Categories
Info Sehat

7 Penyebab Bangun Tidur Tenggorokan Sakit yang Jarang Disadari, Apa Saja?

Tak sedikit orang yang mengeluhkan rasa sakit di tenggorokannya setelah bangun tidur. Bangun tidur dengan keadaan tenggorokan sakit sebaiknya tidak disepelekan, karena bisa menjadi indikasi adanya kondisi tertentu.

Lantas, normalkah merasakan tenggorokan sakit saat bangun tidur? Apa saja penyebabnya? Yuk, simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Bangun tidur tenggorokan sakit, normal atau tidak?

Pada beberapa kasus, sakit tenggorokan setelah bangun tidur bisa dikatakan tidak berbahaya. Kondisi itu biasanya dapat diatasi hanya dengan minum air putih.

Namun, sakit tenggorokan di pagi hari juga dapat menandakan adanya kondisi tertentu yang membutuhkan bantuan medis. Penting untuk mendeteksi apakah rasa sakit tersebut berlangsung cukup lama dan terjadi berulang setiap hari atau tidak.

Penyebab sakit tenggorokan saat bangun tidur

Ada banyak hal yang bisa menyebabkan sakit tenggorokan saat bangun tidur. Baik karena hal-hal yang terjadi selama tidur maupun indikasi dari adanya infeksi. Berikut tujuh penyebabnya yang perlu kamu tahu:

1. Mendengkur selama tidur

Ketika bangun tidur tenggorokan sakit, bisa jadi semalaman kamu mendengkur atau mengorok. Mendengkur bisa menyebabkan tenggorokan iritasi. Akibatnya, saat sudah terbangun, muncul rasa sakit di area tersebut.

Pada beberapa kasus, dengkuran keras saat tidur dapat mengindikasikan adanya gangguan serius, misalnya sleep apnea. Kondisi itu terjadi ketika napas berhenti sementara ketika sedang terlelap. Hal tersebut pada umumnya dipicu oleh penyempitan atau penyumbatan saluran udara.

2. Bernapas lewat mulut

Jika kamu terbiasa bernapas lewat mulut, itu bisa menjadi penyebab tenggorokan sakit. Pernapasan mulut disebabkan oleh banyak hal, salah satunya adalah penyumbatan pada saluran hidung. Akibatnya, saat tidur, kamu secara tidak sadar bernapas melalui mulut.

Tidak hanya sakit tenggorokan, orang yang tidur sambil bernapas lewat mulut juga biasanya merasakan gatal di area sekitarnya, mulut kering, dan suara menjadi serak. Namun, sakit tenggorokan karena faktor ini bisa diredakan hanya dengan minum air putih.

3. Udara kamar yang kering

Kelembapan udara ternyata bisa menyebabkan sakit tenggorokan di pagi hari, lho. Udara di kamar yang kering dapat memengaruhi tenggorokan dan saluran hidung. Dua bagian tubuh tersebut bisa ikut mengering, memicu gatal-gatal, lalu memunculkan rasa sakit.

Udara di dalam ruangan biasanya menjadi lebih kering saat musim dingin atau penghujan. Menyalakan mesin pemanas ruangan juga dapat menurunkan tingkat kelembapan udara di dalam kamar.

4. Asam lambung naik

Sakit tenggorokan bisa disebabkan oleh penyakit gastroesophageal reflux atau yang lebih dikenal dengan GERD. Kondisi itu terjadi ketika cairan asam lambung mengalami peningkatan disertai melemahnya otot sfingter di bagian bawah esofagus atau kerongkongan.

Akibatnya, asam lambung naik ke dada hingga mencapai belakang tenggorokan. Asam lambung adalah cairan iritatif, dapat memunculkan rasa panas atau terbakar pada area yang dilewatinya. Selain menimbulkan rasa sakit, asam tersebut juga dapat merusak jaringan di sekitarnya.

GERD sering kali memburuk ketika tidur. Posisi tubuh yang datar saat berbaring memungkinkan asam lambung untuk menjangkau area kerongkongan dan tenggorokan.

