnya, tubuh bisa mengalami penurunan kadar beberapa nutrisi penting. Ini tentu berbeda dengan kondisi di luar Ramadan, di mana kamu bisa setiap saat mengonsumsi makanan.

Menurut sebuah penelitian yang terbit di Journal of Nutrition Fasting and Health, orang yang sedang berpuasa memang sangat rentan mengalami penurunan kadar banyak nutrisi. Bahkan, penurunan itu bisa dibilang cukup signifikan jika dibandingkan dengan periode sebelum Ramadan.

Nutrisi yang dimaksud adalah berbagai vitamin, protein, serat, kalsium, magnesium, fosfor, zat besi, kalium, dan lain sebagainya. Tapi, bagi orang yang sehat, hal itu tidak akan menjadi masalah. Sebab, setelah berbuka, kamu bisa mendapatkan kembali nutrisi yang telah hilang.

Penurunan nutrisi tersebut yang menjadi kekhawatiran beberapa kalangan terhadap kekuatan atau daya tahan tubuh. Orang dengan sistem imun rendah sangat rentan terhadap berbagai infeksi, termasuk COVID-19.

Benarkah puasa bisa tingkatkan risiko terkena COVID-19?

Jawaban singkatnya adalah tidak. Puasa tidak meningkatkan risiko seseorang untuk terkena COVID-19. Bahkan, menurut World Health Organization (WHO), belum ada bukti ilmiah yang menyebutkan bahwa puasa dapat membuat seseorang rentan terpapar virus Corona.

Selama orang itu masih sehat, berpuasa adalah sesuatu yang tidak berbahaya, justru dapat memberi manfaat yang baik untuk tubuh. Puasa yang dimaksud di sini bukan hanya di saat bulan Ramadan, tapi pembatasan pola makan pada umumnya.

Jadi, selama tubuhmu masih bugar dan sehat, tak perlu khawatir untuk berpuasa. Meski begitu, kamu masih tetap harus mematuhi protokol kesehatan yang diberlakukan oleh pemerintah.

Baca juga: 5 Tips agar Tubuh Tetap Bertenaga meski Sedang Berpuasa Ramadan

Puasa bisa lindungi tubuh dari infeksi

Percaya atau tidak, ternyata berpuasa justru dapat melindungi tubuhmu dari risiko infeksi, lho. Penelitian yang terbit baru-baru ini menyebutkan, berpuasa Ramadan dapat mengubah beberapa mekanisme di dalam tubuh yang bisa meningkatkan imunitas.

Kesimpulan tersebut mematahkan argumen sebelumnya yang menyebutkan bahwa puasa dapat menurunkan sistem imun. Berpuasa minimal tiga hari dapat mengoptimalkan tubuh dalam produksi sel darah putih baru, yang juga berfungsi meremajakan sistem kekebalan.

Pola makan yang terbatas saat puasa memaksa tubuh untuk menggunakan simpanan lemak dan glukosa. Hal tersebut memacu pemecahan sel darah. Sel kemudian melakukan regenerasi hingga mampu mencapai kekuatan terbaiknya.

Sistem imun sendiri adalah komponen yang terdiri dari banyak molekul dan sel. Sel darah putih adalah salah satu bagian pembentuknya. Jika sel darah putih bekerja dengan baik, maka sistem imun juga lebih efektif dalam menjalankan tugasnya untuk melindungi tubuh.

Bagaimana sistem imun bekerja melawan infeksi?

Tubuh manusia secara alami mempunyai dua jenis sistem imun, yaitu sistem kekebalan bawaan dan sistem kekebalan adaptif. Keduanya saling bekerja sama setiap kali ada patogen, kuman, dan zat berbahaya yang masuk.

Sistem kekebalan bawaan bertugas memberi pertahanan dan melakukan perlawanan terhadap kuman dan zat berbahaya tersebut, termasuk yang berhasil menembus kulit atau sistem pencernaan.

Sedangkan sistem kekebalan adaptif, bertugas membuat antibodi yang sering dikenal dengan istilah ‘respons imun’. Sistem kekebalan adaptif terus beradaptasi, mempelajari struktur dari bakteri atau virus yang bisa berubah seiring berjalannya waktu.

