Categories
Puasa

Sering Sakit Perut Saat Puasa? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya!

Berbagai hal bisa terjadi pada tubuh saat puasa, termasuk sakit perut. Kondisi ini dapat membuat puasamu terasa berat dan aktivitas jadi tidak lancar.

Sebuah artikel dalam laman Harvard Health Publishing menyebutkan bahwa sakit perut sebagai salah satu kondisi yang mungkin terjadi saat kamu berpuasa. Selain itu, efek samping lainnya adalah sakit kepala, letih hingga emosi naik-turun.

Baca juga: Tak Cuma Lapar dan Haus, Ini yang Terjadi pada Tubuh Saat Kamu Berpuasa

Penyebab sakit perut saat puasa

Sakit perut bisa disebabkan oleh berbagai hal seperti berikut ini:

Konstipasi

Banyak orang mengalami sakit perut yang dipicu konstipasi saat puasa. Kondisi ini bahkan merupakan masalah pencernaan yang umum terjadi saat Ramadan.

Gangguan pencernaan yang terjadi saat puasa ini disebabkan oleh perubahan pergerakan makanan di sistem pencernaan. Aktivitas ini berlangsung lebih lama daripada biasanya. 

Oleh karena itu, feses menjadi lebih keras. Frekuensi buang air besar pun jadi tidak teratur dan terasa sakit saat mengejan.

Asam lambung

Sakit perut yang terasa seperti terbakar bisa terjadi karena peningkatan asam lambung di masa puasa. Asam lambung berfungsi untuk mencerna makanan dan menghancurkan bakteri yang masuk ke saluran pencernaan.

Pada dasarnya, asam lambung juga menurun saat makanan terlalu sedikit masuk ke dalam saluran pencernaan. Tapi, karena lapar, kamu akan cenderung memikirkan makanan dan memicu otak untuk memberitahu lambung agar menghasilkan lebih banyak asam.

Itu sebabnya asam lambung menjadi meningkat dan menyebabkan sakit perut, bahkan terasa terbakar di dada.

Diare

Diare pada dasarnya terjadi saat makanan dan nutrisi terlalu cepat melewati saluran pencernaan. Akibatnya, makanan ‘meninggalkan’ tubuh tanpa sempat diserap secara maksimal.

Mengalami diare di masa puasa merupakan efek samping dari dehidrasi, malnutrisi, penyerapan yang tidak maksimal, kram, mual hingga pusing-pusing.

Yang perlu kamu catat, diare di masa puasa bisa sangat mengganggu dan berbahaya. Pasalnya, pada saat puasa tubuh kamu cenderung akan lebih mudah terasa pusing dan lelah. Oleh karena itu diare akan membuatnya terasa lebih parah.

Penyebab diare saat puasa

Pada saat puasa, diare bisa terjadi karena sekresi berlebih air dan garam di saluran pencernaan. Ada beberapa pemicu kondisi ini, salah satunya adalah minum minuman tinggi kafein seperti teh dan kopi.

Namun demikian, puasa sebenarnya tidak akan menyebabkan diare. Kemungkinan kamu terkena penyakit yang menyebabkan sakit perut saat puasa ini sebagai efek pola makan saat berbuka atau sahur.

Karena pada saat kamu berpuasa, kerja saluran pencernaan sedang berkurang karena tidak terlalu banyak dipakai.

Bagaimana mencegah sakit perut saat puasa?

Malaysian Dietitians Association memberikan langkah berikut ini untuk kamu jalankan untuk mencegah sakit perut timbul saat puasa:

  • Hindari makan berlebih: Karena saat kamu makan terlalu banyak, perut akan menjadi sangat tertekan. Hal ini membuat asam lambung naik dan menyebabkan heartburn
  • Makan dengan perlahan: Makan dengan perlahan bukan hanya baik bagi sistem pencernaan, tapi juga membuat kamu cenderung makan dengan porsi yang sedikit
  • Batasi makanan berminyak dan digoreng: Lemak merupakan masalah bagi pencernaan. Hal ini karena makanan berlemak susah dicerna dan dapat memicu asam lambung naik ke kerongkongan. 
  • Hindari makanan pedas: Makanan pedas dapat menyebabkan sakit perut. Hal ini akan sangat membuat kamu tidak nyaman saat berpuasa
  • Berjalan setelah makan: Berdiam dan tidak banyak bergerak setelah makan membuat kamu cenderung terkena heartburn. Karena itu, berjalanlah sebentar setelah makan. Jangan lupa juga untuk tetap berolahraga di masa puasa
  • Tetap konsumsi obat-obatan: Jika kamu memang sedang mengonsumsi obat untuk kesehatan pencernaan, jangan berhenti, tapi sesuaikan konsumsinya saat berpuasa

Demikianlah berbagai penjelasan tentang sakit perut saat puasa. Selalu jaga kondisi kesehatan kamu selama bulan Ramadan, ya!

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Categories
Info Sehat

Gusi Bengkak dan Bernanah? Jangan Panik, Ini Cara Mengatasinya

Gusi bengkak dan bernanah relatif umum terjadi. Kabar baiknya adalah, ada banyak hal yang dapat kamu lakukan di rumah untuk meringankan ketidaknyamanan yang kamu rasakan.

Meski begitu, ada juga yang bertahan sampai berminggu-minggu. Yuk, kenali lebih jauh tentang keluhan kesehatan tersebut dengan membaca ulasan berikut.

Baca juga: Bayi Diare Saat Tumbuh Gigi, Apakah Normal?

Penyebab gusi bengkak dan bernanah

Dilansir dari Healthline, berikut adalah beberapa hal yang bisa menjadi faktor penyebab gusi bengkak di sekitar satu gigi.

