Categories
Gizi Anak

Hari Balita: Bagaimana Kondisi Stunting di Indonesia dan Dunia?

Masalah stunting kini sudah semakin berkembang, baik di Indonesia maupun dunia. Stunting sendiri merupakan masalah gizi kronis yang diakibatkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu lama. 

Kondisi ini akan menyebabkan anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga memiliki tubuh yang lebih pendek dari pada teman seusianya. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut mengenai stunting di Indonesia dan dunia yuk simak penjelasannya berikut.

Baca juga: Daftar Makanan yang Tepat Diberikan saat Anak Mengalami Muntah Berat

Update terkini seputar stunting

Dilansir dari WHO, stunting adalah akibat dari kekurangan gizi kronis atau berulang.

Biasanya, masalah ini berhubungan dengan kondisi sosial, ekonomi yang buruk, kesehatan dan gizi ibu yang buruk, penyakit yang sering terjadi, serta pemberian makan atau perawatan awal bayi yang tidak tepat.

Untuk itu, stunting dapat menghambat anak-anak mencapai potensi fisik dan kognitif. Selain itu, anak dengan stunting juga berisiko rentan terhadap penyakit menular dan penyakit kronis di masa dewasa. 

Stunting di dunia

Di seluruh dunia, 144 juta anak di bawah usia lima tahun menderita stunting. Hal ini merupakan kondisi kronis yang dapat terjadi jika seorang anak tidak memiliki akses nutrisi yang tepat, khususnya selama 1.000 hari pertama kehidupan.

Stunting sendiri tidak hanya memengaruhi kesehatan, namun dapat pula merusak perkembangan mental dan fisik. Kondisi tersebut berarti anak-anak yang menderita stunting cenderung tidak mencapai tinggi penuh dan potensi kognitif saat dewasa.

Anak dengan kondisi stunting mungkin tidak pernah tumbuh tinggi maksimal atau mengembangkan potensi kognitif secara penuh. Menurut data tahun 2017, 43 persen anak balita di negara berpenghasilan rendah dan menengah berisiko tinggi mengalami kemiskinan karena stunting.

Sementara itu, anak-anak yang mengalami stunting berpenghasilan 20 persen lebih rendah sebagai orang dewasa dibandingkan dengan anak-anak yang tidak mengalami stunting.

Perlu diketahui juga, para ibu yang mengalami kekurangan gizi lebih cenderung memiliki anak dengan kondisi stunting.

Stunting di Indonesia

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat bahwa pada tahun 2018, jumlah anak balita di Indonesia sekitar 22,4 juta. Setiap tahun, 5,2 juta perempuan di Indonesia hamil dan rata-rata bayi yang dilahirkan berjumlah 4,9 juta anak.

Dari data kelahiran ini, diketahui tiga dari 10 balita di Indonesia mengalami stunting atau memiliki tinggi badan lebih rendah dari standar usianya. Karena itu, Indonesia menempati urutan kelima di antara negara dengan stunting tertinggi pada balita. 

Stunting bukan berarti ditandai dengan kondisi tubuh kurus sehingga fakta yang sering terjadi adalah anak yang memiliki stunting tidak terlalu kentara secara fisik. Namun, jika dilihat secara spesifik, anak yang mengalami stunting cenderung memiliki sistem metabolisme tubuh yang tidak optimal.

Misalnya adalah jika anak lain tumbuh ke atas, maka anak dengan stunting justru tumbuh ke samping di mana kemudian berisiko terkena penyakit tidak menular di Indonesia seperti obesitas serta diabetes.

Penelitian terbaru terkait dengan stunting

Pada tahun 2016, diperkirakan 155 juta anak di seluruh dunia mengalami stunting dan lebih dari sepertiganya tinggal di Afrika.

Sebuah tinjauan global tentang stunting di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah mengidentifikasi hambatan pertumbuhan di dalam rahim dan kurangnya akses sanitasi.

Beberapa penelitian telah menunjukkan dampak negatif dan risiko jangka panjang dari stunting pada perkembangan anak usia dini.

Risiko yang dimaksud, seperti kinerja yang buruk di sekolah dan produktivitas rendah saat mencapai usia kerja. Oleh karena itu, intervensi dini diperlukan untuk mencegah stunting.  Satu dari lima kematian anak telah dikaitkan dengan kekurangan gizi.

Karena itu, banyak intervensi yang dilakukan untuk meningkatkan gizi ibu dan anak seperti pemberian suplementasi mikronutrien untuk ibu dan anak, pengobatan cacingan, dan kampanye nasional 1.000 hari pertama kehidupan anak.