Potensi penyebaran virus Corona di bulan Ramadan

Meski puasa terbukti bisa meningkatkan sistem imun, penyebaran virus Corona masih berpotensi terjadi di tengah bulan Ramadan. Bahkan, risiko penyebarannya mungkin bisa lebih tinggi dari hari-hari selain Ramadan.

Penyebaran tersebut bukan dari aktivitas puasa, tapi melalui kegiatan yang melibatkan banyak orang. Sebisa mungkin, hindari aktivitas yang berpotensi menciptakan kerumunan.

Dalam panduan yang dibuat, WHO memberikan rekomendasi untuk penyelenggaraan kegiatan yang melibatkan banyak orang di bulan Ramadan. Pertimbangkan untuk mengadakan acara jamuan buka bersama di luar ruangan (outdoor).

Jika tak memungkinkan, pastikan tempat atau ruangan punya cukup ventilasi. Persingkat durasi acara dan tetap jaga jarak antarpeserta.

Nah, itulah ulasan tentang puasa dan risiko infeksi virus Corona yang perlu kamu tahu. Agar tetap aman dalam berpuasa dan terhindar dari COVID-19, pastikan untuk selalu mematuhi protokol kesehatan di mana pun kamu berada, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Info Sehat

7 Penyebab Bangun Tidur Tenggorokan Sakit yang Jarang Disadari, Apa Saja?

Tak sedikit orang yang mengeluhkan rasa sakit di tenggorokannya setelah bangun tidur. Bangun tidur dengan keadaan tenggorokan sakit sebaiknya tidak disepelekan, karena bisa menjadi indikasi adanya kondisi tertentu.

Lantas, normalkah merasakan tenggorokan sakit saat bangun tidur? Apa saja penyebabnya? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Bangun tidur tenggorokan sakit, normal atau tidak?

Pada beberapa kasus, sakit tenggorokan setelah bangun tidur bisa dikatakan tidak berbahaya. Kondisi itu biasanya dapat diatasi hanya dengan minum air putih.

Namun, sakit tenggorokan di pagi hari juga dapat menandakan adanya kondisi tertentu yang membutuhkan bantuan medis. Penting untuk mendeteksi apakah rasa sakit tersebut berlangsung cukup lama dan terjadi berulang setiap hari atau tidak.

Penyebab sakit tenggorokan saat bangun tidur

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan sakit tenggorokan saat bangun tidur. Baik karena hal-hal yang terjadi selama tidur maupun indikasi dari adanya infeksi. Berikut tujuh penyebabnya yang perlu kamu tahu:

1. Mendengkur selama tidur

Ketika bangun tidur tenggorokan sakit, bisa jadi semalaman kamu mendengkur atau mengorok. Mendengkur bisa menyebabkan tenggorokan iritasi. Akibatnya, saat sudah terbangun, muncul rasa sakit di area tersebut.

Pada beberapa kasus, dengkuran keras saat tidur dapat mengindikasikan adanya gangguan serius, misalnya sleep apnea. Kondisi itu terjadi ketika napas berhenti sementara ketika sedang terlelap. Hal tersebut pada umumnya dipicu oleh penyempitan atau penyumbatan saluran udara.

2. Bernapas lewat mulut

Jika kamu terbiasa bernapas lewat mulut, itu bisa menjadi penyebab tenggorokan sakit. Pernapasan mulut disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah penyumbatan pada saluran hidung. Akibatnya, saat tidur, kamu secara tidak sadar bernapas melalui mulut.

Tidak hanya sakit tenggorokan, orang yang tidur sambil bernapas lewat mulut juga biasanya merasakan gatal di area sekitarnya, mulut kering, dan suara menjadi serak. Namun, sakit tenggorokan karena faktor ini bisa diredakan hanya dengan minum air putih.

3. Udara kamar yang kering

Kelembapan udara ternyata bisa menyebabkan sakit tenggorokan di pagi hari, lho. Udara di kamar yang kering dapat memengaruhi tenggorokan dan saluran hidung. Dua bagian tubuh tersebut bisa ikut mengering, memicu gatal-gatal, lalu memunculkan rasa sakit.

Udara di dalam ruangan biasanya menjadi lebih kering saat musim dingin atau penghujan. Menyalakan mesin pemanas ruangan juga dapat menurunkan tingkat kelembapan udara di dalam kamar.

