Categories
Kesehatan Mental

Depresi dan ingin Bunuh Diri Rentan Dialami Penyintas Stroke, Bagaimana Faktanya?

Bukan hanya pemulihan fisik saja yang penting diperhatikan bagi para penyintas stroke, melainkan juga kesehatan mental.

Sebuah studi melaporkan bahwa penyintas stroke rentan mengalami depresi dan melakukan percobaan bunuh diri. Bukan tanpa alasan, hal tersebut disebabkan oleh faktor tertentu.

Baca juga: Mengenal Psikoterapi Suportif, Berbicara sebagai Terapi untuk Mengutarakan Keresahan Hati

Mengenal stroke

Stoke adalah kondisi yang terjadi ketika suplai darah ke bagian otak terganggu atau berkurang, ini dapat menyebabkan jaringan otak tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi yang cukup.

Stroke adalah keadaan darurat medis, perawatan yang tepat dan dilakukan dengan segera sangat penting.

Sebab, perawatan dini dapat mengurangi kerusakan otak dan komplikasi akibat stroke lainnya. ada dua penyebab utama dari stroke, yakni penyumbatan pada arteri (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik).

Kondisi ini bisa menimbulkan beberapa gejala, di antaranya adalah:

  • Kesulitan berbicara
  • Kelumpuhan atau mati rasa pada wajah, lengan, atau bahkan kaki
  • Gangguan penglihatan
  • Sakit kepala
  • Gangguan keseimbangan atau koordinasi.

Baca juga: Mengenal Gejala Stroke Batang Otak

Studi yang dilakukan

Berdasarkan sebuah ulasan yang diterbitkan dalam jurnal American Heart Association (AHA), penyintas stroke rentan mencoba bunuh diri atau meninggal karena bunuh diri, dibandingkan mereka yang tidak pernah mengalami stroke.  

Mengenai ulasan yang diterbitkan tersebut, peneliti memeriksa data dari 23 studi yang diterbitkan sebelumnya dengan total lebih dari 2 juta penyintas stroke.

Peneliti menemukan bahwa sekitar 5.563 orang dalam penelitian tersebut melakukan percobaan bunuh diri atau meninggal akibat bunuh diri.

Jika dibandingkan dengan orang-orang yang tidak pernah mengalami stroke, penyintas stroke 2 kali lipat lebih rentan melakukan percobaan bunuh diri.

Apa penyebabnya?

Penulis utama dalam studi tersebut, yakni Manav Vyas, MBBS, menjelaskan bahwa penyintas stroke memiliki konsekuensi kesehatan fisik, kognitif, dan mental yang dapat membuat mereka rentan melakukan percobaan bunuh diri.

Beberapa bulan pertama setelah penyembuhan stroke merupakan fase paling krusial untuk memantau kesehatan mental penyintas stroke. Studi menemukan bahwa beberapa tahun setelah berlalunya stroke, risiko bunuh diri menurun hingga 3 persen.

Akan tetapi, studi tidak melakukan pembahasan lebih lanjut mengenai apa yang menyebabkan risiko bunuh diri meningkat setelah stroke atau penurunan risiko seiring berjalannya waktu.

Kemungkinannya adalah terdapat beberapa faktor berperan, termasuk tingkat keparahan atau riwayat kondisi mental sebelumnya.

Penyintas stroke juga rentan mengalami depresi

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Stroke menemukan bahwa sekitar 1 dari 3 penyintas stroke mengalami depresi. Bahkan, setelah 5 tahun penyembuhan stroke, lebih dari 1 dari 5 penyintas stroke mengalami depresi.

Studi lain yang diterbitkan di Journal of Neurology, Neurosurgery, and Psychiatry menemukan bahwa depresi adalah salah satu faktor pemicu terbesar dari percobaan bunuh diri pada penyintas stroke.

Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa hampir 1 dari 8 penyintas stroke berpikir bunuh diri.

Jika dibandingkan dengan penyintas stroke yang tidak pernah mengalami depresi, seseorang dengan riwayat depresi memiliki risiko hampir 7 kali lipat lebih tinggi. Stroke berulang, keterbatasan fisik atau kognitif yang lebih parah juga memiliki risiko lebih tinggi untuk berpikiran bunuh diri.

Terkait dengan hal ini, Vyas mengataskan, “Banyak penderita stroke mungkin tidak dapat mengkomunikasikan perasaan mereka karena kekurangan bahasa setelah stroke. Sehingga penting untuk mengevaluasi suasana hati mereka dan menyaring depresi dan pikiran untuk bunuh diri.”