5. Bangun tidur tenggorokan sakit karena dehidrasi

Dehidrasi dapat membuat tenggorokan kering dan gatal. Saat tidur, kamu berjam-jam tidak mendapat asupan cairan. Sehingga, sakit tenggorokan di pagi hari tak bisa dihindari.

Selain kurang minum air, dehidrasi bisa disebabkan oleh banyak hal, seperti mengonsumsi makanan asin sebelum tidur, tidur di ruangan yang panas, tidur di bawah enam jam, dan efek dari obat-obatan.

Baca juga: 7 Penyebab Batuk di Malam Hari yang Perlu Kamu Tahu

6. Reaksi alergi

Alergi bisa membuatmu bangun tidur dengan tenggorokan sakit. Alergi dapat menyebabkan postnasal drip, kondisi saat lendir mengalir dari hidung ke tenggorokan. Lendir itu lalu memicu rasa gatal, iritasi, hingga nyeri.

Tetesan lendir bisa meningkat saat kamu berada dalam posisi berbaring. Paparan alergen di malam hari dapat memperburuk keadaannya, berasal dari bulu di bantal, debu di kasur, dan serbuk sari dari tanaman atau pohon di dekat jendela yang terbuka.

7. Infeksi dan peradangan

Sakit tenggorokan bisa menjadi indikasi dari adanya infeksi, apalagi jika berlangsung cukup lama. Infeksi itu bisa berupa pembesaran amandel (tonsilitis), flu, atau peradangan pada tenggorokan itu sendiri.

Sakit tenggorokan akibat infeksi virus atau bakteri biasanya sampai membuat seseorang sulit bicara dan makan, muncul bercak putih di bagian belakang mulut, demam, hingga pembengkakan kelenjar getah bening.

Nah, itulah beberapa hal yang bisa menyebabkan tenggorokan sakit saat bangun tidur. Jika kondisinya tak kunjung membaik, jangan ragu untuk segera periksakan diri ke dokter, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Info Sehat

Gusi Bengkak dan Bernanah? Jangan Panik, Ini Cara Mengatasinya

Gusi bengkak dan bernanah relatif umum terjadi. Kabar baiknya adalah, ada banyak hal yang dapat kamu lakukan di rumah untuk meringankan ketidaknyamanan yang kamu rasakan.

Meski begitu, ada juga yang bertahan sampai berminggu-minggu. Yuk, kenali lebih jauh tentang keluhan kesehatan tersebut dengan membaca ulasan berikut.

Baca juga: Bayi Diare Saat Tumbuh Gigi, Apakah Normal?

Penyebab gusi bengkak dan bernanah

Dilansir dari Healthline, berikut adalah beberapa hal yang bisa menjadi faktor penyebab gusi bengkak di sekitar satu gigi.

1. Radang gusi

Disebut juga dengan gingivitis, ini adalah penyebab paling umum dari pembengkakan gusi. Banyak orang tidak tahu bahwa mereka menderita radang gusi karena gejalanya bisa jadi sangat ringan.

Namun, jika tidak diobati, gangguan tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan kondisi yang jauh lebih serius yang disebut periodontitis dan kemungkinan kehilangan gigi.

Gingivitis paling sering disebabkan oleh kebersihan mulut yang buruk, yang memungkinkan penumpukan plak di garis gusi dan gigi.

Plak adalah lapisan yang terdiri dari bakteri dan partikel makanan yang mengendap di gigi dari waktu ke waktu. Jika plak tertinggal di gigi selama lebih dari beberapa hari, itu menjadi karang gigi.

2. Kehamilan

Gusi bengkak dan bernanah juga bisa terjadi selama kehamilan. Hormon yang dihasilkan tubuh selama kehamilan dapat meningkatkan aliran darah di gusi. Peningkatan ini dapat menyebabkan gusi jadi lebih mudah teriritasi, sehingga menyebabkan pembengkakan serta nanah.

Perubahan hormonal ini juga dapat menghalangi kemampuan tubuh untuk melawan bakteri yang biasanya menyebabkan infeksi gusi. Ini dapat meningkatkan kemungkinan masalah kesehatan gigi ini terjadi pada dirimu.

3. Infeksi

Infeksi yang disebabkan jamur dan virus berpotensi menyebabkan masalah gusi. Misalnya, jika kamu menderita herpes, hal itu dapat menyebabkan kondisi yang disebut gingivostomatitis herpes akut.