1. Radang gusi

Disebut juga dengan gingivitis, ini adalah penyebab paling umum dari pembengkakan gusi. Banyak orang tidak tahu bahwa mereka menderita radang gusi karena gejalanya bisa jadi sangat ringan.

Namun, jika tidak diobati, gangguan tersebut pada akhirnya dapat menyebabkan kondisi yang jauh lebih serius yang disebut periodontitis dan kemungkinan kehilangan gigi.

Gingivitis paling sering disebabkan oleh kebersihan mulut yang buruk, yang memungkinkan penumpukan plak di garis gusi dan gigi.

Plak adalah lapisan yang terdiri dari bakteri dan partikel makanan yang mengendap di gigi dari waktu ke waktu. Jika plak tertinggal di gigi selama lebih dari beberapa hari, itu menjadi karang gigi.

2. Kehamilan

Gusi bengkak dan bernanah juga bisa terjadi selama kehamilan. Hormon yang dihasilkan tubuh selama kehamilan dapat meningkatkan aliran darah di gusi. Peningkatan ini dapat menyebabkan gusi jadi lebih mudah teriritasi, sehingga menyebabkan pembengkakan serta nanah.

Perubahan hormonal ini juga dapat menghalangi kemampuan tubuh untuk melawan bakteri yang biasanya menyebabkan infeksi gusi. Ini dapat meningkatkan kemungkinan masalah kesehatan gigi ini terjadi pada dirimu.

3. Infeksi

Infeksi yang disebabkan jamur dan virus berpotensi menyebabkan masalah gusi. Misalnya, jika kamu menderita herpes, hal itu dapat menyebabkan kondisi yang disebut gingivostomatitis herpes akut.

Ini sangat mungkin membuat gusi mengalami infeksi lalu membengkak dan juga bernanah. Sariawan, yang merupakan hasil dari pertumbuhan berlebih jamur alami di mulut, juga dapat menyebabkan masalah ini.

Langkah mengatasi gusi bengkak dan bernanah

Perawatan medis untuk gangguan ini bisa dimulai dengan melakukan pengobatan rumahan seperti:

  • Tenangkan gusi dengan menyikat dan membersihkan gigi dengan benang secara lembut, agar tidak menyebabkan iritasi.
  • Beli benang gigi, lalu bersihkan sela-sela gigi dari sisa makanan penyebab bakteri menumpuk.
  • Bilas mulut dengan larutan air asin untuk membersihkan mulut dari bakteri.
  • Minum banyak air. Air akan membantu merangsang produksi air liur, yang melemahkan bakteri penyebab penyakit di mulut.
  • Hindari bahan iritan, termasuk obat kumur yang kuat, alkohol, dan tembakau.
  • Tempelkan kompres hangat di wajah untuk mengurangi nyeri gusi. Kompres dingin dapat membantu mengurangi pembengkakan.

Pencegahan

Mengambil langkah untuk mencegah keluhan ini terjadi adalah bagian penting dari perawatan gigi apa pun. Tindakan ini di antaranya adalah:

  • Sikat secara teratur, setidaknya dua kali setiap hari atau setelah makan.
  • Bersihkan sela-sela gigi dengan benang secara teratur.
  • Gunakan produk oral yang lembut seperti pasta gigi dan obat kumur.
  • Hindari minuman manis, karena dapat menyebabkan penumpukan bakteri di mulut.
  • Sebaiknya hindari tembakau, termasuk merokok atau mengunyahnya.
  • Hindari alkohol dan obat kumur beralkohol, karena alkohol dapat mengeringkan dan mengiritasi gusi.
  • Hindari makanan tajam seperti keripik, biji-bijian, dan berondong jagung, yang dapat tersangkut di gigi dan menyebabkan nyeri.

Kapan harus ke dokter?

Meskipun pengobatan rumahan dapat membantu mengatasi gangguan gusi yang menjengkelkan ini untuk sementara waktu. Namun, itu bukanlah pengganti diagnosis dan pengobatan dari ahli kesehatan.

Kondisi yang mendasari terjadinya keluhan ini dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat. Siapa pun yang mengalami gusi bengkak dan bernanah, harus menemui dokter gigi untuk diagnosis dan perawatan lengkap.

Jika masalah ini tetap terjadi selama lebih dari seminggu, buatlah janji dengan dokter gigi untuk mendapatkan rekomendasi perawatan yang tepat.

Jangan lupa untuk untuk mengecek kondisi kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Caranya mudah, cukup download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Categories
Kamus Obat

Fentanyl

Fentanyl (fentanil) merupakan obat-obatan opioid sintesis turunan fenilpiperidin yang sering dimanfaatkan sebagai analgesik. Obat ini termasuk dalam satu kelompok dengan morfin.

Fentanyl kali pertama disetujui untuk penggunaan medis di Amerika Serikat pada 1968. Kini, obat ini telah masuk dalam Daftar Obat Esensial Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan banyak digunakan di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Berikut informasi selengkapnya mengenai fentanyl, manfaat, dosis, cara pakai, serta risiko efek samping yang mungkin terjadi.

Untuk apa obat fentanyl?

Fentanyl adalah obat nyeri narkotik yang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit atau nyeri yang parah, seperti setelah operasi atau kanker ganas. Obat ini mungkin juga diresepkan untuk menghilangkan rasa sakit lain yang parah ketika obat lain sudah tidak bekerja.

Biasanya, fentanyl diberikan secara transdermal, yakni melalui permukaan kulit berupa plester. Kemudian, obat dapat terserap secara perlahan dan masuk ke dalam sistem peredaran darah langsung ke jantung. Obat ini hanya bisa digunakan dengan pengawasan dari dokter.