Gejala depresi pascastroke

Penting diketahui bahwa stroke dapat memicu perubahan kimiawi di otak yang menghalangi kemampuan merasakan emosi positif dan memperkuat perasaan negatif. Pada penyintas stroke, terdapat beberapa gejala lain yang patut diperhatikan, di antaranya adalah:

  • Perasaan sedih atau khawatir yang terus menerus terjadi
  • Merasa putus asa atau tidak berdaya
  • Penurunan minat pada hobi atau aktivitas sebelumnya yang disukai
  • Kelelahan
  • Kesulitan dalam berkonsentrasi
  • Insomnia
  • Perubahan pada nafsu makan dan berat badan.

Bagaimana cara menanganinya?

Tekait dengan laporan tersebut, memerhatikan kesehatan mental pada penyintas stroke penting dilakukan.

Ada beberapa terapi yang dapat membantu membangun kembali keterampilan yang bisa dilakukan oleh penyintas stroke. Seperti terapi wicara untuk meningkatkan keterampilan komunikasi, terapi fisik yang ditujukan untuk membangun kembali koordinasi dan gerakan.

Tak hanya itu, terapi okupasi juga dapat membantu membangun kembali kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Apabila depresi tidak segera ditangani, ini dapat menyulitkan proses rehabilitasi bagi penyintas stroke.

Maka dari itu, pengobatan depresi juga penting untuk dilakukan. Selain itu, peran serta dukungan dari keluarga juga sangat dibutuhkan.

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Kesehatan Mental

Mengenal Psikoterapi Suportif, Berbicara sebagai Terapi untuk Mengutarakan Keresahan Hati

Mengungkapkan hal yang mengganjal bukan perkara mudah, terkadang orang tidak tahu harus mulai dari mana dan bagaimana menyampaikannya. Untuk mengatasi hal ini, dunia psikologi mengenal istilah psikoterapi suportif.

Baca juga: Biblioterapi: Konsep Konseling dengan Menggunakan Buku

Apa itu psikoterapi suportif?

Psikoterapi suportif merupakan terapi yang dasarnya adalah bicara. Terapi ini didesain untuk membuat orang dengan masalah kesehatan mental menyuarakan apa yang mengganggunya dan pada akhirnya pasien diberikan bantuan untuk mencari solusi masalah yang tepat.

Psikoterapi suportif ini merupakan beragam upaya untuk membantu pasien menghadapi berbagai masalah emosional yang mereka alami dan mengganggu kualitas hidup.

Pada psikoterapi suportif, konseling dilakukan oleh terapis yang berkeinginan membantu memberikan kasih sayang pada orang yang bermasalah tersebut.

Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Muara Ilmu Sosial menyebut ada beberapa pendekatan psikoterapi suportif ini, yaitu psikoterapi yang mengintegrasikan psikodinamika, kognitif-perilaku dan interpersonal dengan model konseptual dan teknik.

Apa tujuan psikoterapi suportif?

Psikoterapi suportif ini bertujuan mengurangi keresahan dan juga membantu orang dengan masalah kesehatan mental untuk menemukan ketahanan mereka.

Terapi ini berupaya meningkatkan kemampuan kamu untuk beradaptasi dengan situasi yang sebelumnya mungkin membuat kamu stres dan tertekan.

Istilah terapi yang satu ini memiliki beragam definisi penanganan, mulai dari terapi tradisional dengan psikiater atau bahkan psikolog di tempat-tempat kerja untuk memberikan bantuan atas masalah harian yang mungkin terjadi.

Secara umum, terapis tidak akan meminta kamu untuk berubah, melainkan bertindak sebagai pendamping yang memungkinkan kamu merefleksikan situasi kehidupan dalam lingkungan di mana kamu diterima. 

Bagaimana cara kerjanya?

Pada dasarnya, bantuan yang diberikan dalam psikoterapi ini berupa penghiburan, saran, menyemangati, meyakinkan dan yang terpenting adalah mendengarkan dengan penuh perhatian dan simpatik.

Terapis akan menyediakan saluran emosional serta kesempatan untuk kamu mengekspresikan dirimu dan menjadi diri sendiri. Selain itu, kamu pun akan diberikan informasi terkait apa yang kamu derita dan bagaimana cara mengaturnya.