Ini sangat mungkin membuat gusi mengalami infeksi lalu membengkak dan juga bernanah. Sariawan, yang merupakan hasil dari pertumbuhan berlebih jamur alami di mulut, juga dapat menyebabkan masalah ini.

Langkah mengatasi gusi bengkak dan bernanah

Perawatan medis untuk gangguan ini bisa dimulai dengan melakukan pengobatan rumahan seperti:

  • Tenangkan gusi dengan menyikat dan membersihkan gigi dengan benang secara lembut, agar tidak menyebabkan iritasi.
  • Beli benang gigi, lalu bersihkan sela-sela gigi dari sisa makanan penyebab bakteri menumpuk.
  • Bilas mulut dengan larutan air asin untuk membersihkan mulut dari bakteri.
  • Minum banyak air. Air akan membantu merangsang produksi air liur, yang melemahkan bakteri penyebab penyakit di mulut.
  • Hindari bahan iritan, termasuk obat kumur yang kuat, alkohol, dan tembakau.
  • Tempelkan kompres hangat di wajah untuk mengurangi nyeri gusi. Kompres dingin dapat membantu mengurangi pembengkakan.

Pencegahan

Mengambil langkah untuk mencegah keluhan ini terjadi adalah bagian penting dari perawatan gigi apa pun. Tindakan ini di antaranya adalah:

  • Sikat secara teratur, setidaknya dua kali setiap hari atau setelah makan.
  • Bersihkan sela-sela gigi dengan benang secara teratur.
  • Gunakan produk oral yang lembut seperti pasta gigi dan obat kumur.
  • Hindari minuman manis, karena dapat menyebabkan penumpukan bakteri di mulut.
  • Sebaiknya hindari tembakau, termasuk merokok atau mengunyahnya.
  • Hindari alkohol dan obat kumur beralkohol, karena alkohol dapat mengeringkan dan mengiritasi gusi.
  • Hindari makanan tajam seperti keripik, biji-bijian, dan berondong jagung, yang dapat tersangkut di gigi dan menyebabkan nyeri.

Kapan harus ke dokter?

Meskipun pengobatan rumahan dapat membantu mengatasi gangguan gusi yang menjengkelkan ini untuk sementara waktu. Namun, itu bukanlah pengganti diagnosis dan pengobatan dari ahli kesehatan.

Kondisi yang mendasari terjadinya keluhan ini dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat. Siapa pun yang mengalami gusi bengkak dan bernanah, harus menemui dokter gigi untuk diagnosis dan perawatan lengkap.

Jika masalah ini tetap terjadi selama lebih dari seminggu, buatlah janji dengan dokter gigi untuk mendapatkan rekomendasi perawatan yang tepat.

Jangan lupa untuk untuk mengecek kondisi kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Caranya mudah, cukup download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Categories
Info Sehat

Apakah Kencing Berbusa Normal? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya!

Kencing berbusa seringkali merupakan hasil dari aliran urine yang terlalu cepat. Namun, terdapat berbagai kondisi medis lainnya juga bisa menjadi penyebab dari munculnya air urine berbusa.

Jika seseorang sering memerhatikan urine berbusa dan disertai dengan gejala lain, maka harus segera berbicara dengan dokter. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kencing berbusa, yuk, simak penjelasan berikut.

Baca juga: Ciri-Ciri Kekurangan Sel Darah Merah yang Tidak Boleh Diabaikan

Normalkah sering alami kencing berbusa?

Dilansir dari Women’s Health, kencing sebenarnya dapat memberi tahu banyak hal tentang kesehatan secara keseluruhan. Pada dasarnya, kencing berbusa terjadi ketika seseorang mengeluarkan banyak air seni sekaligus dengan sangat cepat atau kuat sehingga hal ini sangat normal dialami.

Kecepatan air urine dapat menyebabkan gelembung sementara di mana tampak seperti berbusa. Namun, apabila kencing berbusa sering terjadi atau memburuk seiring berjalannya waktu maka menandakan adanya penyakit tertentu. 

Apa saja penyebab kencing berbusa?