Terkadang, obat juga diberikan secara parenteral (suntikan) untuk mengontrol kondisi nyeri akut.

Apa fungsi dan manfaat obat fentanyl?

Fentanyl berfungsi sebagai pereda nyeri dengan mengikat reseptor opioid tubuh dan meningkatkan kadar dopamin dalam otak.

Peningkatan kadar dopamin tersebut dapat membuat seseorang mengalami relaksasi, mengurangi rasa sakit, dan euforia (rasa bahagia meningkat).

Fentanyl dapat menekan pusat pernapasan dan refleks batuk serta menyempitkan pupil mata. Obat ini dapat bekerja dalam beberapa menit untuk menghilangkan rasa sakit dan memiliki durasi efek yang pendek, yakni hanya 30-90 menit.

Dalam bidang medis, fentanyl sering dimanfaatkan untuk beberapa kondisi berikut:

Nyeri akut

Fentanyl diberikan sebagai pereda nyeri selama operasi dan setelah operasi melalui suntikan (parenteral). Biasanya, obat ini diberikan untuk mengatasi nyeri berdurasi pendek, seperti dalam prosedur diagnostik.

Fentanyl sangat mudah larut dalam lemak sehingga lebih mudah melewati sawar cairan darah-serebrospinal. Dengan demikian, ia dapat menghasilkan efek analgesik lebih cepat daripada morfin.

Karena durasi kerja yang lebih pendek, obat ini cocok diberikan untuk keperluan analgesik dan pemulihan cepat dari sedasi. Untuk mengoptimalkan penggunaan, biasanya obat ini diberikan bersama dengan obat lain yang sesuai.

Obat dapat diberikan dengan disuntikkan ke otot (intramuskuler), tetapi suntikan ke pembuluh darah (intravena) lebih direkomendasikan. Hal ini karena suntikan intramuskuler dapat menyebabkan nyeri dan trauma apabila digunakan berulang.

Nyeri kanker ganas

Perawatan untuk menghilangkan nyeri karena kanker ganas biasanya membutuhkan pengobatan jangka panjang. Oleh karena itu, fentanyl dalam bentuk plester atau koyok sering diresepkan untuk menghilangkan nyeri kanker ganas.

Namun, obat ini hanya diberikan sebagai alternatif apabila pasien tidak dapat menerima pereda nyeri yang memadai. Alasannya karena fentanyl berisiko tinggi menyebabkan ketergantungan, risiko overdosis, dan kematian, meskipun dalam dosis yang sesuai.

Pemberian obat ini untuk pasien harus benar-benar dipertimbangkan, terutama untuk jangka panjang. Sebaiknya obat tidak diberikan apabila diketahui pasien tidak toleran terhadap obat opioid.

Nyeri kronis lainnya

Fentanyl yang diberikan secara transdermal juga dapat diberikan untuk perawatan nyeri kronis lain yang tidak berhubungan dengan kanker. Umumnya obat diberikan untuk nyeri kronis, yakni nyeri yang berlangsung selama lebih dari 3 bulan.

Pertimbangan untuk memberikan obat ini dilakukan apabila pasien tidak menanggapi obat nyeri kronis lain yang lebih aman dan memadai.

Pemberian obat dalam jangka panjang harus disertai dengan terapi perilaku yang memadai untuk mengantisipasi kemungkinan ketergantungan. Oleh karena itu, pengawasan ketat dari dokter diperlukan selama menggunakannya.

Anestesi

Fentanyl dapat digunakan sebagai obat bius (anestesi) dalam prosedur operasi. Obat ini diberikan baik untuk anestesi umum maupun lokal.

Fentanyl dapat juga diberikan untuk induksi anestesi sebelum operasi dalam operasi kecil yang memiliki durasi pendek. Misalnya, prosedur diagnostik atau perawatan yang mengharuskan pasien untuk terjaga atau dibius ringan.

Selain itu, obat ini juga dapat mencegah atau meredakan takipnea dan timbulnya delirium pascaoperasi.

Merek dan harga obat fentanyl

Obat ini hanya digunakan dengan pengawasan ketat dari dokter. Beberapa merek obat fentanyl yang telah beredar di Indonesia adalah Durogesic.

Obat ini bisa kamu jumpai di beberapa instansi kesehatan, seperti rumah sakit. Obat yang diresepkan oleh dokter, bisa kamu dapatkan baik di instalasi kesehatan rumah sakit atau apotek tertentu yang memiliki izin edar untuk obat-obatan narkotika.

Fentanyl mungkin sulit kamu jumpai di beberapa apotek lain karena memperjualbelikan obat ini di luar izin khusus, termasuk tindakan melanggar hukum.

Bagaimana cara pakai obat fentanyl?

Gunakan obat sesuai petunjuk cara pakai dan dosis yang telah diresepkan oleh dokter. Jangan menggunakan obat lebih banyak dari yang direkomendasikan.

Beritahu dokter apabila kamu mengalami perubahan perilaku saat menggunakan obat ini, seperti terlalu bersemangat dan perasaan ingin menggunakan obat lebih banyak.

Sediaan obat berupa suntikan akan diberikan oleh dokter, baik ke dalam pembuluh darah (intravena) atau ke dalam otot (intramuskuler).

Untuk sediaan koyok transdermal, jangan diaplikasikan pada kulit yang terluka. Aplikasikan koyok pada bagian kulit yang datar, seperti dada, lengan bagian atas, atau punggung supaya koyok menempel dengan baik.