Selama menjalankan psikoterapi ini, terapis akan menjadi perantara antara kamu dengan pihak-pihak yang bermasalah terhadapmu, baik itu di sekolah, di tempat kerja atau bahkan di keluarga.

Jadi, terapis akan bercerita mengenai sikap dan perasaan yang kamu tunjukkan kepada sesama. Sebaliknya, terapis pun akan bercerita tentang sudut pandang dan sikap yang ditunjukkan orang lain kepada dirimu.

Terapis tidak akan menghakimi

Beberapa orang enggan berbicara terbuka karena khawatir terhadap penilaian orang lain. Dalam psikoterapi suportif, terapis akan membuat kamu tidak merasa demikian.

Terapis akan berpikir dua kali untuk memberikan penilaian atau saran. Bahkan, sedikit mungkin terapis akan menunjukkan sikap pribadinya demi menjaga kenyamanan kamu berbicara.

Saat melakukan terapi, terapis akan aktif dan ikut terlibat dalam pembicaraan yang kamu lakukan. Terapis akan mengutarakan perasaannya hanya jika hal itu dibutuhkan untuk meyakinkan kamu.

Kapan psikoterapi suportif dibutuhkan?

Terapi ini biasanya dibutuhkan untuk membantu kamu berhadapan dengan adiksi serius, kelainan makan seperti bulimia nervosa, stres dan masalah kesehatan mental lainnya.

Metode ini bertujuan membentuk kamu menjadi pribadi yang adaptif dan memiliki pertahanan diri yang cakap dan strategi untuk menghadapi masalah serupa yang bisa saja muncul di kemudian hari.

Tidak harus dilakukan terapis

Yang menarik dari psikoterapi suportif ini, laman Psychology Today menyebut kalau hal ini tidak eksklusif hanya bisa dilakukan oleh psikolog. 

Setiap orang yang hidup dengan kamu, atau bekerja dan terganggu secara emosional dengan kamu dapat memainkan peran sebagai terapis. 

Dengan catatan, orang tersebut secara aktif menunjukkan kepedulian, secara otomatis mereka sudah melakukan psikoterapi suportif terhadap dirimu.

Demikianlah berbagai penjelasan tentang terapi suportif yang bermanfaat jika kamu bingung bagaimana harus menyampaikan keresahan hati. Selalu jaga kondisi kesehatan mental dan temukan saluran yang tepat untuk bercerita, ya!

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Categories
Kesehatan Mental

Ciri-ciri Pelaku Breadcrumbing atau PHP dan Cara Menghadapinya

Breadcrumbing atau pemberi harapan palsu dalam sebuah hubungan seringkali terjadi. Seseorang yang melakukan breadcrumbing umumnya hanya akan memberikan sedikit minat pada lawannya.

Biasanya, orang yang memiliki perilaku breadcrumbing bisa terlihat dengan jelas tanda-tandanya. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut ciri-ciri pelaku breadcrumbing yuk simak penjelasannya berikut.

Baca juga: Mengenal Ghosting dalam Hubungan dan Bagaimana Dampaknya secara Psikologis

Apa saja ciri-ciri pelaku breadcrumbing?

Dilansir dari Healthline, orang yang melakukan breadcrumbing pada kenyataannya tetap ingin membuat lawannya tertarik.

Bahkan, perilaku ini dilakukan ketika pelakunya tidak memiliki rencana nyata untuk membangun suatu hubungan. Beberapa ciri-ciri breadcrumbing yang perlu diketahui, yakni:

Tidak mengirimi pesan secara konsisten

Para pelaku breadcrumbing biasanya tidak berhubungan atau mengirim pesan pada kamu secara konsisten.

Tak hanya itu, para pelakunya juga memiliki bakat luar biasa untuk mengirim pesan tepat ketika kamu sudah mulai melupakannya. Pada akhirnya, kamu langsung kembali berhubungan dengannya.

Pesan terlalu ambigu

Pemberi harapan palsu selalu memberikan pesan yang terlalu ambigu. Para breadcrumbing tidak berkomitmen dan tidak suka spesifik. Misalnya, ketika berencana untuk segera bertemu satu sama lain namun selalu menghindar dari rencana yang telah ditetapkan.

Tidak ada substansi untuk komunikasi

Ketika berkomunikasi melalui pesan, sesekali akan ada pembicaraan yang lebih mendalam namun biasanya cukup dangkal dan sangat umum. Dari sinilah diketahui jika pelaku breadcrumbing tidak berusaha sungguh-sungguh untuk mengenal kamu. 