Baca juga: Benarkah Zat Besi Bisa Optimalkan Perkembangan Kognitif Anak?

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!

Categories
Gizi Anak

Mencegah Stunting Bersama Posyandu, Ini yang Bisa Dilakukan

Pos pelayanan terpadu atau posyandu membantu masyarakat mendapatkan informasi pelayanan kesehatan bagi ibu, bayi dan anak balita dengan lebih mudah. Dengan begitu, posyandu juga ikut berperan dalam pemantauan gizi ibu hamil dan anak. 

Pemantauan gizi ini penting dilakukan, guna menurunkan prevelansi stunting di Indonesia. Apa itu stunting dan apa saja yang bisa dilakukan untuk mencegahnya, berikut penjelasan selengkapnya. 

Baca Juga: Memahami Stunting: Penyebab hingga Langkah Pencegahannya

Stunting di Indonesia

Stunting atau tubuh pendek adalah gangguan pertumbuhan saat balita yang sebagian besar disebabkan kekurangan gizi kronis, terutama pada masa 1000 hari pertama kehidupannya. 

Seorang anak dikatakan mengalami stunting apabila tinggi badan dan panjang tubuhnya minus 2 dari standar Multicentre Growth Reference Study atau standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari World Health Organization (WHO).

Menurut survei status gizi balita Indonesia pada 2019, angka stunting di Indonesia mencapai 27,7 persen. Angka ini turun dibandingkan pada 2018 lalu yang mencapai 30,8 persen. 

Angka tersebut diharap bisa kembali mengalami penurunan pada 2024 mendatang, dengan target prevalensi menjadi 14 persen. Namun bagaimana cara pencegahan stunting dilakukan?

Pencegahan stunting

Ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk mencegah stunting pada anak. Menurut situs Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan Indonesia, setidaknya ada 5 hal pencegahan yang dilakukan, yaitu:

1. Memenuhi kebutuhan gizi sejak masa kehamilan

Ibu hamil harus menjaga asupan gizi hariannya, untuk memenuhi kebutuhan nutrisi si Kecil. Mengonsumsi makanan bergizi selama kehamilan juga diiringi dengan menjalani proses pemeriksaan kehamilan secara rutin ke bidan atau dokter. 

2. Memberi ASI eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan

ASI berpotensi mengurangi kemungkinan stunting pada anak. Karena itu, disarankan untuk tetap memberikan ASI eksklusif selama enam bulan kepada si Kecil. 

3. Memberikan makanan pendamping ASI (MPASI)

Saat bayi berusia 6 bulan, Moms bisa memberikan MPASI untuk anak. Makanan yang diberikan bisa dipilih sesuai dengan nilai gizi yang dibutuhkan bayi. Untuk memastikannya, Moms bisa konsultasi terlebih dahulu dengan dokter anak. 

4. Pemantauan tumbuh kembang anak

Orang tua perlu memantau tumbuh kembang anak, salah satunya memastikan anak memiliki berat badan yang ideal. Dengan rutin memantau perkembangan anak, orang tua akan lebih mudah mengetahui gejala awal jika terjadi gangguan pada pertumbuhan anak. 

5. Menjaga kebersihan dan kesehatan

Anak-anak rentan terserang penyakit, terlebih jika mereka tinggal di lingkungan yang kotor. Ini bisa menjadi salah satu faktor risiko terjadinya stunting. Oleh karena itu, jagalah selalu kebersihan dan pantau terus kesehatan anak. 

Mencegah stunting bersama posyandu

Setelah mengetahui langkah-langkah pencegahan stunting, kini kamu juga perlu mengetahui peran posyandu dalam mencegah stunting di Indonesia. 

Posyandu adalah salah satu bentuk upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat. Dilaksanakan oleh, dari dan bersama masyarakat. 

Menurut buku saku posyandu dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, adanya posyandu diharap dapat memberdayakan dan memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan bagi ibu, bayi dan anak balita. 

Dan semua yang disebutkan dalam tindakan pencegahan stunting di atas termasuk ke dalam kegiatan utama pelayanan terpadu.

Baca Juga: Moms Wajib Tahu! Ini 6 Penyebab Stunting pada Anak yang Sering Diabaikan

Mengenal kegiatan utama posyandu

Kegiatan pelayanan utama posyandu di antaranya berupa:

  • Pelayanan kesehatan ibu dan anak
  • Keluarga berencana
  • Imunisasi
  • Pemantauan gizi
  • Pencegahan dan penanggulangan diare.