Untuk mengaplikasikan obat transdermal, kamu bisa mengikuti instruksi berikut:

  1. Lepas plester/koyok dari bungkusnya. Jangan menggunakan gunting karena dapat memotong koyok. Jangan memotong koyok kecuali dokter yang memerintahkannya.
  2. Kupas plastik dari bagian belakang koyok. Jangan menyentuh bagian lengket dari koyok.
  3. Tempelkan bagian yang lengket dari koyok pada bagian kulit yang rata, kering, dan tidak terluka. Usahakan menghindari kulit yang terlalu berbulu, atau bila perlu gunting rambut pada kulit untuk memudahkan koyok menempel.
  4. Jangan menutupi koyok dengan apa pun, termasuk perban atau plester. Tanyakan pada dokter atau apoteker apabila kamu menjumpai koyok yang tidak menempel dengan baik.
  5. Cuci tangan setelah kamu menyentuh koyok. Sebaiknya cuci tangan dengan air mengalir.

Hindari terkena panas yang kuat atau sinar matahari saat menggunakan koyok. Hal ini dapat meningkatkan jumlah fentanyl yang terserap ke dalam kulit dan dapat meningkatkan risiko efek samping atau overdosis.

Jangan berhenti menggunakan obat tiba-tiba karena dapat memperburuk gejala yang kamu alami. Konsultasikan dengan dokter apabila ingin menghentikan pengobatan. Dokter mungkin akan mengurangi dosis secara perlahan dan mengalihkan ke obat lain yang memadai.

Jika kamu akan menjalani operasi, termasuk operasi kecil dan perawatan gigi, beritahu dokter bahwa menggunakan fentanyl.

Kamu bisa menyimpan obat pada suhu kamar, terhindar dari kelembapan dan sinar matahari setelah digunakan. Pastikan obat tersimpan di tempat aman dan jauh dari jangkauan anak-anak.

Berapa dosis obat fentanyl?

Dosis dewasa

Nyeri kronis yang tidak bisa disembuhkan

Dosis diberikan secara transdermal (koyok) berkisar 12-100mcg per jam. Dosis disesuaikan dengan kondisi pasien dan riwayat penggunaan opioid sebelumnya.

Premedikasi sebelum anestesi

Dosis diberikan secara intramuskuler: 50-100mcg harus diberikan 30 sampai 60 menit sebelum induksi anestesi.

Obat tambahan untuk anestesi umum

Untuk pasien yang tidak menggunakan alat bantu napas, dapat diberikan dosis 50 sampai 200mcg diikuti 50mcg dengan dosis maksimal 200mcg.

Untuk pasien yang menggunakan alat bantu napas, dapat diberikan dosis 300 sampai 3.500mcg (50mcg/kg) diikuti 100-200mcg tergantung respons pasien

Dosis anak

Obat tambahan untuk anestesi umum

Dosis lazim untuk anak usia 2 hingga 12 tahun dapat diberikan 2-3mcg/kg melalui suntikan intravena diikuti dosis 1mcg/kg.

Dosis lansia

Dosis untuk orang tua usia lanjut sebaiknya dipertimbangkan untuk diberikan dosis terendah yang paling efektif. Pengurangan dosis mungkin diperlukan.

Apakah fentanyl aman untuk ibu hamil dan menyusui?

U.S. Food and Drug Administration (FDA) memasukkan fentanyl dalam golongan obat kategori kehamilan C.

Studi penelitian telah hewan percobaan menunjukkan bahwa obat ini dapat menimbulkan risiko merugikan pada janin. Namun, studi terkontrol pada wanita hamil masih belum memadai. Penggunaan obat dapat dilakukan apabila potensi manfaat yang didapatkan lebih besar dari risikonya.

Obat ini diketahui dapat terserap dalam ASI sehingga tidak direkomendasikan untuk digunakan oleh ibu menyusui.

Apa efek samping obat fentanyl yang mungkin terjadi?

Pasien usia lanjut lebih mungkin mengalami efek samping, terutama efek depresi pernapasan dari fentanyl. Penggunaan obat untuk orang tua usia lanjut harus sangat hati-hati.

Berikut efek samping yang mungkin terjadi dari penggunaan fentanyl, antara lain:

  • Rasa kantuk
  • Kebingungan
  • Sembelit
  • Tubuh lemas
  • Mulut kering
  • Pupil mata menyempit
  • Ketidaksadaran
  • Pernapasan melambat
  • Penurunan detak jantung
  • Mual
  • Berkeringat
  • Otot kaku
  • Perasaan sesak di tenggorokan
  • Kesulitan dalam berkonsentrasi

Efek samping yang terkait dengan penggunaan obat secara transdermal termasuk kemerahan, ruam, gatal, dan bengkak pada bagian kulit bekas obat digunakan.

Apabila tiba-tiba berhenti menggunakan obat, dapat menimbulkan gejala putus obat biasanya mulai dalam 12 jam setelah dosis terakhir. Gejala ini dapat berlangsung selama 1 minggu atau lebih, yang meliputi:

  • Pupil mata berdilatasi
  • Muntah dan diare
  • Merinding
  • Pilek
  • Kepekaaan terhadap cahaya
  • Kegelisahan
  • Tubuh panas dingin
  • Agitasi
  • Insomnia
  • Nyeri umum yang parah.

Penggunaan opioid berulang sering mengakibatkan kecanduan. Oleh karena itu, penggunaan obat yang lebih aman sebaiknya dipertimbangkan.

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Kesehatan Mental

Depresi dan ingin Bunuh Diri Rentan Dialami Penyintas Stroke, Bagaimana Faktanya?

Bukan hanya pemulihan fisik saja yang penting diperhatikan bagi para penyintas stroke, melainkan juga kesehatan mental.