Beberapa kondisi medis juga dapat menyebabkan kencing tampak berbuih atau berbusa, antara lain sebagai berikut:

Dehidrasi

Ketika urine sangat gelap dan pekat, maka mungkin akan tampak berbusa. Urine yang berwarna gelap umumnya dikarenakan seseorang tidak cukup minum cairan bening, seperti air putih.

Perlu diketahui, air putih berguna untuk mengencerkan zat lain dalam urine. Karena itu, pastikan untuk cukup mendapatkan konsumsi air putih.

Penyakit ginjal

Salah satu fungsi penting ginjal adalah menyaring protein dalam darah. Protein ini menjalankan tugas penting dalam tubuh, seperti menjaga keseimbangan cairan. Jika seseorang mengalami kerusakan ginjal, maka protein dapat bocor dari ginjal ke dalam urine.

Hasilnya dikenal sebagai proteinuria, yang berarti protein dalam urine. Protein ekstra akan mengurangi tegangan permukaan urine sehingga menyebabkannya tampak berbusa atau mirip dengan efek sabun pada air. 

Proteinuria bisa menjadi tanda awal penyakit ginjal. Gejala yang mungkin dialami penderitanya, termasuk kulit gatal, mual dan muntah, sesak napas, pembengkakan, kelelahan yang tidak bisa dijelaskan, serta sering buang air kecil.

Diabetes

Diabetes dan penyebab gula darah tinggi lainnya juga bisa menyebabkan kencing berbusa. Seseorang dengan diabetes yang tidak terkontrol akan memiliki lebih banyak molekul glukosa darah di dalam tubuhnya. Perlu diketahui glukosa adalah molekul yang besar seperti protein.

Jika kadar glukosa darah terlalu tinggi, ginjal mungkin kesulitan menyaring molekul dengan benar. Akibatnya, ginjal membiarkan kelebihan glukosa dan protein keluar melalui urine. Selain kencing berbusa, penderita diabetes juga bisa mengalami gejala lain berupa:

  • Penglihatan menjadi kabur.
  • Perasaan haus yang konstan.
  • Sering ingin buang air kecil.
  • Kelaparan yang tidak bisa dijelaskan.

Infeksi kronis

Infeksi kronis, seperti hepatitis atau HIV juga dapat menyebabkan kelebihan protein dalam urine. Beberapa infeksi bisa langsung menyerang filter ginjal di mana akan mengakibatkan peradangan yang memengaruhi fungsi ginjal.

Jika kamu sedang berjuang melawan penyakit kronis dan urine terlihat berbusa, segera tanyakan pada dokter. Biasanya, dokter akan melakukan tes urine sederhana untuk memeriksa keberadaan protein dalam urine dan mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya. 

Bagaimana cara mengatasi urine yang berbusa?

Perawatan untuk kencing berbusa tergantung pada penyebab yang mendasarinya. Jika seseorang mengalami dehidrasi, maka harus minum lebih banyak cairan bening sampai urine berwarna kuning pucat atau hampir transparan.

Sementara untuk diabetes, dokter mungkin meresepkan obat oral atau suntikan insulin untuk mengurangi kadar glukosa darah. Tak hanya, mungkin perlu juga untuk memeriksa level gula darah secara teratur.

Dokter akan meresepkan obat untuk orang dengan penyakit ginjal awal. Beberapa perubahan gaya hidup juga direkomendasikan, seperti konsumsi makanan sehat rendah natrium, berolahraga secara teratur, dan tidak merokok. 

Apabila seseorang memiliki urine berbusa, maka harus mempertimbangkan penyebabnya terlebih dahulu. Namun, jika urine berbusa disertai dengan gejala lain atau sering muncul kembali maka segera temui dokter untuk evaluasi lebih lanjut.

Baca juga: Warna dan Tekstur Kotoran Telinga Kamu Menandakan Kondisi Kesehatan Tertentu Lho!

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Categories
Info Sehat

Jangan Diabaikan! Ini 6 Penyebab Otot Mengecil dan Cara Mengatasinya

Otot mengecil adalah salah satu gejala dari atrofi, yaitu kondisi ketika otot berhenti berkembang dan mengalami penyusutan dan penurunan massa. Keadaan tersebut tak hanya bisa terjadi pada orang lanjut usia (lansia), tapi juga orang yang masih dalam usia produktif.