Aktif di media sosial lain

Pelaku breadcrumbing biasanya akan menyukai postingan kamu di media sosial lain atau bahkan melihat status kamu namun sambil tetap mengabaikan pesan. Perilaku ini menunjukkan ketidaktertarikan atau memberikan harapan palsu.

Biasanya, orang yang melakukan breadcrumbing tidak merasa sepenuhnya bersedia untuk menghapus kemungkinan bertemu dengan kamu lagi.

Namun, setelah berhenti merespons atau mengisyaratkan bahwa kamu kehilangan minat maka mungkin pelakunya akan meningkatkan upaya untuk mempertahankan.

Minat baru yang jelas ini dapat memperkuat daya tarik asli dan memberi kamu harapan baru untuk membangun hubungan dengan nyata dan langgeng. Akan tetapi, pada akhirnya perilaku menyimpang kembali terulang dan polanya dimulai lagi

Adakah alasan seseorang bisa melakukan breadcrumbing?

Profesor Psikologi di California State University, San Bernandino, Kelly Campbell, Ph.D., mengatakan jika orang terlibat breadcrumbing karena harga dirinya dipengaruhi oleh seberapa banyak perhatian yang diperoleh.

Meski alasan pasti perilaku tersebut berbeda-beda, namun ada beberapa pola psikologis yang mendasari, yakni:

  • Merasa lebih baik tentang diri sendiri. Seorang breadcrumbing senang mendapatkan minat dari orang banyak karena membuat dirinya sendiri terlihat lebih baik.
  • Membutuhkan validasi dari orang lain. Pelaku breadcrumbing tidak merasa nyaman atau percaya diri kecuali ketika mendapatkan jaminan terus-menerus dari orang lain bahwa dirinya berharga.
  • Memiliki sifat narsisme. Seringkali, individu dengan perilaku breadcrumbing ini memiliki kepribadian yang dicirikan oleh narsisme. Pelaku biasanya merasa tidak bersalah karena memanipulasi dan mempermainkan emosi orang lain.

Bagaimana cara menghadapi pelaku breadcrumbing?

Dalam sebuah penelitian, breadcrumbing dalam berkencan menunjukkan bahwa hal tersebut seringkali berkontribusi pada perasaan kesepian dan ketidakberdayaan. Karena itu, terdapat beberapa cara untuk menghadapi orang dengan perilaku breadcrumbing seperti berikut:

Ajak bertemu

Mengajak pelaku breadcrumbing untuk bertemu dapat mencapai dua tujuan. Pertama, pertemuan akan membuat kamu sadar dan kedua untuk memberi pelaku kesempatan berbagi masalah pribadi apapun yang mendasari perilakunya tersebut.

Mulai percakapan tentang tujuan hubungan

Beberapa orang menginginkan hal yang berbeda dari suatu hubungan. Mungkin para pelaku breadcrumbing bermaksud untuk menjalin hubungan saat pertama kali bertemu namun banyak hal yang membuatnya tidak yakin.

Karena itu, tidak ada salahnya untuk memulai percakapan tentang tujuan hubungan.

Tingkatkan harga diri

Jika kedua cara pertama tidak berhasil menyadarkan pelaku breadcrumbing, kamu harus bisa mulai untuk meningkatkan kepercayaan diri. Solusi paling utama adalah memperbaiki diri sendiri.

Tingkatkan kepercayaan diri dengan melakukan aktivitas yang dikuasai dan memperlakukan diri sendiri dengan baik. Jangan pernah mentolerir perlakukan buruk karena kamu berhak mendapatkan seseorang yang bersedia memberikan perhatian serupa.

Baca juga: Social Climber Termasuk Gangguan Kejiwaan? Yuk, Simak Penjelasannya

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Categories
Kesehatan Mental

Mengenal Self Loathing, Kondisi Saat Kamu Membenci Diri Sendiri

Tidak selamanya perasaan benci dan ketidaksukaan diproyeksikan terhadap hal-hal di luar diri sendiri. Terkadang, beberapa orang justru membenci diri sendiri dan hal ini dikenal dengan istilah self loathing.

Baca juga: 6 Cara Mengendalikan Emosi untuk Jaga Kesehatan Mental

Apa itu self loathing

Self loathing atau perasaan membenci diri sendiri yang merupakan perasaan kurang, bersalah hingga rendahnya harga diri yang terus muncul secara terus menerus.