Sebuah studi melaporkan bahwa penyintas stroke rentan mengalami depresi dan melakukan percobaan bunuh diri. Bukan tanpa alasan, hal tersebut disebabkan oleh faktor tertentu.

Baca juga: Mengenal Psikoterapi Suportif, Berbicara sebagai Terapi untuk Mengutarakan Keresahan Hati

Mengenal stroke

Stoke adalah kondisi yang terjadi ketika suplai darah ke bagian otak terganggu atau berkurang, ini dapat menyebabkan jaringan otak tidak mendapatkan oksigen dan nutrisi yang cukup.

Stroke adalah keadaan darurat medis, perawatan yang tepat dan dilakukan dengan segera sangat penting.

Sebab, perawatan dini dapat mengurangi kerusakan otak dan komplikasi akibat stroke lainnya. ada dua penyebab utama dari stroke, yakni penyumbatan pada arteri (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik).

Kondisi ini bisa menimbulkan beberapa gejala, di antaranya adalah:

  • Kesulitan berbicara
  • Kelumpuhan atau mati rasa pada wajah, lengan, atau bahkan kaki
  • Gangguan penglihatan
  • Sakit kepala
  • Gangguan keseimbangan atau koordinasi.

Baca juga: Mengenal Gejala Stroke Batang Otak

Studi yang dilakukan

Berdasarkan sebuah ulasan yang diterbitkan dalam jurnal American Heart Association (AHA), penyintas stroke rentan mencoba bunuh diri atau meninggal karena bunuh diri, dibandingkan mereka yang tidak pernah mengalami stroke.  

Mengenai ulasan yang diterbitkan tersebut, peneliti memeriksa data dari 23 studi yang diterbitkan sebelumnya dengan total lebih dari 2 juta penyintas stroke.

Peneliti menemukan bahwa sekitar 5.563 orang dalam penelitian tersebut melakukan percobaan bunuh diri atau meninggal akibat bunuh diri.

Jika dibandingkan dengan orang-orang yang tidak pernah mengalami stroke, penyintas stroke 2 kali lipat lebih rentan melakukan percobaan bunuh diri.

Apa penyebabnya?

Penulis utama dalam studi tersebut, yakni Manav Vyas, MBBS, menjelaskan bahwa penyintas stroke memiliki konsekuensi kesehatan fisik, kognitif, dan mental yang dapat membuat mereka rentan melakukan percobaan bunuh diri.

Beberapa bulan pertama setelah penyembuhan stroke merupakan fase paling krusial untuk memantau kesehatan mental penyintas stroke. Studi menemukan bahwa beberapa tahun setelah berlalunya stroke, risiko bunuh diri menurun hingga 3 persen.

Akan tetapi, studi tidak melakukan pembahasan lebih lanjut mengenai apa yang menyebabkan risiko bunuh diri meningkat setelah stroke atau penurunan risiko seiring berjalannya waktu.

Kemungkinannya adalah terdapat beberapa faktor berperan, termasuk tingkat keparahan atau riwayat kondisi mental sebelumnya.

Penyintas stroke juga rentan mengalami depresi

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Stroke menemukan bahwa sekitar 1 dari 3 penyintas stroke mengalami depresi. Bahkan, setelah 5 tahun penyembuhan stroke, lebih dari 1 dari 5 penyintas stroke mengalami depresi.

Studi lain yang diterbitkan di Journal of Neurology, Neurosurgery, and Psychiatry menemukan bahwa depresi adalah salah satu faktor pemicu terbesar dari percobaan bunuh diri pada penyintas stroke.

Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa hampir 1 dari 8 penyintas stroke berpikir bunuh diri.

Jika dibandingkan dengan penyintas stroke yang tidak pernah mengalami depresi, seseorang dengan riwayat depresi memiliki risiko hampir 7 kali lipat lebih tinggi. Stroke berulang, keterbatasan fisik atau kognitif yang lebih parah juga memiliki risiko lebih tinggi untuk berpikiran bunuh diri.

Terkait dengan hal ini, Vyas mengataskan, “Banyak penderita stroke mungkin tidak dapat mengkomunikasikan perasaan mereka karena kekurangan bahasa setelah stroke. Sehingga penting untuk mengevaluasi suasana hati mereka dan menyaring depresi dan pikiran untuk bunuh diri.”

Gejala depresi pascastroke

Penting diketahui bahwa stroke dapat memicu perubahan kimiawi di otak yang menghalangi kemampuan merasakan emosi positif dan memperkuat perasaan negatif. Pada penyintas stroke, terdapat beberapa gejala lain yang patut diperhatikan, di antaranya adalah:

  • Perasaan sedih atau khawatir yang terus menerus terjadi
  • Merasa putus asa atau tidak berdaya
  • Penurunan minat pada hobi atau aktivitas sebelumnya yang disukai
  • Kelelahan
  • Kesulitan dalam berkonsentrasi
  • Insomnia
  • Perubahan pada nafsu makan dan berat badan.

Bagaimana cara menanganinya?

Tekait dengan laporan tersebut, memerhatikan kesehatan mental pada penyintas stroke penting dilakukan.

Ada beberapa terapi yang dapat membantu membangun kembali keterampilan yang bisa dilakukan oleh penyintas stroke. Seperti terapi wicara untuk meningkatkan keterampilan komunikasi, terapi fisik yang ditujukan untuk membangun kembali koordinasi dan gerakan.

Tak hanya itu, terapi okupasi juga dapat membantu membangun kembali kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Apabila depresi tidak segera ditangani, ini dapat menyulitkan proses rehabilitasi bagi penyintas stroke.