Lantas, apa saja hal yang bisa menjadi penyebab atrofi otot? Bagaimana cara mengatasinya? Yuk, temukan jawabannya dengan ulasan berikut ini!

Penyebab otot mengecil

Ada banyak faktor yang bisa membuat otot mengecil. Mulai dari jarang beraktivitas, kekurangan nutrisi, hingga indikasi dari suatu gangguan kesehatan atau penyakit.

Berikut beberapa hal yang bisa menyebabkan otot mengecil:

1. Kekurangan gizi

Nutrisi yang tidak seimbang bisa menjadi penyebab atrofi otot. Rendahnya asupan protein misalnya, dapat menyebabkan penurunan massa otot.

Pada beberapa kasus, atrofi yang disebabkan oleh malnutrisi dapat diperparah oleh beberapa penyakit seperti celiac dan kanker.

2. Jarang bergerak

Percaya atau tidak, ternyata jarang bergerak dalam waktu yang cukup lama bisa membuat otot mengecil, lho. Dikutip dari Medical News Today, istirahat di tempat tidur karena cedera jangka panjang atau perawatan penyakit tertentu bisa membuat penurunan massa otot.

Menurut penelitian, pengecilan otot bisa terjadi dalam 10 hari pada orang dewasa yang tidak beraktivitas sama sekali. Penurunan kekuatan otot akan terjadi dalam waktu yang sama, biasanya pada pekan pertama.

3. Faktor usia

Seiring bertambahnya usia, beberapa organ dan bagian tubuh akan mengalami penurunan fungsi, salah satunya adalah otot. Ditambah lagi, saat memasuki periode lansia, tubuh akan lebih sulit untuk mengolah dan menyerap protein yang sebenarnya bisa mendorong pertumbuhan otot.

Penurunan kemampuan tubuh dalam memproses protein itu lalu menyebabkan otot menyusut, hingga mengakibatkan kondisi yang disebut sarcopenia.

Menurut data Food and Drug Administration (FDA), sarcopenia sendiri telah memengaruhi kehidupan sepertiga lansia di seluruh dunia.

Baca juga: Daftar Penyakit Degeneratif pada Lansia: Mulai dari Diabetes hingga Osteoporosis

4. Faktor genetik

Atrofi otot tulang belakang adalah kelainan genetik yang menyebabkan hilangnya sel saraf motorik hingga membuat otot mengecil. Salah satu pemicunya adalah kelainan pada kromosom 5 yang mengalami gangguan mutasi. Gejala awal biasanya berupa otot yang semakin melemah.

5. Penyakit serius

Otot mengecil bisa menjadi tanda atau komplikasi dari gangguan kesehatan serius. Penyakit itu di antaranya adalah amyotrophic lateral sklerosis, radang sendi atau arthritis, polio, hingga myositis atau peradangan pada otot itu sendiri.

6. Masalah neurologis

Cedera karena kondisi tertentu dapat merusak saraf yang mengontrol otot, mengakibatkan keadaan yang disebut atrofi otot neurogenik. Saat kondisi itu terjadi, otot berhenti berkontraksi karena tidak bisa lagi menerima rangsangan dari saraf.

Bagaimana cara mengatasinya?

Jika dibiarkan, otot mengecil yang tidak ditangani bisa melemahkan tubuh dan menghambat pergerakannya. Sehingga, kamu mungkin akan lebih sulit dalam beraktivitas. Berikut beberapa cara untuk mengatasi otot mengecil:

Olahraga

Beberapa jenis olahraga bisa bermanfaat untuk membangun kekuatan otot. Tak hanya kekuatannya, latihan tertentu juga dapat menjaga massa otot dan meminimalkan risiko penurunan fungsinya.

Baca juga: Latihan Kardio vs Angkat Beban, Mana yang Lebih Baik untuk Tubuh?

Terapi ultrasound

Terapi ultrasound adalah salah satu perawatan yang relatif masih baru, bisa membantu mengatasi pengecilan otot. Pancaran gelombang suara berfrekuensi tinggi akan diarahkan ke area tertentu di tubuh. Tujuannya, merangsang otot agar bisa berkontraksi.