Kamu mungkin akan terus membandingkan diri dengan orang lain, menerima hal negatifnya saja tapi menolak hal positif. Sehingga selalu ada perasaan ‘tidak cukup baik’ yang kamu alami.

Beberapa pemikiran yang terkait self loathing adalah sebagai berikut:

  • “:Aku tahu bahwa aku akan gagal”
  • “Kenapa harus mencoba?”
  • “Aku adalah seorang pecundang”
  • “Tidak ada seorang pun yang mau berada di dekatku”
  • “Lihatlah, kamu mengacau terus”
  • “Bisakah kamu bertindak normal?”

Gejala dari self loathing

Berikut ini adalah beberapa gejala dan tanda yang kerap timbul ketika kamu benci terhadap diri sendiri. Yaitu:

  • Perasaan ‘semua atau tidak sama sekali’: Menganggap bahwa kegagalan hanya akan membuat semua hal dalam hidup jadi berantakan
  • Fokus pada hal negatif: Bahkan ketika kamu melewati hari yang menyenangkan, kamu selalu fokus pada hal yang buruk yang kamu lewati di hari itu
  • Terlalu percaya pada perasaan yang buruk: Setiap kali ada perasaan yang buruk atau firasat gagal, kamu selalu merefleksikan hal itu sebagai kenyataan yang sedang kamu hadapi
  • Mencari pembuktian: Kamu terus mencari pembuktian dan respon orang lain terhadap harga diri sendiri
  • Tidak bisa menerima pujian: Setiap kali ada orang yang memberikan pujian, kamu terus menganggap bahwa hal tersebut adalah satu tindakan sopan santun saja

Apa saja penyebab self loathing?

Perasaan benci terhadap diri sendiri tumbuh seiring waktu. Biasanya hal ini dipicu oleh lebih dari satu faktor, termasuk trauma masa lalu hingga ekspektasi palsu terhadap diri sendiri. Berikut ini adalah penjelasannya:

Trauma

Laman kesehatan VeryWellMind menyebut banyak orang yang mengalami self loathing juga mengalami pengalaman traumatis. 

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam the Lancet Psychiatry menyebut kalau pengalaman traumatis yang dimaksud bisa jadi berupa kekerasan dan penolakan secara seksual, fisik dan emosional.

Saat seorang anak mengalami trauma, mereka akan mulai melihat dunia sebagai tempat yang tidak aman dan orang-orang di sekelilingnya sebagai pihak yang berbahaya.

Dari pengalaman itu mereka lalu menciptakan sebuah pemahaman kalau mereka tidak berharga dan tidak pantas mendapat kasih sayang dalam hidup mereka. Hal ini bisa mereka katakan secara langsung pada orang tua atau sekadar mereka pendam saja.

Ekspektasi palsu

Rasa ingin dimiliki, diterima atau bahkan mengerjakan sesuatu dengan baik adalah hal yang normal. Meskipun demikian, terkadang ekspektasi terhadap diri sendiri terlalu tinggi dan tidak mampu dijalani.

Nah, ekspektasi yang sangat luar biasa itulah yang terkadang berujung pada perasaan gagal. Pada kondisi ini, kamu akan mengkritik diri sendiri dan timbul kekecewaan.

Ingin membuat orang lain puas

Selain ekspektasi terhadap diri sendiri, terkadang kamu pun ingin mewujudkan ekspektasi yang dimiliki oleh orang lain. Hal ini semata-mata karena kamu ingin terhubung dan memiliki ikatan dengan orang lain.

Kamu mungkin berpikir ketika orang lain merasa senang dengan dirimu, maka kamu pun akan bahagia dengan sendirinya. Hal ini sebenarnya justru tidak sehat, karena bisa jadi kamu pun akan merasa gagal dan tidak berguna ketika tidak mampu mewujudkan hal itu.

Mencegah dan menangani self loathing

Langkah pertama dalam pencegahan adalah mengenal apa penyebabnya. Untuk itu, cobalah untuk memahami hal apa yang memicu rasa benci terhadap diri sendiri yang kamu miliki.

Cobalah untuk membuat suatu catatan, karena menulis sangat baik untuk kesehatan mental. Pecahkan beberpa pertanyaan ini terkait pemicu self loathing yang bisa kamu alami:

  • Apa yang kami lakukan?
  • Apa yang kamu rasakan saat melakukan aktivitas berbeda?
  • Dengan siapa kamu melakukan hal tersebut?