4. Asam lambung naik

Sakit tenggorokan bisa disebabkan oleh penyakit gastroesophageal reflux atau yang lebih dikenal dengan GERD. Kondisi itu terjadi ketika cairan asam lambung mengalami peningkatan disertai melemahnya otot sfingter di bagian bawah esofagus atau kerongkongan.

Akibatnya, asam lambung naik ke dada hingga mencapai belakang tenggorokan. Asam lambung adalah cairan iritatif, dapat memunculkan rasa panas atau terbakar pada area yang dilewatinya. Selain menimbulkan rasa sakit, asam tersebut juga dapat merusak jaringan di sekitarnya.

GERD sering kali memburuk ketika tidur. Posisi tubuh yang datar saat berbaring memungkinkan asam lambung untuk menjangkau area kerongkongan dan tenggorokan.

5. Bangun tidur tenggorokan sakit karena dehidrasi

Dehidrasi dapat membuat tenggorokan kering dan gatal. Saat tidur, kamu berjam-jam tidak mendapat asupan cairan. Sehingga, sakit tenggorokan di pagi hari tak bisa dihindari.

Selain kurang minum air, dehidrasi bisa disebabkan oleh banyak hal, seperti mengonsumsi makanan asin sebelum tidur, tidur di ruangan yang panas, tidur di bawah enam jam, dan efek dari obat-obatan.

Baca juga: 7 Penyebab Batuk di Malam Hari yang Perlu Kamu Tahu

6. Reaksi alergi

Alergi bisa membuatmu bangun tidur dengan tenggorokan sakit. Alergi dapat menyebabkan postnasal drip, kondisi saat lendir mengalir dari hidung ke tenggorokan. Lendir itu lalu memicu rasa gatal, iritasi, hingga nyeri.

Tetesan lendir bisa meningkat saat kamu berada dalam posisi berbaring. Paparan alergen di malam hari dapat memperburuk keadaannya, berasal dari bulu di bantal, debu di kasur, dan serbuk sari dari tanaman atau pohon di dekat jendela yang terbuka.

7. Infeksi dan peradangan

Sakit tenggorokan bisa menjadi indikasi dari adanya infeksi, apalagi jika berlangsung cukup lama. Infeksi itu bisa berupa pembesaran amandel (tonsilitis), flu, atau peradangan pada tenggorokan itu sendiri.

Sakit tenggorokan akibat infeksi virus atau bakteri biasanya sampai membuat seseorang sulit bicara dan makan, muncul bercak putih di bagian belakang mulut, demam, hingga pembengkakan kelenjar getah bening.

Nah, itulah beberapa hal yang bisa menyebabkan tenggorokan sakit saat bangun tidur. Jika kondisinya tak kunjung membaik, jangan ragu untuk segera periksakan diri ke dokter, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Puasa

Waktu Minum Vitamin saat Puasa, Ketika Sahur atau Berbuka?

Selain memerhatikan menu santap sahur dan berbuka, beberapa orang kerap mengonsumsi suplemen vitamin agar tubuh tetap fit saat berpuasa. Namun, berbeda dengan hari-hari selain Ramadan, waktu minum vitamin saat puasa harus diperhatikan.

Lantas kapan waktu yang tepat untuk mengonsumsi suplemen vitamin saat berpuasa, pada waktu sahur atau berbuka? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Perlukah minum vitamin saat puasa?

Mengutip dari NHS UK, sebenarnya orang yang sehat tak perlu mengonsumsi suplemen vitamin. Asupannya sudah tercukupi dari makanan yang dikonsumsi sehari-hari.

Lain lagi saat berpuasa, beberapa kalangan menganggap suplemen vitamin sebaiknya dikonsumsi secara rutin. Menurut sebuah penelitian yang terbit di Journal of Nutrition Fasting and Health, orang yang sedang berpuasa sangat rentan mengalami penurunan kadar banyak nutrisi.

Bahkan, penurunan itu bisa dibilang cukup signifikan jika dibandingkan dengan periode sebelum Ramadan. Nutrisi yang dimaksud adalah berbagai vitamin, protein, serat, kalsium, magnesium, fosfor, zat besi, kalium, dan lain sebagainya.

Meski, penurunan kadar nutrisi tersebut tidak terkait dengan risiko kesehatan tertentu. Untuk menjaga keseimbangannya di dalam tubuh, suplemen vitamin bisa dikonsumsi saat sahur atau berbuka.