Maka dari itu, pengobatan depresi juga penting untuk dilakukan. Selain itu, peran serta dukungan dari keluarga juga sangat dibutuhkan.

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Puasa

Muntah saat Puasa? Yuk, Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya

Rasa mual dan ingin muntah saat puasa seringkali terjadi. Terutama pada minggu-minggu pertama saat berpuasa. Kondisi tersebut tentu tidak menyenangkan serta dapat mengganggu ibadah puasa.

Tapi apa sebenarnya penyebab muntah saat puasa? Bagaimana cara mengatasinya? Yuk, simak artikel di bawah ini.

Penyebab muntah saat puasa

Mual adalah salah satu masalah kesehatan yang kita rasakan saat berpuasa. Apalagi kalau kamu punya pola makan dan tidur yang kurang baik. Rasa mual dan muntah tentu sangat mengganggu kita dalam menjalani aktivitas. 

Tidak cuma karena pola makan kita saja, tetapi ada juga beberapa faktor yang jadi penyebab muntah saat kita berpuasa. Penyebab-penyebab ini perlu kamu ketahui dan hindari agar tidak menimbulkan bahaya serius bagi tubuh.

Berikut penyebab muntah saat puasa yang perlu kamu ketahui.

1. Menu makanan saat sahur

Saat sahur kita harus mempertimbangkan menu makanan, karena penyebab kita bisa merasa mual dan muntah ketika menjalani puasa adalah pilihan menu sahur yang tidak sehat.

Kamu harus memperhatikan asupan nutrisi saat sahur, cobalah hindari makanan berminyak. Ini karena makanan berminyak memiliki kadar lemak tinggi.

Perut akan memberikan sinyal ke otak untuk memperlambat pengosongan lambung lebih lama agar mencegah pelepasan lemak berlebih ke aliran darah.

Pastikan menu sahur kamu kaya asupan protein, karbohidrat, dan lemak yang seimbang. Kamu tidak mau dong, aktivitasmu terganggu karena merasa mual atau muntah karena salah menu sahur.

2. Langsung tidur setelah makan sahur

Pasti kamu sering melakukan ini, langsung memilih tidur setelah selesai sahur. Bulan puasa memang membuat pola tidur kita berubah, sehingga beberapa orang memilih langsung tidur ketika selesai sahur.

Padahal, kebiasaan ini justru diketahui sebagai penyebab masalah kesehatan saat puasa, termasuk muntah. 

Hal ini karena kamu tidur dalam keadaan perut yang penuh makanan, kondisi ini berisiko menaikan asam lambung. 

Kerja sistem pencernaan menjadi berat karena kamu langsung tidur ketika kenyang. Sistem pencernaan pun terus bekerja, ketika kamu bangun dari tidur.

Perut kamu menghasilkan asam klorida sebagai bagian dari proses panjang memecah makanan. Maka ini bisa membuat tekanan pada dinding lambung yang menyebabkan mual hingga muntah, seperti yang dijelaskan oleh Christine Lee, seorang gastroenterologis di Cleveland Clinic. 

Yang lebih berbahaya lagi, ini bisa menimbulkan sensasi terbakar yang disebut heartburn atau refluks asam lambung. 

Sebaiknya kamu menunggu satu jam selepas sahur, sebelum kembali tidur. Jika memang kamu butuh tidur sehabis sahur, gunakanlah bantal yang lebih tinggi agar asam lambung tidak naik.

3. Kurang air putih

Minum air putih sangat disarankan buat kamu saat menjalankan puasa. Air putih membuat kamu terhindar dari dehidrasi di siang hari. 

Jika kamu kurang minum air putih, tubuh menjadi lemas dan kehilangan energi. Kondisi ini membuat perut bagian bawah mengalami tekanan secara berulang-ulang dan akhirnya timbul rasa mual. 

4. Kafein

Minuman berkafein seperti kopi atau teh sebaiknya kamu hindari sebagai pilihan saat sahur. Mengonsumsi kafein dapat menyebabkan tubuh dehidrasi, sehingga menjadi mudah haus dan lemas. Asam lambung juga bisa meningkat karena konsumsi kafein.

Cobalah untuk menghindari kafein karena dapat memperlambat sistem pencernaan yang menyebabkan rasa ingin muntah pada siang hari.

5. Stres

Tanpa kita sadari, stres bisa membuat rasa mual dan muntah saat kita menjalani puasa. Ini karena ketika stres, pencernaan mendapat tekanan berulang dan membuat rasa tidak enak pada ulu hati. 

Stres juga dapat membuat perut terasa kosong terasa lebih lapar dari biasanya, muncul rasa haus yang lebih cepat, hingga rasa nyeri pada lambung yang berulang. 

Jadi, agar puasa kamu bisa lancar, coba untuk menghindari stres dengan selalu berpikiran positif dan melakukan hal-hal menyenangkan buat kamu.

6. Konsumsi obat-obatan

Perut yang kosong saat puasa memang membuat mual, tapi ada beberapa obat dengan resep dokter yang memiliki efek samping mual. Kamu harus waspada jika mengonsumsi obat berikut saat sahur atau berbuka:

  • Antibiotik, seperti erythromycin
  • Obat penurun tekanan darah (antihipertensi) seperti beta-blockers, clacium channel blocker dan diuretik
  • Obat kemoterapi seperti cisplatin (Platinol), dacarbazine (DTIC-Dome) dan mechlorethamine (Mustargen)
  • Antidepresan seperti fluoxetine (Prozac), paroxetine (Paxil) dan sertraline (Zoloft)

Selain obat dengan resep dokter, ada juga beberapa obat dan suplemen yang bisa kamu dapatkan dari toko obat atau apotek yang dapat menyebabkan mual. Antara lain:

  • Acetaminophen
  • Obat antiinflamasi non steroid (NSAID) seperti ibuprofen, naproxen dan aspirin
  • Vitamin E
  • Vitamin C
  • Zat besi

Mengatasi muntah saat puasa

Tentu kita ingin menjalani puasa dengan baik dan nyaman, agar puasa tidak menjadi halangan kita untuk dapat produktif. Nah, jika kamu memang sering merasa mual dan muntah saat puasa, ada beberapa cara untuk mengatasinya.