Selain menulis, berikut ini adalah langkah yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi self loathing:

  • Lawan perasaan negatif yang timbul
  • Berlatih menyayangi diri sendiri
  • Habiskan waktu dengan orang-orang yang berpikiran positif
  • Meditasi
  • Kunjungi therapist

Demikianlah berbagai penjelasan tentang self loathing yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan metal. Selalu sayangi diri sendiri, ya!

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Categories
Kesehatan Mental

Dilarang Mudik, Ini 7 Tips Mengatasi Homesick saat Pandemi

Tahun ini, untuk kedua kalinya pemerintah melarang mudik pada libur lebaran atau Idul Fitri. Hal ini mungkin akan menimbulkan rasa homesick yang lebih berat bagi perantau.

Mereka harus dipaksa menghabiskan waktu di hari besar ini jauh dari rumah dan keluarga. Apakah kamu salah satunya?

Jika iya, ada beberapa tips yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi homesickness selama pandemi COVID-19 berikut ini!

Baca Juga: Cara Ampuh Menjaga Kesehatan Mental Saat Menjalani Puasa di Musim Pandemi

Mengenal homesickness

Homesick adalah keadaan pikiran emosional, di mana orang yang terkena mengalami perasaan kerinduan yang kuat karena berpisah dari lingkungan rumah dan orang yang dicintai.

Saat mengalami homesick seseorang akan merasakan gejala nostalgia, kesedihan, depresi, kecemasan, kesedihan, dan penarikan diri. Kerinduan dapat memengaruhi kita baik secara mental maupun fisik.

Waktu yang dibutuhkan, dan tingkat kesulitan yang kita alami dalam beradaptasi dengan kondisi dan lingkungan baru, dapat berbeda untuk setiap orang.

Tanda-tanda kamu mengalami homesick

Berikut beberapa tanda dan ciri-ciri kalau kamu sudah mengalami kondisi homesickness:

  • Merasa sedih, kesepian, tidak berdaya
  • Pikiran stres dan depresi
  • Kegelisahan
  • Serangan panik
  • Rasa tidak aman
  • Perubahan suasana hati yang sering
  • Menangis saat kita memikirkan dan merindukan rumah
  • Kehilangan selera makan
  • Kurang konsentrasi saat bekerja atau belajar
  • Kehilangan motivasi atau antusiasme
  • Tugas sederhana menjadi sulit dan menantang
  • Penarikan sosial dan keengganan untuk terlibat dan berkomitmen pada acara sosial
  • Mudah ​​marah atau mengeluh
  • Gangguan tidur
  • Penyakit fisik akibat tekanan mental yang berlebihan atau pola makan yang buruk
  • Sakit kepala atau sakit perut
  • Mual
  • Kelelahan atau lesu.

Kerinduan akan rumah dapat memengaruhi orang-orang dari segala usia, dalam banyak situasi.

Bukan hal yang aneh bagi sebagian orang untuk merasa rindu rumah setelah hanya beberapa hari pergi, dan juga bukan sesuatu yang membuat malu.

Baca Juga: Sering Tak Disadari, Ini Tanda Toxic Relationship dan Cara Mengakhirinya

Cara mengatasi homesick saat pandemi COVID-19

Homesick yang berkelanjutan hingga membuat depresi dapat berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental kamu.

Coba lakukan beberapa tips di bawah ini untuk membantu meringankan homesickness yang sedang kamu alami:

1. Sadari bahwa homesick adalah hal yang normal

Berada jauh dari rumah, orang-orang terdekat (keluarga dan teman), dan bahkan hewan peliharaan hingga merasa homesick adalah hal yang normal. Merasa rindu rumah bukanlah kelemahan, juga bukan sesuatu yang harus disalahkan. 

Biarkan diri kamu sedikit rindu kampung halaman dan merasakan kesedihan. Menangis juga baik untuk jiwa kamu! Tapi tentukan batas waktu untuk menangis ya.

Penyesuaian belajar bagaimana menghadapi kondisi baru membutuhkan waktu untuk berkembang. Begitu mengetahuinya, keterampilan itu dapat memberi kamu latihan dan pengalaman dalam menghadapi gerakan atau transisi di kemudian hari.

2. Tetap berhubungan dengan rumah

Salah satu yang perlu kita syukuri hidup pada masa kini adalah, kemajuan teknologi yang membuat kita dapat terkoneksi dengan siapapun, di manapun, bermodal internet.