Menjaga asupan nutrisi

Asupan nutrisi yang seimbang bisa membantu tubuh menjaga dan mempertahankan otot. Makanan dengan kandungan kalori dan protein misalnya, dapat membantu mendorong perkembangan dan pertumbuhan massa otot.

Terapi fisik

Terapi fisik mungkin melibatkan beberapa teknik untuk mengatasi dan mencegah pengecilan otot. Tanyakan pada terapis untuk menentukan jenis terapi atau latihan yang cocok. Biasanya, terapi ini bisa dilakukan meski seseorang sudah tidak dapat menggerakkan tubuh bagian tertentu.

Prosedur bedah

Jika semua cara di atas sudah dilakukan namun kurang efektif, dokter mungkin akan menyarankan untuk menempuh prosedur medis seperti operasi.

Biasanya, prosedur bedah dilakukan untuk meningkatkan fungsi otot pada pengidap atrofi yang disebabkan oleh kondisi neurologis, cedera, dan malnutrisi.

Nah, itulah beberapa penyebab otot mengecil yang perlu kamu tahu. Jika sudah merasakan penurunan kekuatan pada otot, jangan ragu untuk segera periksakan diri ke dokter, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Info Sehat

Sering Pusing setelah Tidur Siang? Bisa Jadi Ini Penyebabnya!

Beberapa orang mengalami pusing setelah tidur siang. Kondisi ini bisa terjadi karena berbagai faktor, mulai dari masalah kesehatan di pernapasan hingga kebiasaan tidur yang kurang baik.

Penyebab pusing setelah tidur siang

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kamu pusing setelah tidur siang. Orang dengan kelainan tidur misalnya, menurut National Sleep Foundation, 8 kali lebih sering mengalami sakit kepala dibandingkan dengan populasi umum.

Berikut ini adalah beberapa faktor yang dapat menyebabkan pusing saat bangun tidur siang:

Masalah pernapasan

Jika kamu termasuk orang yang mendengkur saat tidur, artinya kamu tergolong dalam orang yang mengalami masalah pernapasan.

Saat tidur, masalah pernapasan tidak hanya mengganggu kualitas, tapi juga meningkatkan risiko sakit kepala ketika kamu bangun nantinya.

Mendengkur juga bisa jadi salah satu tanda gangguan tidur seperti sleep apnea, yang dapat menimbulkan gejala sebagai berikut:

  • Jeda napas saat tidur
  • Terbangun saat malam hari
  • Keringat di malam hari
  • Mengantuk saat siang hari

Bruxism 

Bruxism atau kertak gigi terjadi tanpa kamu sadari. Jika hal ini terjadi saat kamu tidur, bisa jadi akan membuat kamu pusing saat bangun.

Kondisi ini pun bisa juga berkaitan dengan mendengkur dan sleep apnea. Jika sering terjadi, kertak gigi ini akan membuat otot mengencang sepanjang hari, juga pusing setelah kamu bangun dari tidur siang.

Pusing setelah tidur siang saat hamil

Kehamilan dapat menyebabkan letih, membuat kamu tidur siang lebih sering. Kamu kadang akan mengalami pusing saat bangun. Hal ini bisa terjadi karena dipicu oleh:

  • Dehidrasi
  • Gula darah rendah
  • Hidung tersumbat
  • Hormon

Oleh karena itu, pastikan kamu meminum banyak air putih dan meminimalisasi konsumsi kafein yang membuat kamu mudah dehidrasi. Jika sakit kepala yang kamu alami tidak kunjung hilang, maka konsultasikan hal itu pada dokter, ya!

Sleep hygiene

Sleep hygiene merupakan satu kebiasaan yang kamu lakukan sebelum tidur. Jika kebiasaan-kebiasaan yang kamu jalani tergolong buruk, maka hal ini bisa jadi satu faktor yang membuat kamu pusing setelah tidur siang.

Contohnya, ketika kamu menggunakan bantal yang tidak tepat, maka kepala dan leher dapat menjadi tidak nyaman ketika sedang tidur. Hal ini membuat otot menegang dan berujung pada sakit kepala.