Dengan pelayanan tersebut, masyarakat khususnya ibu hamil dan anak-anak dapat merasakan manfaat berupa:

  • Kemudahan informasi dan pelayanan kesehatan bagi ibu, bayi dan anak balita
  • Pemantauan pertumbuhan anak balita yang baik, sehingga mencegah terjadinya kurang gizi atau gizi buruk
  • Mendapatkan vitamin A untuk anak-anak
  • Mendapatkan imunisasi lengkap
  • Pemantauan kesehatan ibu hamil, termasuk memantau berat badan, pemberian tablet penambah darah dan imunisasi Tetanus Toksoid
  • Pemberian vitamin A dan tablet penambah darah untuk ibu nifas
  • Mendapat penyuluhan terkait kondisi kesehatan ibu dan anak
  • Mendapat rujukan ke puskesmas jika terjadi kelainan pada bayi, balita, ibu hamil, ibu nifas dan ibu menyusui
  • Serta dapat berbagai informasi dan pengalaman seputar kesehatan ibu, bayi dan balita.

Dengan adanya penyelenggaraan posyandu akan membantu memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil dan anak balita. Serta bisa dilakukan pemantauan dan berbagi informasi seputar pencegahan stunting. 

Berbagi informasi adalah hal yang penting dalam mencegah stunting. Stunting perlu dicegah, karena jika dibiarkan bisa menimbulkan dampak buruk. Baik dampak jangka pendek atau panjang. 

Dampak pendek bisa menyebabkan gangguan perkembangan kognitif, motorik dan verbal, meningkatkan risiko sakit bahkan kematian, dan meningkatnya biaya kesehatan. 

Sementara dampak jangka panjang bisa menyebabkan postur tubuh tidak optimal saat dewasa, meningkatkan risiko sejumlah penyakit, salah satunya diabetes. Menurunnya kesehatan reproduksi dan kapasitas produktivitas kerja yang tidak optimal.

Demikian penjelasan peran posyandu dan pencegahan stunting di Indonesia. Punya pertanyaan lebih lanjut?

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Gizi Anak

Sebelum atau Sesudah Makan, Kapan Waktu Minum Susu Terbaik bagi si Kecil?

Menawarkan nutrisi penting bagi si Kecil, menjadikan susu sebagai minuman yang menyehatkan. Sebagian anak mungkin saja meminum susu sebelum makan, dan sebagian lainnya mungkin sesudah makan. Akan tetapi, kapan sebenarnya waktu terbaik untuk meminum susu?

Baca juga: Lemon untuk Bayi, Apakah Aman Dikonsumsi?

Manfaat susu yang penting untuk diketahui

Bukan sebuah rahasia lagi jika susu memiliki banyak sekali manfaat, mulai dari menjaga kesehatan tulang hingga baik untuk kesehatan gigi. Nah, berikut ini adalah penjelasan selengkapnya mengenai manfaat susu untuk kesehatan.

1. Kaya akan kandungan kalsium

Susu adalah sumber kalsium yang baik. Kalsium dapat membantu menjaga kesehatan tulang si Kecil. Tak hanya itu, mencukupi kebutuhan kalsium anak juga penting lho Moms. Sebab, kurangnya asupan kalsium dapat menyebabkan gejala tertentu, seperti sakit kepala.

2. Mengandung banyak nutrisi penting

Kandungan nutrisi pada susu sangat mengesankan. Bahkan, satu cangkir (244 gram susu sapi) mengandung sekitar:

  • Kalori: 146
  • Protein: 8 gram
  • Lemak: 8 gram
  • Kalsium: 28% dari recommended dietary allowance (RDA)
  • Vitamin D: 24% dari RDA
  • Riboflavin (B2): 26% dari RDA
  • Vitamin B12: 18% dari RDA
  • Potasium: 10% dari RDA
  • Fosfor: 22% dari RDA
  • Selenium: 13% dari RDA

Tak hanya itu, susu juga merupakan sumber yang baik dari vitamin A, magnesium, zinc, dan thiamin (B1).

3. Sumber yang baik dari protein

Susu kaya akan kandungan protein. Protein sendiri memegang peranan penting pada tubuh, seperti pertumbuhan dan perkembangan, perbaikan sel, hingga regulasi sistem kekebalan.

Ada dua jenis protein yang ditemukan pada susu, yakni kasein dan whey. Keduanya merupakan protein berkualitas tinggi.

Kasein membentuk sebagian besar protein yang ditemukan dalam susu sapi, yang terdiri dari 70-80 persen dari total kandungan protein. Sedangkan, protein whey menyumbang sekitar 20 persen.