Selama pandemi ini, pastikan kamu selalu terhubung dengan keluarga di rumah. Baik dengan telepon, chat, atau panggilan video. Namun, terlalu banyak berhubungan justru bisa membuat kamu semakin merasakan ada jarak yang jauh. 

Triknya adalah tidak membiarkannya sampai ke tahap di mana kamu berkomunikasi dengan orang-orang di rumah lebih banyak daripada dengan orang-orang di kota tempat tinggal.

3. Perangi kebosanan 

Kamu pasti akan cenderung kangen dan ingat rumah saat sedang bosan atau tidak melakukan apapun. Jadi ada baiknya ciptakan rutinitas harian dan isi waktu luang dengan aktivitas yang kamu sukai, agar kamu tidak selalu teringat soal rumah.

Kamu bisa mencoba mengerjakan hobi yang ada atau mempelajari hobi baru, bersosialisasi secara online dengan teman-teman, atau menjelajahi kota tempat tinggal dalam batasan apapun yang berlaku.

4. Batasi media sosial

Terlalu banyak mengonsumsi timeline media sosial terutama yang berisi kawan-kawan dari kampung halaman dapat membuat kamu semakin merasakan homesick.

Batasi waktu kamu di media sosial dan matikan notifikasi media sosial di HP kamu, sehingga tidak terganggu oleh kenangan dari rumah saat kamu benar-benar bersemangat. 

5. Ciptakan ruang yang kamu cintai

Kamar tidur atau rumah di perantauan harus membuat kamu merasa bahagia, aman, dan seperti di rumah sendiri. Jika kamar belum terasa seperti milik kamu sendiri, pertimbangkan untuk mendekorasi ulang kamar kamu.

Cetak beberapa foto keluarga dan teman, ikat beberapa lampu peri, dan manjakan diri kamu dengan selimut atau sprei yang nyaman. Ingatlah bahwa kamar tidur adalah tempat kamu beristirahat setelah hari yang melelahkan dan kamu harus menikmati berada di dalamnya!

6. Olahraga

Saat merasa sedih, kamu mungkin tergoda untuk berbaring di kasur seharian sambil menangis. Tetapi ini mungkin akan membuat kamu merasa jauh lebih buruk.

Menjaga kesehatan dengan berolahraga ringan secara rutin akan membuat kamu merasa jauh lebih positif tentang hidup.

7. Hubungi profesional

Benar-benar normal untuk merasa rindu rumah tetapi kamu tidak harus berjuang dalam keheningan. Pastikan kamu mencari bantuan profesional jika merasa membutuhkannya.

Jika rasa kerinduan akan rumah yang kamu rasakan berpengaruh pada kualitas hidup dan kinerja harian, coba hubungi bantuan psikolog profesional untuk berkonsultasi.

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar kesehatan mental? Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Kesehatan Mental

Mengenal Sindrom Othello, Rasa Cemburu Berlebihan yang Bisa Berakibat Fatal

Cemburu dengan pasangan dapat menimbulkan rasa marah, kesal ataupun sedih. Dalam tahap yang wajar, kamu bisa mengelola rasa cemburu dengan berbagai cara agar tetap terkendali. 

Tapi jika rasa cemburu itu sudah berlebihan, bahkan sampai membuat kamu bersikap agresif dan menyudutkan pasangan, hati-hati terkena sindrom Othello. Apakah kamu sudah pernah mendengar tentang sindrom tersebut?

Apa itu sindrom Othello?

Othello syndrome atau sindrom Othello kali pertama ditemukan oleh seorang psikiater bernama John Todd. Bersama dengan rekannya, Kenneth Dewhurst, ia menuliskan tentang sindrom Othello lewat sebuah penelitian berjudul The Othello Syndrome A Study in the Psychopathology of Sexual Jealousy

Kondisi ini merupakan sindrom yang membuat seseorang merasa cemburu berlebihan dengan pasangannya. Timbul cemburu tidak wajar, hingga muncul delusi dan berpotensi mengakibatkan hal yang buruk. 

Othello sendiri diambil dari salah satu naskah drama karya William Shakespeare, yang ditulis di abad ke-18. Othello menikah dengan seorang wanita bernama Desdemona. Kemudian keputusan Othello membuat salah satu bawahannya yang bernama Iago kecewa. 