Baca juga: Wajib Tahu! Ini Kebutuhan Kalori saat Berpuasa dan Cara Pemenuhannya

Waktu minum vitamin saat puasa

Dengan adanya perubahan pola makan, waktu minum vitamin saat puasa juga akan ikut terdampak. Waktu minum vitamin saat puasa ditentukan oleh jenis vitamin itu sendiri, apakah cocok dikonsumsi saat sahur atau berbuka.

Vitamin yang larut pada lemak

Beberapa vitamin bekerja jika ada lemak yang berasal dari makanan. Vitamin itu akan dilarutkan oleh lemak agar bisa dibawa ke aliran darah dan melakukan fungsi pentingnya. Vitamin A, D, E, dan K merupakan jenis vitamin yang masuk dalam golongan ini.

Dengan begitu, waktu minum vitamin saat puasa yang tepat adalah ketika perut sudah terisi makanan yang mengandung lemak. Kamu bisa mengonsumsinya setelah sahur atau berbuka, asalkan menu yang dikonsumsi mengandung lemak sehat.

Meski, di hari-hari biasa selain Ramadan, vitamin ini lebih cocok diminum di malam hari ketika sudah ada sejumlah lemak dari makanan yang disantap seharian.

Vitamin yang larut pada air

Beberapa jenis vitamin bisa diserap oleh tubuh setelah dilarutkan di dalam air, seperti vitamin B dan C. Berbeda dengan poin pertama, waktu minum yang tepat untuk vitamin tersebut adalah ketika perut sedang kosong.

Di luar Ramadan, kamu bisa mengonsumsinya 30 menit sebelum sarapan. Namun, saat puasa, kamu bisa meminumnya sebelum menyantap menu sahur. Vitamin ini juga bisa dikonsumsi setelah berbuka, tapi kamu harus menunggu dua jam lebih dulu sesudah menyantap hidangan utama.

Sebab, menurut Healthline, tubuh membutuhkan waktu selama minimal dua jam untuk memproses dan memindahkan makanan dari lambung ke usus.

Setelah dua jam, lambung dalam kondisi kosong. Pada waktu inilah kamu bisa mengonsumsi vitamin B dan C.

Baca juga: 5 Tips agar Tubuh Tetap Bertenaga meski Sedang Berpuasa Ramadan

Jenis-jenis vitamin dan manfaatnya

Sebelum memilih suplemen vitamin, kamu harus mengetahui masing-masing fungsi dan manfaatnya untuk tubuh, yaitu:

  • Vitamin A: Menjaga kesehatan mata
  • Vitamin B: Mendukung pembentukan enzim, sel, hormon, formasi sel darah merah, dan DNA, mengoptimalkan proses metabolisme, serta mejaga kesehatan saraf
  • Vitamin C: Membantu produksi kolagen, penyembuhan luka, dan pembentukan tulang, memperkuat pembuluh darah, meningkatkan kekebalan tubuh, mengoptimalkan penyerapan zat besi, serta berfungsi sebagai antioksidan
  • Vitamin D: Menjaga kesehatan tulang, termasuk kepadatan dan kekuatannya
  • Vitamin E: Antioksidan alami, mencegah stres oksidatif, dan meminimalkan risiko peradangan
  • Vitamin K: Membantu proses pembekuan darah

Hal yang perlu diperhatikan saat minum vitamin

Suplemen vitamin dapat memberi manfaat secara keseluruhan untuk tubuh ketika sedang berpuasa. Namun, ada beberapa hal yang sebaiknya kamu perhatikan saat mengonsumsinya, yaitu:

  • Konsumsi suplemen vitamin sesuai dengan dosis yang dianjurkan untuk menghindari risiko overdosis
  • Beberapa jenis vitamin dapat menyebabkan efek samping
  • Waspadai kemungkinan adanya interaksi antara vitamin dengan obat resep yang kamu minum
  • Hindari konsumsi vitamin K dengan obat pengencer darah
  • Untuk ibu hamil, jangan pernah menggandakan dosis vitamin prenatal
  • Selalu perhatikan kemasan produk suplemen vitamin, apakah sudah mendapat izin edar dan jaminan keamanan

Nah, itulah ulasan tentang waktu minum vitamin saat puasa yang perlu kamu tahu. Meski diperbolehkan minum suplemen, sumber vitamin terbaik tetap berasal dari makanan yang kamu konsumsi sehari-hari. Jadi, perhatikan menu sahur dan berbuka yang kamu santap, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Kulit & Perawatan Tubuh

9 Penyebab Kelopak Mata Hitam yang Jarang Diketahui, Apa Saja?

Mata adalah salah satu bagian tubuh yang bisa memengaruhi penampilan. Perubahan warna menjadi gelap di area kelopak mungkin dapat menurunkan rasa percaya diri. Penting untuk mengetahui penyebab kelopak mata hitam agar kamu mudah mengatasinya.