Protein whey mengandung asam amino rantai cabang leusin, isoleusin, dan valin. Ketiganya memiliki manfaat kesehatan.

4. Menjaga kesehatan tulang

Manfaat susu selanjutnya dapat membantu menjaga kesehatan tulang si Kecil, lho Moms. Manfaat ini tidak lepas dari kandungan kalsium, fosfor, kalium, protein, dan vitamin K2. Semua nutrisi penting ini dibutuhkan untuk kesehatan tulang yang baik.

Bahkan, sekitar 99 persen kalsium tubuh disimpan di dalam tulang dan gigi.

5. Menjaga kesehatan gigi

Seperti yang sudah disebutkan bahwa susu juga memiliki manfaat untuk menjaga kesehatan gigi. Sebab, susu mengandung kalsium dan fosfor yang dibutuhkan untuk kesehatan dan perkembangan gigi.

Dikutip dari laman Mom Junction, salah satu protein penting yang ditemukan dalam susu, yakni kasein dapat membantu dalam pembentukan lapisan tipis pada email (lapisan paling luar pada gigi) dan mencegah hilangnya kasium dan fosfat.

Baca juga: Apakah Almond Milk Bisa Jadi Alternatif Susu untuk Bayi? Berikut Penjelasannya

Kapan waktu terbaik minum susu?

Memiliki manfaat dan kandungan berlimpah, menjadikan susu penting dikonsumsi untuk si Kecil. Namun, kapan sebaiknya si Kecil mengonsumsi susu?

Menurut dr Saptawati Bardosono, MSc. seorang pakar gizi medik dari Universitas Indonesia khusus bagi anak-anak, sebaiknya hindarilah memberikan susu mendekati waktu makan.

Mengapa demikian? Sebab, susu memiliki sifat yang mengenyangkan sehingga membuat si Kecil tidak nafsu makan.

Untuk menghindari hal ini, disarankan untuk minum susu dua jam sebelum atau sesudah makan. Ini juga dimaksudkan agar kandungan kalsium yang terdapat dalam susu dapat terserap dengan maksimal.

Bagaimana dengan pagi atau malam hari?

Pada dasarnya meminum susu di malam dan pagi hari memiliki manfaatnya tersendiri. Meminum susu di pagi hari dapat menyediakan protein yang si Kecil butuhkan di siang hari. Sementara itu, meminum susu di malam hari memberikan manfaat istirahat yang baik.

Nah, agar Moms lebih memahami mengenai kelebihan mengonsumsi susu di pagi dan malam hari, berikut adalah penjelasan masing-masing seperti yang telah dirangkum dari Firstcry.com.

Kelebihan meminum susu di pagi hari

  • Segelas susu dan sereal adalah adalah cara bergizi untuk memulai hari si Kecil
  • Susu dikemas dengan nutrisi seperti kalium, kalsium, fosfor, magnesium, protein dan vitamin yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan si Kecil.

Kelebihan minum susu di malam hari

  • Susus terdiri dari banyak manfaat kesehatan yang baik selain dari dua neurotransmitter
  • Membuat siklus tidur si Kecil tidak terganggu. Sebab, anak dapat merasa kenyang sepanjang malam dan menghindari rasa lapar di malam hari
  • Meminum susu di malam hari juga dapat membuat otot menjadi lebih rileks
  • Bermanfaat untuk kulit

Nah, itulah beberapa informasi mengenai waktu yang tepat bagi si Kecil untuk meminum susu. Jika Moms memiliki pertanyaan lainnya, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter, ya!

Konsultasikan seputar gizi anak melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Gizi Anak

Si Kecil Terlalu Kurang Berat Badannya? Waspadai Anoreksia pada Anak!

Anoreksia adalah gangguan makan yang dapat menyebabkan penurunan berat badan yang parah. Bukan cuma dialami orang dewasa, tapi mungkin juga terjadi anoreksia pada anak. 

Jika dialami orang dewasa, biasanya penderita anoreksia merasa obsesif dengan berat badannya. Orang tersebut akan sibuk mengatur asupan kalori yang masuk ke dalam tubuhnya. Bagaimana dengan anoreksia pada anak?

Mengenal anoreksia pada anak

Dilansir dari Stanford Children’s Health, ternyata anak-anak dan remaja yang mengalami anoreksia juga memiliki penilaian yang salah tentang tubuh. Mereka merasa memiliki berat badan yang berlebih, yang akhirnya membuat mereka membatasi makanan. 