Iago kemudian memperdaya Othello untuk memercayai istrinya berselingkuh dengan bawahannya yang lain, yaitu Cassio. Othello termakan tipu daya Iago dan akhirnya membunuh sang istri. 

Kemudian, di akhir kisah Othello mengetahui bahwa Iago telah menipunya. Othello pun akhirnya bunuh diri karena menyesal telah membunuh sang istri. 

Gejala sindrom Othello

Sindrom ini membuat seseorang mengalami delusi tentang adanya pengkhianatan yang dilakukan pasangan dan membuatnya cemburu. Orang yang mengalaminya akan menuduh dan mencurigai pasangan berselingkuh. 

Karena memercayai adanya perselingkuhan, orang tersebut akan mencari bukti dan melakukan interogasi terhadap pasangan. Orang tersebut juga tak segan melakukan tindakan ekstrem.

Dampak buruk sindrom Othello

Sindrom Othello juga dikenal dengan nama lain seperti delusional jealousy, erotic jealousy syndrome, morbid jealousy, othello psychosis atau sexual jealousy. 

Sesuai dengan namanya, kecemburuan ini pastinya terjadi di dalam satu hubungan. Dan yang menyedihkan, bahwa kondisi ini bukan hanya dapat mengganggu pasangan yang dicurigai berselingkuh. Tetapi juga dapat berakhir menjadi petaka. 

Kondisi ini dapat berakhir dengan rusaknya hubungan rumah tangga, bahkan di tahap yang parah bisa menyebabkan pembunuhan pasangan atau bunuh diri

Kondisi ini lebih sering terjadi pada pria dibanding dengan wanita. Persentasenya, menurut Psychology Today sebesar 60 persen untuk pria dan sisanya untuk wanita.

Penyebab sindrom Othello

Sindrom ini bisa muncul spontan, tetapi bisa juga muncul akibat efek dari adanya kondisi medis tertentu. 

Beberapa kondisi yang terkait dengan sindrom Othello di antaranya gangguan saraf otak, epilepsi, penyakit Parkinson, demensia, skizofrenia atau efek samping obat-obatan tertentu. 

Meski kali pertama ditemukan oleh seorang psikiater, tetapi di dalam perkembangannya sindrom ini lebih sering diartikan sebagai kondisi medis yang memengaruhi saraf. 

Karena itu sindrom ini juga lebih sering disebut gangguan neurologis. Sementara delusi (pikiran atau pandangan yang tidak rasional), tampaknya terkait dengan disfungsi lobus frontal, terutama lobus frontal kanan. 

Lobus frontal adalah bagian dari otak yang terletak di bagian depan kepala dan diperkirakan memiliki ukuran sepertiga dari total ukuran otak.

Bagian ini memiliki banyak peran, termasuk pengaturan gerakan, kemampuan bicara, konsentrasi, penalaran, perencanaan, emosi, suasana hati hingga mengendalikan perilaku sosial. 

Bagaimana cara mengatasinya?

Mengatasi sindrom Othello bergantung pada penyebabnya. Jika munculnya sindrom karena pengaruh dari skizofrenia, umumnya akan diobati dengan pengobatan dan terapi yang dibutuhkan. 

Jika ternyata dilatarbelakangi penyakit saraf, maka akan dilakukan pengobatan yang sesuai. Begitu juga jika terjadi akibat penyakit Parkinson.

Orang yang menjalani pengobatan penyakit Parkinson mungkin mengembangkan kondisi sindrom Othello. Untuk mengatasinya diperlukan konsultasi lebih lanjut dengan dokter ahli. 

Fakta penelitian tentang othello syndrome

Dilansir Psychiatry and Clinical Neurosciences, prevalensi sindrom Othello sebesar 1,1 persen pada pasien rawat inap psikiatri. Selain itu, terdapat 7 persen pada pasien dengan gangguan mental neurobiologis. 

Dalam satu penelitian, sindrom ini ditemukan sebanyak 0,17 persen dari semua kasus rawat inap pasien psikiatri selama periode 61 tahun. Penelitian yang lebih difokuskan pada pasien yang berusia lebih tua, ternyata hasilnya menunjukkan kasus yang lebih banyak. 

Demikian penjelasan tentang sindrom Othello yang bisa terjadi spontan atau karena pengaruh kondisi kesehatan tertentu. Segera konsultasi ke ahlinya jika kamu atau pasangan dicurigai memiliki kondisi ini.

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!