Lantas, apa saja hal yang bisa membuat kelopak mata terlihat menjadi lebih gelap? Yuk, cari tahu jawabannya dengan ulasan berikut ini!

Baca juga: 5 Penyebab Benjolan di Kelopak Mata & Cara Mengatasinya

Penyebab kelopak mata hitam

Ada banyak hal yang bisa menjadi penyebab kelopak mata hitam. Mulai dari pola hidup tidak sehat, faktor genetik, hingga gejala dari gangguan di sekitar mata. Berikut sembilan penyebab penggelapan pada kelopak mata yang perlu kamu tahu:

1. Pola hidup dan faktor lingkungan

Menurut sebuah studi klinis, kelopak mata menghitam bisa disebabkan oleh pola hidup yang tidak sehat. Mulai dari kualitas tidur yang buruk, tekanan pikiran, penyalahgunaan alkohol, hingga kebiasaan merokok. Paparan atau radiasi ultraviolet juga dipercaya bisa memicu kondisi serupa.

2. Faktor kehamilan

Selama kehamilan, wanita lebih mungkin untuk mengalami perubahan warna pada kulit di beberapa bagian tubuh, termasuk kelopak mata. Melasma adalah kondisi yang paling umum, yaitu keadaan saat kulit mengalami hiperpigmentasi menjadi cokelat atau abu-abu.

Bercak akan muncul di kelopak, menyebabkan area tersebut tampak lebih gelap. Terjadi peningkatan melanin, zat pigmen yang diproduksi sel kulit. Beberapa kalangan berpendapat bahwa melasma mungkin muncul selama kehamilan karena perubahan kadar hormonal.

3. Faktor genetik

Menurut sebuah penelitian yang terbit di Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology, faktor genetik bisa menjadi penyebab kelopak mata hitam. Kondisinya mungkin memengaruhi beberapa anggota dalam satu keluarga.

Kelopak mata biasanya sudah mengalami perubahan warna menjadi gelap saat masa kanak-kanak, dan berlanjut makin menghitam seiring bertambahnya usia. Keadaan tersebut terkadang bisa memburuk ketika sedang stres.

4. Efek peradangan

Peradangan bisa menjadi penyebab kelopak mata hitam. Eksim kronis dan reaksi alergi misalnya, dapat memicu terjadinya hiperpigmentasi hingga membuat area di sekitar mata menjadi lebih gelap.

Kondisi itu mungkin bisa bertambah buruk ketika kamu mencoba menggosok dan menggaruknya. Di waktu yang sama, penumpukan cairan akibat reaksi alergi juga bisa semakin membuat kelopak mata menghitam.

5. Melanositosis dermal

Melanosit merupakan sel pada kulit yang bisa memproduksi melanin, yaitu zat pigmen pemberi warna. Orang dengan kondisi melanositosis dermal mungkin mengalami peningkatan kadar melanosit di lapisan kulit bernama dermis, hingga akhirnya kelopak menjadi tampak lebih gelap.

Secara umum, seseorang dengan melanositosis dermal mempunyai bercak abu-abu atau kebiruan di kelopak. Keadaan itu bisa disebabkan oleh faktor bawaan atau pemicu lain seperti paparan sinar matahari, perubahan hormonal saat hamil, dan eksim kronis.

6. Faktor pembuluh darah

Penipisan kulit dan adanya pembuluh darah di sekitar organ penglihatan bisa menjadi penyebab kelopak mata menghitam. Kondisi itu disebut dengan peningkatan vaskularisasi.

Dokter mungkin akan melakukan pemeriksaan dengan meregangkan kulit kelopak secara manual, melihat apakah ada peningkatan jumlah pembuluh darah. Jika pemicunya adalah hal tersebut, maka warna kulit tidak akan pudar atau memucat saat kulit diregangkan.