Perilaku tersebut dapat semakin parah dan mengarah pada hal-hal lain yang mereka anggap dapat menghentikan penambahan berat badan. Namun, tidak semua mengalami hal ini. Karena itu, anoreksia dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

Anoreksia yang membatasi makanan

Maksudnya adalah anak-anak dengan anoreksia tipe ini akan sangat membatasi apa saja yang mereka makan. Mereka akan dengan sangat hati-hati menghitung kalori yang masuk ke dalam tubuh. Tak jarang mereka mengeliminasi makanan berlemak dan berkarbohidrat tinggi. 

Anoreksia bulimik

Jika mengalami anoreksia jenis ini, anak-anak yang mengalami mungkin terlihat masih makan dengan wajar. Namun setelah makan, mereka melakukan hal-hal yang mereka pikir akan menggagalkan makanan tersebut dicerna oleh tubuh.

Mereka akan memuntahkan makanan yang sudah masuk ke dalam tubuh. Selain itu, mereka akan memaksakan diri dengan cara apapun agar makanan keluar lagi. Bahkan, beberapa orang juga menggunakan obat pencahar dalam jumlah banyak dengan tujuan mengeluarkan semua yang ada di perut mereka. 

Apa penyebab anoreksia pada anak?

Tidak diketahui pasti apa yang menyebabkan anoreksia pada anak. Namun, seringkali diawali dari diet biasa. Kemudian berubah menjadi keinginan menurunkan berat badan yang ekstrem. 

Beberapa faktor lain yang mungkin dapat menjadi penyebab anoreksia antara lain:

  • Sikap sosial terhadap penampilan tubuh
  • Pengaruh keluarga
  • Genetika
  • Ketidakseimbangan kimiawi otak
  • Masalah perkembangan

Anak-anak dengan anoreksia cenderung berasal dari keluarga yang memiliki riwayat:

  • Bermasalah dengan berat badan
  • Penyakit fisik
  • Masalah kesehatan mental seperti gangguan depresi atau penyalahgunaan obat

Gejala anoreksia pada anak? 

Tidak semua anak menunjukkan gejala yang sama, tetapi berikut ini adalah gejala umum yang mungkin muncul, yaitu:

  • Memiliki berat badan yang rendah
  • Takut gemuk, walau sudah mengalami penurunan berat badan
  • Memiliki pandangan yang menyimpang tentang berat badan, ukuran, atau bentuk tubuh. Misalnya, anak melihat tubuhnya sendiri terlalu gemuk, meski nyatanya sudah terlihat kurus
  • Tidak menerima walau sudah memiliki berat badan yang normal
  • Pada anak perempuan, kemungkinan melewatkan 3 periode menstruasi
  • Memaksakan diri untuk melakukan banyak aktivitas fisik untuk membantu penurunan berat badan
  • Mengabaikan rasa lapar
  • Terobsesi dengan membuat makanan
  • Memiliki perilaku makan yang aneh
  • Menarik diri secara sosial, kesal, murung, atau depresi

Selain itu, berikut beberapa gejala fisik terkait anoreksia yang muncul akibat kelaparan dan kurang gizi, di antaranya:

  • Kulit sangat kering
  • Kehilangan cairan (dehidrasi)
  • Sakit perut
  • Sembelit
  • Lesu
  • Pusing
  • Kelelahan yang ekstrem
  • Sensitivitas terhadap suhu dingin
  • Menjadi sangat kurus
  • Pertumbuhan bulu halus di tubuh
  • Kulit menguning

Gejala tersebut bisa terlihat seperti gejala penyakit lainnya. Jika terjadi pada anak, Moms sebaiknya menemui dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. 

Siapa yang lebih berisiko mengalami kondisi ini? 

Kebanyakan anoreksia pada anak dialami oleh perempuan. Namun, anak laki-laki tidak menutup kemungkinan juga mengalaminya. Selain itu, dulunya kondisi ini seringkali ditemukan pada keluarga kelas menengah dan atas. Namun, sekarang ditemukan di berbagai kelompok sosial ekonomi, pada banyak ras dan juga etnis.

Apakah ada komplikasi yang mungkin terjadi? 