1. Pilih makanan yang tepat

Coba mulai perhatikan makanan ketika kamu sahur. Pastikan menu sahur kamu tetap mengandung gizi yang seimbang. Hindari makanan pedas, berminyak dan berbumbu tajam. 

Sebaiknya kamu pilih makanan yang kaya karbohidrat kompleks dari nasi atau roti. Perbanyak juga makan buah seperti pisang atau apel. Makanan tersebut mudah dicerna dan membuat pencernaan tidak bekerja ekstra keras. 

Dan, ada baiknya kamu makan sahur menjelang waktu imsak, agar kamu terasa kenyang lebih lama.

Rekomendasi makanan ketika berpuasa

British Nutrition Foundation memberikan rekomendasi makanan berikut ini yang bisa kamu konsumsi saat berpuasa supaya tidak mengalami masalah kesehatan, termasuk mual. Yaitu:

Saat berbuka

Saat berbuka, segeralah penuhi kebutuhan cairan tubuh. Minum air putih serta makanan yang mengandung banyak air dan gula alami akan sangat membantu tubuh mendapatkan energinya kembali. Berikut ini adalah beberapa rekomendasi makananya:

  • Minuman: Air, susu, jus buah atau smoothies. Air akan menjaga tingkat hidrasi tanpa ekstra kalori atau tambahan gula. Minuman dari susu dan buah akan memberikan gula alami dan nutrisi
  • Kurma: Buah kurma menjadi satu makanan yang baik untuk sumber energi ketika berbuka
  • Buah: Buah-buahan mengandung gula alami yang dapat menjadi sumber energi bagi tubuh
  • Sup: Merupakan makanan enteng bagi tubuh ketika berbuka dan menyediakan cairan yang dibutuhkan oleh tubuh

Setelah berbuka dan hendak mengonsumsi makanan berat, pastikan kamu memakan makanan dengan gizi seimbang, ya! 

Sahur

Apa yang kamu konsumsi ketika sahur menjadi hal yang penting untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan ketika puasa, termasuk mual. Langkah pertama yang harus kamu perhatikan adalah memastikan tingkat hidrasi tubuh cukup lewat asupan cairan saat sahur.

Minumlah banyak air, pilih juga makanan yang kaya akan air dan memiliki energi yang dibutuhkan oleh tubuh sepanjang hari.

Berikut ini adalah beberapa makanan yang bisa kamu konsumsi ketika sahur:

  • Oats: Makanan gandum utuh ini bisa kamu buat menjadi bubur dengan susu atau air sehingga kebutuhan cairan kamu pun terpenuhi
  • Cereal dengan serat yang tinggi: Makanan ini akan memenuhi kebutuhan serat dan terkadang diperkaya juga dengan vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh
  • Yoghurt: Menambahkan yoghurt ke dalam diet harian saat sahur baik untuk tubuh. Yoghurt akan memberikan nutrisi seperti protein, kalsium, iodin dan vitamin B
  • Roti: Carilah roti dengan gandum utuh karena kandungannya yang kaya akan serat dan baik untuk tubuh saat puasa

2. Pastikan kamu terhidrasi

Perbanyak minum air putih atau kaldu bening ketika sahur untuk memastikan kamu tetap dalam keadaan terhidrasi. 

Tapi, jangan terlalu banyak memberikan cairan di satu waktu, agar perut tidak mengalami peregangan. Perut bisa mentolerir cairan dalam jumlah 30-60 ml tiap 10-15 menit. Terlalu banyak cairan justru memperparah rasa mual. 

Kamu bisa menggunakan pola 2-4-2 agar kamu tetap terhidrasi dan menghilangkan rasa mual saat berpuasa. Minum dua gelas saat berbuka, empat gelas saat di malam hari, dan dua gelas ketika sahur. 

3. Lakukan teknik pernapasan yang baik

Sebuah hasil penelitian dari Universitas Connecticut  menunjukan bahwa pernapasan dalam yang terkendali dapat menghilangkan rasa muntah. 

Coba kamu ikuti teknik pernapasan untuk mengatasi muntah saat berpuasa ini:

  • Tidur terlentang, letakan bantal di bawah dengkul dan leher agar terasa nyaman.
  • Posisikan tangan kamu di atas perut tepat di bawah tulang rusuk dengan jari saling terkunci, sehingga ketika bernapas jari tersebut akan terbuka. Dengan cara ini, kamu bisa mengetahui teknik pernapasan kamu benar.
  • Ambil napas yang dalam dengan perut. Gunakan diafragma bukan tulang rusuk. Diafragma akan memberikan sedotan udara yang lebih kuat daripada tulang rusuk.

4. Jangan terlalu banyak bergerak

Rasa mual akan semakin parah ketika kamu terlalu banyak bergerak, coba untuk diam sejenak ketika kamu mulai merasakan hal tidak enak dibagian perut.

Duduklah dengan nyaman atau berbaring di sofa untuk beberapa saat.