7. Efek samping obat

Beberapa obat ternyata bisa menjadi penyebab kelopak mata hitam, lho. Dikutip dari Medical News Today, penggelapan kelopak dapat terjadi akibat efek samping dari prostaglandin analog (latanoprost dan bimatoprost), obat yang biasa dipakai untuk mengatasi glaukoma.

Obat tersebut bisa menyebabkan perubahan warna kelopak menjadi lebih gelap setelah tiga hingga enam bulan pemakaian. Tak perlu khawatir, kondisinya akan berangsur membaik saat kamu berhenti menggunakannya.

8. Faktor usia

Kelopak mata gelap bisa disebabkan oleh faktor usia. Seiring bertambahnya umur, seseorang dapat memiliki palung air mata (tear troughs), yaitu cekungan di area bawah mata dekat hidung. Tear troughs bisa muncul akibat hilangnya lemak dan penipisan kulit di area itu.

Baca juga: Mengenal 10 Penyakit pada Mata, Katarak hingga Degenerasi Makula

9. Bengkak di sekitar mata

Pembengkakan bisa menjadi penyebab kelopak mata hitam. Dikutip dari WebMD, pembengkakan kelopak atau area di sekitarnya dapat dipicu oleh beberapa hal, seperti:

  • Alergi
  • Peradangan (blefaritis)
  • Konjungtivitis
  • Herpes zoster
  • Penyumbatan kelenjar minyak (chalazion)
  • Bintitan
  • Infeksi di sekitar rongga mata (selulitis orbital)
  • Gangguan tiroid

Nah, itulah sembilan penyebab kelopak mata hitam yang perlu kamu ketahui. Meski pada umumnya tidak membahayakan, penggelapan kelopak bisa memengaruhi penampilan. Jadi, tak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan solusi yang tepat, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Info Sehat

Jangan Diabaikan! Ini 6 Penyebab Otot Mengecil dan Cara Mengatasinya

Otot mengecil adalah salah satu gejala dari atrofi, yaitu kondisi ketika otot berhenti berkembang dan mengalami penyusutan dan penurunan massa. Keadaan tersebut tak hanya bisa terjadi pada orang lanjut usia (lansia), tapi juga orang yang masih dalam usia produktif.

Lantas, apa saja hal yang bisa menjadi penyebab atrofi otot? Bagaimana cara mengatasinya? Yuk, temukan jawabannya dengan ulasan berikut ini!

Penyebab otot mengecil

Ada banyak faktor yang bisa membuat otot mengecil. Mulai dari jarang beraktivitas, kekurangan nutrisi, hingga indikasi dari suatu gangguan kesehatan atau penyakit.

Berikut beberapa hal yang bisa menyebabkan otot mengecil:

1. Kekurangan gizi

Nutrisi yang tidak seimbang bisa menjadi penyebab atrofi otot. Rendahnya asupan protein misalnya, dapat menyebabkan penurunan massa otot.

Pada beberapa kasus, atrofi yang disebabkan oleh malnutrisi dapat diperparah oleh beberapa penyakit seperti celiac dan kanker.

2. Jarang bergerak

Percaya atau tidak, ternyata jarang bergerak dalam waktu yang cukup lama bisa membuat otot mengecil, lho. Dikutip dari Medical News Today, istirahat di tempat tidur karena cedera jangka panjang atau perawatan penyakit tertentu bisa membuat penurunan massa otot.

Menurut penelitian, pengecilan otot bisa terjadi dalam 10 hari pada orang dewasa yang tidak beraktivitas sama sekali. Penurunan kekuatan otot akan terjadi dalam waktu yang sama, biasanya pada pekan pertama.

3. Faktor usia

Seiring bertambahnya usia, beberapa organ dan bagian tubuh akan mengalami penurunan fungsi, salah satunya adalah otot. Ditambah lagi, saat memasuki periode lansia, tubuh akan lebih sulit untuk mengolah dan menyerap protein yang sebenarnya bisa mendorong pertumbuhan otot.

Penurunan kemampuan tubuh dalam memproses protein itu lalu menyebabkan otot menyusut, hingga mengakibatkan kondisi yang disebut sarcopenia.

Menurut data Food and Drug Administration (FDA), sarcopenia sendiri telah memengaruhi kehidupan sepertiga lansia di seluruh dunia.