Anoreksia dapat menyebabkan kekurangan gizi, jika tidak diatasi dapat membahayakan hampir semua sistem organ dalam tubuh. Bisa berakibat fatal dan menimbulkan berbagai macam penyakit. Penyakit tersebut di antaranya:

  • Penyakit jantung. Anoreksia dapat menyebabkan kerusakan jantung karena kekurangan gizi, yang menyebabkan anak mungkin memiliki detak jantung yang lambat, lebih cepat atau tidak teratur. Anak juga mungkin memiliki tekanan darah rendah. 
  • Kekurangan darah. Satu dari 3 anak dengan anoreksia mengalami anemia ringan. Sementara setengah dari anak dengan anoreksia memiliki jumlah sel darah putih yang rendah.
  • Masalah saluran pencernaan. Makanan yang sangat terbatas akan membuat gerakan usus melambat, untungnya kondisi ini dapat diatasi dengan beberapa obat dan dapat kembali makan dengan normal.
  • Penyakit ginjal. Anoreksia dapat menyebabkan dehidrasi, dan ini dapat memengaruhi kesehatan ginjal. 
  • Sistem endokrin. Anoreksia pada anak perempuan dapat menyebabkan terlambatnya menstruasi dan memengaruhi hormon pertumbuhan pada remaja. 
  • Kesehatan tulang. Risiko patah tulang lebih tinggi pada anak dengan anoreksia. Jika terjadi sebelum puncak pembentukan tulang, yang biasanya berlangsung hingga akhir remaja, akan ada risiko penurunan jaringan tulang atau pengeroposan tulang.

Bagaimana mengobatinya?

Pengobatan anoreksia pada anak tergantung dari gejala, usia dan kondisi kesehatannya. Namun, secara umum, pengobatan bisa berupa campuran terapi seperti:

  • Terapi individu
  • Terapi keluarga
  • Melatih perubahan perilaku
  • Rehabilitasi nutrisi
  • Obat antidepresan jika anak sampai mengalami depresi

Dilansir dari WebMd, anoreksia, bagaimanapun adalah gangguan makan. Karena itu mengobatinya juga dengan makan. Seperti pengalaman seorang anak dengan anoreksia bernama Megan, yang diobati dengan makanan. 

“Kami memberi tahu orang tua Megan, bahwa anak mereka sakit,” kata Patricia T. Siegel, PhD, seorang psikolog anak di Children’s Hospital di Detroit. Kemudian dokter meminta orang tua Megan untuk memberikan obat, dalam hal ini obatnya adalah makanan. 

Dalam mengobati anoreksia pada anak, dibutuhkan kerjasama antara orang tua dan dokter atau terapis. Hal ini disepakati oleh Ivan Eisler, PhD, psikolog dari Universitas London, bahwa orang tua adalah teman terbaik untuk terapis mengobati anoreksia pada anak.

Jika Moms merasa adanya gangguan makan pada anak, sebaiknya segera hubungi dokter. Minta bantuan dokter sebelum kondisi menjadi semakin parah. 

Demikian informasi tentang anoreksia pada anak. Jika punya pertanyaan lebih lanjut, konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Gizi Anak

Waspadai Jajanan Anak Mengandung Boraks: Kenali Ciri-cirinya!

Pasti kamu sering mendengar penggunaan boraks dalam makanan atau jajanan di tempat umum?

Meski sudah dilarang, namun kita tidak bisa menutup kemungkinan masih ada saja penjual nakal yang menggunakan bahan berbahaya ini ke dagangan mereka.

Untuk mengetahui seperti apa ciri makanan yang mengandung boraks, mari simak pembahasannya berikut ini!

Apa itu boraks?

Melansir Badan Pengawas Obat dan Makanan, boraks adalah senyawa dengan nama kimia natrium tetraborat yang berbentuk kristal lunak boraks bila dilarutkan dalam air akan terurai menjadi natrium hidroksida dan asam borat. 

Boraks adalah senyawa yang kerap digunakan dalam bahan nonpangan seperti di antaranya:

  • Untuk campuran pembuatan gelas
  • Sebagai pengawet kayu
  • Salah satu bahan salep kulit
  • Boraks gliserin untuk antiseptik
  • Campuran pupuk tanaman

Sayangnya, banyak oknum yang menyalahgunakan boraks dan memasukkannya ke makanan. Boraks kerap disalahgunakan untuk menjadi pengenyal pada pangan seperti bakso, mie, kerupuk dan empek-empek. 

Batas aman penggunaan boraks pada makanan secara legal adalah 1 gram per 1 kilogram pangan (1/1.000). Sayangnya, tak semua penjual makanan mematuhi aturan tersebut.

Penggunaan boraks dalam makanan

Asam borat dan boraks telah lama digunakan sebagai bahan tambahan dalam berbagai makanan. Karena asam borat dan boraks efektif melawan ragi, dan pada tingkat yang lebih rendah, melawan jamur dan bakteri.

Keduanya dapat digunakan untuk mengawetkan produk makanan. Selain itu, kedua bahan tambahan ini dapat digunakan untuk meningkatkan kekenyalan dan kerenyahan makanan serta mencegah udang menjadi gelap.