Itulah beberapa penyebab dan cara mengatasi muntah ketika puasa. Sangat penting untuk kita tetap menjaga kondisi prima selama puasa agar bisa menjalani ibadah dengan baik tanpa dan tetap bisa menjalani aktivitas sebagaimana mestinya.

Pastikan untuk mengecek kesehatan Anda dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Download di sini untuk berkonsultasi dengan mitra dokter kami.

Categories
Puasa

Ini 5 Tanda Kamu Sebaiknya segera Membatalkan Puasa

Puasa di bulan Ramadan merupakan sebuah kewajiban untuk umat Muslim. Namun, agama juga punya aturan soal siapa yang boleh tidak berpuasa.

Seperti contohnya orang yang sedang sakit, ibu hamil, serta ibu menyusui. Golongan ini boleh tidak puasa atau membatalkan puasa saat merasa tidak mampu.

Akan tetapi, selain aturan agama, ada juga beberapa kondisi fisik yang bisa jadi tanda kalau tubuh kamu mungkin sudah tidak kuat puasa dan harus segera membatalkannya.

Jangan paksakan kalau tidak mampu

Selama berpuasa, kamu mungkin merasa sedikit lelah, lapar, dan mudah tersinggung. Tetapi jika kamu mulai merasa tidak enak badan, kamu sebaiknya segera membatalkan berpuasa.

Jika kamu jatuh sakit atau mengkhawatirkan kesehatan, pastikan kamu segera berhenti berpuasa.

Beberapa tanda bahwa kamu harus menghentikan puasa dan mencari pertolongan medis termasuk kelelahan atau kelemahan yang menghalangi kamu untuk melakukan tugas sehari-hari, serta perasaan sakit dan tidak nyaman yang tidak terduga

Ini tanda tubuh kamu sudah tidak kuat puasa

Jika kamu mengalami beberapa kondisi atau tanda di bawah ini, ada baiknya untuk mempertimbangkan untuk membatalkan puasa.

1. Mual, pusing, dan sakit kepala

Puasa dapat menyebabkan kadar gula darah menjadi rendah, yang pada kenyataannya dapat menyebabkan berbagai gejala termasuk mual, sakit kepala, dan pusing.

Mual biasanya terjadi karena kamu terlalu dehidrasi. Entah elektrolit sudah sangat habis atau konsentrasi badan keton (sumber bahan bakar yang dihasilkan oleh pembakaran lemak) dalam darah menjadi terlalu tinggi.

Dalam kebanyakan kasus, pusing akan hilang setelah beberapa menit dan kamu hanya perlu menyesuaikan diri. Namun, dalam beberapa situasi hal itu juga dapat menyebabkan hilangnya kesadaran.

Jika hal ini mulai menjadi masalah, mungkin ada baiknya kamu istirahat lalu berbaring dan meninggikan kaki untuk membantu darah masuk kembali ke otak. Apabila gejalanya tak kunjung membaik, ada baiknya pertimbangkan untuk membatalkan puasa.

2. Sakit perut

Rasa lapar tidak sama dengan sakit perut. Kamu mungkin merasa tidak nyaman dan sedikit sakit saat lapar tetapi sakit perut sebenarnya adalah sesuatu yang berbeda.

Saat berpuasa, kadar asam akan mulai naik karena tidak ada makanan yang harus dipecah dan kamu berada dalam fase ketosis yang lebih dalam. Hal ini dapat menyebabkan naiknya asam lambung, mulas, sakit perut, maag, dan merusak dinding usus.

Jika sakit perut semakin menjadi, pertimbangkan untuk membatalkan puasa segera. Tapi jangan langsung berbuka dengan makanan padat ya, coba memulai dengan kaldu atau sup terlebih dahulu.

3. Brain fog dan kesulitan berkonsentrasi

Penyimpanan energi yang rendah yang disebabkan oleh puasa dapat menjadi penyebab keseluruhan perasaan lesu, kelelahan yang berlebihan, dan kurangnya vitalitas.

Hal ini dapat menyebabkan kesulitan berkonsentrasi, yang dapat berdampak pada kualitas kerja dan tingkat aktivitas sehari-hari kamu secara umum.

Secara umum, pusing dan sakit kepala juga disebabkan oleh krisis energi di otak. Kamu mengalami hipoglikemik dan dengan demikian mulai kehilangan kesadaran. 

4. Sakit tenggorokan

Terkadang kamu mungkin juga mengalami sakit tenggorokan. Ini mungkin infeksi atau hanya flu biasa, tetapi bisa juga gejala adanya gangguan di kelenjar tiroid kamu.

Puasa memberikan tekanan energi tinggi pada tiroid, yang dapat bermanifestasi sebagai rasa sakit atau ketidaknyamanan di tenggorokan. Ini adalah respons tubuh terhadap kelangkaan nutrisi dengan mengatur fungsi tiroid untuk menjaga otot dan lemak.

Dalam jangka pendek, ini bukan masalah besar, tetapi jika terus berlangsung selama berhari-hari, kamu mungkin ingin mengurangi puasa atau hanya makan makanan yang meningkatkan fungsi tiroid seperti makanan laut, protein, dan karbohidrat.

5. Kelaparan kronis

Rasa lapar adalah hal yang lumrah saat kita berpuasa karena meningkatnya ghrelin, hormon kelaparan. Merasa lapar berarti tubuh kamu mengalami defisit energi dan tidak dapat mengakses lemak tubuh yang tersimpan.

Jika rasa laparnya menjadi parah di mana kamu mengalami rasa lapar kronis yang menyakitkan selama berjam-jam tanpa ada gejala membaik, ada baiknya kamu mempertimbangkan untuk membatalkan puasa.

Punya pertanyaan lebih lanjut seputar kesehatan? Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!