Baca juga: Daftar Penyakit Degeneratif pada Lansia: Mulai dari Diabetes hingga Osteoporosis

4. Faktor genetik

Atrofi otot tulang belakang adalah kelainan genetik yang menyebabkan hilangnya sel saraf motorik hingga membuat otot mengecil. Salah satu pemicunya adalah kelainan pada kromosom 5 yang mengalami gangguan mutasi. Gejala awal biasanya berupa otot yang semakin melemah.

5. Penyakit serius

Otot mengecil bisa menjadi tanda atau komplikasi dari gangguan kesehatan serius. Penyakit itu di antaranya adalah amyotrophic lateral sklerosis, radang sendi atau arthritis, polio, hingga myositis atau peradangan pada otot itu sendiri.

6. Masalah neurologis

Cedera karena kondisi tertentu dapat merusak saraf yang mengontrol otot, mengakibatkan keadaan yang disebut atrofi otot neurogenik. Saat kondisi itu terjadi, otot berhenti berkontraksi karena tidak bisa lagi menerima rangsangan dari saraf.

Bagaimana cara mengatasinya?

Jika dibiarkan, otot mengecil yang tidak ditangani bisa melemahkan tubuh dan menghambat pergerakannya. Sehingga, kamu mungkin akan lebih sulit dalam beraktivitas. Berikut beberapa cara untuk mengatasi otot mengecil:

Olahraga

Beberapa jenis olahraga bisa bermanfaat untuk membangun kekuatan otot. Tak hanya kekuatannya, latihan tertentu juga dapat menjaga massa otot dan meminimalkan risiko penurunan fungsinya.

Baca juga: Latihan Kardio vs Angkat Beban, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Terapi ultrasound

Terapi ultrasound adalah salah satu perawatan yang relatif masih baru, bisa membantu mengatasi pengecilan otot. Pancaran gelombang suara berfrekuensi tinggi akan diarahkan ke area tertentu di tubuh. Tujuannya, merangsang otot agar bisa berkontraksi.

Menjaga asupan nutrisi

Asupan nutrisi yang seimbang bisa membantu tubuh menjaga dan mempertahankan otot. Makanan dengan kandungan kalori dan protein misalnya, dapat membantu mendorong perkembangan dan pertumbuhan massa otot.

Terapi fisik

Terapi fisik mungkin melibatkan beberapa teknik untuk mengatasi dan mencegah pengecilan otot. Tanyakan pada terapis untuk menentukan jenis terapi atau latihan yang cocok. Biasanya, terapi ini bisa dilakukan meski seseorang sudah tidak dapat menggerakkan tubuh bagian tertentu.

Prosedur bedah

Jika semua cara di atas sudah dilakukan namun kurang efektif, dokter mungkin akan menyarankan untuk menempuh prosedur medis seperti operasi.

Biasanya, prosedur bedah dilakukan untuk meningkatkan fungsi otot pada pengidap atrofi yang disebabkan oleh kondisi neurologis, cedera, dan malnutrisi.

Nah, itulah beberapa penyebab otot mengecil yang perlu kamu tahu. Jika sudah merasakan penurunan kekuatan pada otot, jangan ragu untuk segera periksakan diri ke dokter, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Kesehatan Anak

Mengenal Murmur Jantung pada Bayi: Ketahui Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

Ada satu gangguan pada jantung yang perlu diwaspadai, yaitu murmur. Bukan hanya orang dewasa, kondisi tersebut juga bisa terjadi pada bayi baru lahir. Murmur jantung pada bayi sebaiknya tak diabaikan, karena dapat mengindikasikan adanya masalah pada tubuh si Kecil.

Lantas, apa sebenarnya murmur jantung itu? Apa penyebab dan gejalanya? Apakah bisa membahayakan bayi? Yuk, temukan jawabannya dengan ulasan berikut ini!

Apa itu murmur jantung?

Murmur jantung adalah adalah suara tidak biasa yang berasal dari peredaran darah di dalam atau dekat jantung. Suara tersebut dapat terdengar melalui stetoskop. Murmur jantung bisa muncul saat lahir (bawaan) atau berkembang di kemudian hari.

Kondisi tersebut bisa menjadi hal yang tidak berbahaya, tapi terkadang juga dapat dikatakan sebagai sesuatu yang tidak normal. Pada kasus yang ringan, murmur jantung biasanya tak membutuhkan pengobatan.