Kebiasaan tidur yang buruk pun dapat membuat kamu insomnia di malam hari. Akibatnya, kamu akan mengantuk di siang hari dan bisa saja tidur siang dalam durasi yang lama dan bangun dengan kepala yang pusing.

Cara mengatasi pusing setelah tidur siang

Mengatasi sakit kepala yang timbul setelah tidur siang tergantung dari penyebabnya. Dengan memahami penyebabnya maka kamu dapat menentukan langkah penanganan yang tepat.

Pada bruxism, misalnya, kondisi ini bisa saja diatasi dengan terapi jika penyebabnya adalah cemas atau pelindung mulut sebagaimana yang dipakai oleh atlet saat bertanding olahraga berat.

Akan tetapi, jika penyebabnya adalah sleep apnea, salah satu langkah penanganannya adalah mengubah gaya hidup atau menggunakan perangkat yang dapat membantu kamu bernapas dengan baik saat tidur.

Penanganan non medis

Ada beberapa penanganan non medis yang dapat membantu kamu mengatasi pusing yang timbul setelah tidur siang. 

Salah satunya adalah mengganti bantal dan praktikkan sleep hygiene yang baik untuk meningkatkan kualitas tidur.

Beberapa cara meningkatkan kualitas tidur adalah sebagai berikut:

  • Kurangi konsumsi kafein
  • Olahraga secara rutin
  • Kurangi durasi tidur siang
  • Relaksasi sebelum tidur

Jika kamu mengalami sakit kepala setelah tidur siang di masa kehamilan, cobalah jaga tingkat hidrasi tubuh dan makan dengan teratur. Karena fluktuasi gula darah dapat menimbulkan sakit kepala dan letih. Jangan lupa untuk mencari udara segar jika kamu seharian di dalam ruangan.

Demikianlah berbagai penyebab dan cara mengatasi sakit kepala yang bisa timbul setelah tidur siang. Selalu jaga kondisi kesehatan dan kualitas tidur kamu, ya!

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Categories
Info Sehat

Pemasangan Pen untuk Patah Tulang, Adakah Risiko atau Efek Sampingnya?

Patah tulang adalah suatu kondisi yang harus mendapatkan penanganan dengan segera. Pemasangan pen tulang adalah salah satu prosedur yang dapat dilakukan untuk menangani patah tulang dalam kasus tertentu.

Sebagai tujuan dari pengobatan, penting agar tulang dapat kembali berfungsi dengan baik dalam posisi normalnya. Lalu, apa saja manfaat pemasangan pen tulang? Bagaimana prosedurnya? Serta adakah risiko dan efek samping yang dapat ditimbulkan?

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai prosedur pemasangan pen, simak ulasan lengkapnya di bawah ini.

Baca juga: Ciri-ciri Patah Tulang yang Wajib Kamu Ketahui, Apa Saja?

Mengenal pen tulang

Pemasangan pen. Sumber foto: https://orthoinfo.aaos.org/

Pen atau implan yang digunakan untuk menangani patah tulang adalah alat yang terbuat dari logam, biasanya dari stainless steel atau titanium. Pemasangan pen atau implan digunakan untuk menjaga posisi tulang yang patah agar tetap berada pada posisi normal.

Namun, jika prosedur yang dilakukan melibatkan penggantian sendi, implan juga dapat dibuat dari bahan lain, seperti kobalt atau krom. Implan aman digunakan oleh tubuh, sehingga jarang menimbulkan reaksi alergi.

Pemasangan pen tulang hanya dilakukan untuk menangani kasus patah tulang yang parah atau berlangsung serius yang mana tidak bisa ditangani dengan menggunakan gips atau belat.

Biasanya ini meliputi cedera tulang yang berpindah posisi, tidak stabil, atau patah tulang yang melibatkan sendi.

Dalam ortopedi, terdapat dua jenis implan, yakni bersifat permanen atau sementara. Pada implan permanen, ini akan dipertahankan dalam jangka panjang. Biasanya terdiri dari penggantian sendi pinggul, lutut, atau sendi lain.

Sementara itu, implan yang bersifat sementara akan diangkat setelah beberapa bulan atau tahun. Sebelum proses pengangkatan implan dilakukan, dokter akan memastikan bahwa tulang sudah benar-benar menyatu melalui pemeriksaan rontgen.