Pada konsentrasi rendah, boraks dapat diubah menjadi asam borat dalam tubuh sebelum diserap. Pada manusia, diyakini bahwa reaksi merugikan yang terkait dengan asam borat dosis rendah per hari tidak mungkin terjadi.

Namun, paparan asam borat dalam jumlah besar dalam waktu singkat dapat memengaruhi lambung, usus, hati, ginjal, dan otak, dan bahkan dapat menyebabkan kematian.

Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa konsumsi asam borat yang berlebihan dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan efek perkembangan dan reproduksi yang merugikan.

Baca Juga : Tangkal Hoaks: Tidak Mengandung Formalin, Ini 4 Bahan Dasar Vaksin Sinovac

Bahaya boraks jika termakan

Boraks sangat berbahaya bagi kesehatan manusia apabila terhirup, terminum, termakan lalu masuk ke dalam tubuh manusia dalam jumlah banyak.

Makanan mengandung boraks yang dikonsumsi sedikit demi sedikit akan mengakibatkan terjadinya akumulasi bahan kimia boraks yang bersifat karsinogen dalam organ tubuh manusia seperti hati, otak, ginjal, dan testis. 

Melansir situs Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, konsumsi makanan mengandung boraks dalam jumlah banyak dapat menimbulkan gejala:

  • Pusing
  • Muntah
  • Mencret
  • Kejang perut
  • Hilang nafsu makan
  • Kerusakan ginjal dan hati
  • Gangguan susunan saraf pusat

Ciri-ciri makanan yang mengandung boraks

Sebelum membeli jajanan atau makanan di tempat umum, cara termudah melihat boraks adalah dengan memeriksa bentuk fisiknya.

Makanan mengandung borak umumnya memiliki tekstur yang sangat kenyal, tidak mudah hancur, atau sangat renyah. Makanannya juga dapat bertahan sampai beberapa hari jika disimpan dalam suhu kamar. 

Contoh makanan yang mengandung boraks:

  • Bakso: pada bakso yang mengandung boraks teksturnya kenyal dengan warna cenderung agak putih dan sangat gurih. Bakso dengan daging asli biasanya punya warna kecoklatan
  • Kerupuk: memiliki tekstur sangat renyah dan rasa getir
  • Tahu: olahan tahu yang proses produksinya menggunakan boraks rasanya tajam, sangat gurih, terasa getir pada lidah
  • Mie: produk mie yang menggunakan boraks sebagai pengawet menjadi sangat mengkilap seperti dilumuri minyak, tidak lengket dan tidak mudah putus

Selain pada beberapa jenis makanan tadi, boraks juga kerap digunakan sebagai pengawet untuk kecap, teh, cenil, kerupuk, dan beragam jenis makanan lain.

Boraks dan jajanan anak-anak

Konsumsi boraks juga dapat menyebabkan kematian pada bayi dan anak-anak jika dosis toksik boraks dalam tubuh yang telah mencapai lebih dari 5 gram. 

Selain harus menghindari makanan mengandung boraks, Moms juga sebaiknya menghindarkan anak dari makanan atau jajanan yang mengandung boraks. 

Boraks juga banyak digunakan sebagai bahan dalam mainan anak-anak seperti slime dan squishy. Beberapa risiko potensial jika seorang anak menelan boraks meliputi:

  • Diare
  • Syok
  • Muntah
  • Kematian

Orangtua harus menghindari penggunaan pestisida, kosmetik, atau produk lain yang mengandung boraks.

Misalnya, jika seorang anak menyentuh pestisida, mereka mungkin secara tidak sengaja ‘menelan’ pestisida tersebut ke dalam tubuh mereka melalui kontak dengan tangan mereka.

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar kesehatan? Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Gizi Anak

Daftar Makanan Bayi 6 Bulan agar Cepat Gemuk, Apa Saja?

Makanan bayi 6 bulan agar cepat gemuk perlu dipilih oleh orangtua dengan tepat. Hal ini dilakukan agar bayi mendapatkan nutrisi dan dapat tumbuh secara sehat melalui beberapa makanan pilihan.

Kenaikan berat badan bayi merupakan salah satu perhatian utama bagi kebanyakan orangtua. Nah, untuk mengetahui apa saja makanan bayi 6 bulan agar cepat gemuk, yuk simak penjelasannya berikut.

Baca juga: Daftar Makanan yang Tepat Diberikan saat Anak Mengalami Muntah Berat

Apa saja makanan bayi 6 bulan agar cepat gemuk?