Namun, jika kondisinya bertambah buruk, bisa jadi itu adalah indikasi dari gangguan pada jantung. Perawatan medis harus dilakukan untuk mencegah risiko bertambah parahnya keadaan.

Baca juga: 7 Jenis Penyakit Jantung pada Anak yang Harus Diwaspadai

Penyebab murmur jantung pada bayi

Dikutip dari Mayo Clinic, kebanyakan kasus murmur jantung pada bayi tidaklah berbahaya. Namun, sebaiknya tetap periksakan ke dokter untuk mengetahui kondisi yang lebih pasti.

Bayi dan anak-anak mempunyai dada yang kecil dan ramping, membuat jantung berada dekat dengan kulit. Sehingga, jarak dengan stetoskop juga tidak terlalu jauh. Efeknya, detak jantung dan peredaran darah bisa terdengar lebih jelas dan cepat.

Perlu diketahui, darah harus melewati dua jalur berbentuk seperti tikungan tajam saat mengalir melalui jantung. Aliran pada pembuluh darah tersebut dapat menimbulkan suara seperti berbisik. Semakin cepat darah mengalir, suara itu akan semakin terdengar jelas.

Pada beberapa kasus, murmur bisa berasal dari aliran darah yang tidak normal, misalnya karena penyempitan katup atau kebocoran dan adanya lubang di dinding jantung.

Menurut Stanford Children’s Health, murmur jantung pada bayi juga bisa dipicu oleh kelainan jantung dan beberapa faktor seperti infeksi, kadar sel darah merah rendah (anemia), hingga kelenjar tiroid yang terlalu aktif (hipertiroidisme).

Gejala murmur jantung pada bayi

Gejala murmur jantung pada bayi sering kali hampir tak berbeda dengan kondisi sakit lain pada umumnya, seperti:

  • Sesak napas atau napas lebih cepat
  • Berkeringat meski tidak sedang beraktivitas
  • Nyeri di bagian dada
  • Kulit berubah menjadi kebiruan, terutama pada bibir dan ujung jari
  • Pusing
  • Batuk-batuk
  • Pembengkakan (edema) pada tungkai bawah, pergelangan kaki, perut, organ hati, atau pembuluh darah di leher.

Pemeriksaan dan penanganan

Sebelum memberikan diagnosis, dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan. Pemeriksaan pertama untuk mendeteksi murmur jantung adalah dengan menggunakan stetoskop. Dengan alat itu, dokter bisa mendengar detak jantung dan aliran darah.

Namun, jika diperlukan tes lanjutan, ada beberapa pemeriksaan yang mungkin ditempuh, seperti:

  • Rontgen dada: Menggunakan sinar x-ray untuk mengetahui kondisi jantung dan paru-paru yang dicitrakan secara visual melalui gambar
  • Elektrokardiogram (EKG): Mengukur dan mengetahui aktivitas listrik di jantung
  • Ekakardiografi: Pemeriksaan menggunakan gelombang suara (ultrasound) untuk mengidentifikasi struktur dan fungsi jantung. Tes ini adalah yang paling efektif untuk menemukan murmur jantung.

Sedangkan untuk perawatannya, tergantung dari gejala dan kondisi kesehatan bayi, termasuk seberapa parah kondisinya. Sebagian besar kasus murmur jantung pada bayi bisa sembuh dengan sendirinya, sehingga tak membutuhkan perawatan khusus.

Namun, jika murmur jantung disebabkan oleh penyakit bawaan atau kelainan jantung, dokter mungkin akan melakukan prosedur medis seperti pembedahan. Obat-obatan juga akan diresepkan untuk proses penyembuhan dan meredakan gejala yang muncul.

Bisakah dicegah?

Sayangnya, murmur jantung tidak bisa dicegah. Namun, perlu Moms ingat bahwa kebanyakan kasus murmur jantung pada bayi adalah hal yang tidak serius, alias bisa sembuh seiring berjalannya waktu.

Meski begitu, ada baiknya tetap memeriksakan si Kecil ke dokter untuk memastikan kondisi pastinya. Sebab, bisa jadi murmur jantung menjadi indikasi dari adanya gangguan jantung.

Nah, itulah ulasan tentang murmur jantung pada bayi yang perlu Moms ketahui. Jika sudah ada satu atau lebih gejala yang dirasakan si Kecil, jangan ragu untuk memeriksakannya ke dokter, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan anak dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!