Manfaat pemasangan pen tulang

Pada kasus patah tulang, terdapat beberapa perawatan yang dapat dilakukan. Dokter akan menentukan pilihan perawatan yang tepat berdasarkan faktor tertentu, seperti tingkat keparahan dan lokasi patah tulang.

Pemasangan pen tulang dilakukan melalui prosedur operasi. Tulang yang patah harus distabilkan atau disangga hingga tulang cukup kuat untuk menahan beban dan gerakan tubuh.

Pemasangan pen tulang sendiri bertujuan untuk menstabilkan tulang yang retak atau membantu tulang sembuh dalam posisi yang tepat. Tak hanya itu, manfaat pemasangan pen atau implan lainnya dapat meliputi:

  • Menyambungkan kembali tulang yang patah
  • Mempertahankan stabilitas tulang dan sendi
  • Penggantian sendi yang mengalami kerusakan

Dikutip dari laman OrthoInfo, pemasangan pen juga memungkinkan rawat inap dalam jangka waktu yang lebih singkat, sehingga memungkinkan tulang berfungsi secara normal lebih awal.

Selain itu, prosedur ini juga dapat membantu mengurangi risiko nonunion (proses penyembuhan yang berhenti) serta malunion (penyatuan tulang dalam posisi yang tidak normal).

Baca juga: Jangan Panik, Begini Pengobatan Patah Tulang yang Benar

Prosedur pemasangan pen tulang

Sebelum prosedur dilakukan, ada beberapa tahapan yang perlu dilalui. Berikut adalah penjelasan masing-masing mengenai proses pemasangan pen tulang.

Pemeriksaan dokter

Dokter akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Pada saat pemeriksaan oleh dokter, beritahukan dokter mengenai riwayat kesehatan, operasi yang pernah dijalani sebelumnya, dan obat-obatan yang tengah dikonsumsi.

Tes pencitraan untuk melihat lokasi terjadinya patah tulang juga akan dilakukan, misalnya saja seperti pemeriksaan X-Ray, computerized tomography scan (CT Scan), magnetic resonance imaging (MRI) scan.

Sebelum operasi dilakukan, kamu akan diminta untuk berpuasa selama beberapa jam, terutama jika kamu akan menjalani operasi dengan anestesi umum.

Selama prosedur operasi

Sesaat sebelum operasi dilakukan, anestesi umum akan diberikan, sehingga nantinya pasien tidak akan merasakan sakit selama prosedur dilakukan. Kemudian, dokter bedah akan membuat sayatan dan mengembalikan tulang pada posisi normal.

Setelahnya, tulang akan disatukan dengan implan khusus seperti batang logam, sekrup, atau pelat yang berfungsi untuk menahan tulang. Jenis implan yang digunakan bergantung pada lokasi dan jenis fraktur.

Setelah pemasangan pen dilakukan, dokter akan menutup sayatan dengan jahitan atau staples. Kemudian, dokter akan membalut luka dengan kasa dan memasangkan gips atau belat pada area tulang yang terkena.

Untuk waktu proses pemulihannya sendiri, biasanya berlangsung 6-8 minggu. Namun, jangka waktu tersebut dapat bervariasi dan bergantung dari jenis fraktur dan lokasi terjadinya patah tulang.

Risiko dan efek samping pemasangan pen tulang

Pada dasarnya, risiko dari pemasangan pen tulang dapat dikatakan rendah dan jarang terjadi. Meskipun terdapat risiko, dikutip dari Healthline, risikonya dapat termasuk reaksi alergi terhadap anestesi, perdarahan, serta infeksi.

Namun, kamu bisa mengurangi risiko tersebut dengan selalu mengikuti instruksi yang diberikan oleh dokter sebelum dan setelah operasi dilakukan.

Sementara itu, efek samping yang seringkali dikeluhkan adalah rasa sakit dan ngilu di area tulang yang dipasangkan pen pada suhu udara yang dingin.

Itulah beberapa informasi mengenai pemasangan pen tulang. Untuk mengetahui informasi lainnya mengenai prosedur pemasangan pen, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter, ya!

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!