Jika Moms merasa berat badan bayi tidak bertambah, maka perlu mencari bantuan dari dokter atau melakukan konsultasi laktasi. Biasanya, dokter dan konsultan akan bekerja sama untuk memetakan pertumbuhan bayi terhadap grafik pertumbuhan rata-rata.

Penting untuk mengetahui makanan yang cocok diberikan pada bayi 6 bulan untuk menambah berat badan dengan sehat. Dilansir dari Babydestination.com, berikut beberapa makanan yang bisa diberikan.

Air susu ibu atau ASI

ASI dianggap sebagai makanan terbaik untuk bayi. Kebanyakan dokter anak akan merekomendasikan ibu untuk menyusui bayinya dalam waktu satu jam setelah lahir dan memberikan ASI eksklusif hingga usia 6 bulan.

Perlu diketahui, ASI dapat memberikan energi dan lemak sehingga cocok dijadikan sebagai makanan bayi 6 bulan agar cepat gemuk. Pola makan yang dikonsumsi ibu menyusui umumnya memengaruhi kualitas ASI.

Karena itu, ibu harus mengonsumsi makanan bergizi agar menghasilkan ASI berkualitas baik.

Pisang

Pisang merupakan sumber energi instan di mana memiliki kandungan kalium, vitamin B6, dan vitamin C yang bagus untuk bayi. Selain itu, sebagian besar buah ini juga terdiri dari karbohidrat sehingga dapat membantu menambah berat badan dengan cara yang sehat. 

Buah pisang dapat diberikan kepada bayi usia 6 bulan atau lebih. Namun, jika anak sudah berusia lebih dari 1 tahun maka bisa diberikan pisang dalam bentuk yang sudah diolah, seperti milkshake atau pun bubur.

Daging

Bayi berusia 6 bulan bisa mulai diperkenalkan makanan padat, termasuk daging. Tak hanya memperlancar penambahan berat badan, daging juga memberikan protein, fosfor, niacin, magnesium, vitamin B6 dan vitamin B12 untuk bayi.

Daging yang dapat dikenalkan adalah ayam dan kambing atau sapi. Makanan dengan olahan daging ini bisa diberikan dalam bentuk sop, dihaluskan, kaldu, atau rebusan yang mudah dimakan oleh bayi.

Ubi jalar

Ubi jalar tak hanya enak dimakan, namun juga kaya akan serat serta karbohidrat sehingga bagus untuk membantu bayi bertambah gemuk. Makanan satu ini mengandung magnesium, kalium, vitamin A, dan vitamin C sehingga dapat meningkatkan kesehatan tubuh.

Bayi berusia 6 bulan bisa diberikan ubij jalar dengan berbagai cara, seperti direbus ataupun dihaluskan. Perhatikan pemberian makanan pada bayi, terutama jika baru diperkenalkan makanan padat.

Telur

Telur dapat diandalkan sebagai makanan bayi 6 bulan agar cepat gemuk. Hal ini dikarenakan telur merupakan sumber protein yang sangat kaya dan juga mengandung vitamin A dan vitamin B12.

Keju

Cara sehat lain untuk menambah berat badan bayi 6 bulan adalah dengan memberikan keju. Perlu diketahui, keju mengandung kalsium, protein, fosfor, lemak baik, selenium, dan kalium yang sangat baik untuk pertumbuhan bayi.

Tips memberi makan pada bayi

Asupan makanan untuk bayi tidak terbatas pada waktu makan dan camilan. Namun, kamu sebaiknya mempertimbangkan cara yang tepat untuk meningkatkan berat badan bayi, seperti berikut ini.

Jadwalkan pemberian makan

Ingatlah bahwa bayi lebih selaras dengan kebutuhannya sehingga jika lapar, maka segera berikan makanan. Seiring bertambahnya usia, kamu dapat mulai menetapkan waktu makan yang telah ditentukan.

Setelah bayi berusia 6 bulan atau lebih, jadwalkan pemberian makanan untuk mendorong kebiasaan sehat. Pastikan juga untuk menjadwalkan waktu ngemil di pagi dan sore hari karena perut kecil tidak memiliki banyak cadangan.

Kebersamaan waktu makan

Makan bersama keluarga secara kondusif dapat membuat bayi mudah menerima makanan baru. Minimalkan gangguan dengan mematikan ponsel dan TV saat makan. Membacakan cerita mungkin bisa menjadi cara terbaik untuk membuat bayi bisa menerima makanan.

Baca juga: Benarkah Zat Besi Bisa Optimalkan Perkembangan Kognitif Anak?

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!