Categories
Kesehatan Mental

Mengenal Sindrom Othello, Rasa Cemburu Berlebihan yang Bisa Berakibat Fatal

Cemburu dengan pasangan dapat menimbulkan rasa marah, kesal ataupun sedih. Dalam tahap yang wajar, kamu bisa mengelola rasa cemburu dengan berbagai cara agar tetap terkendali. 

Tapi jika rasa cemburu itu sudah berlebihan, bahkan sampai membuat kamu bersikap agresif dan menyudutkan pasangan, hati-hati terkena sindrom Othello. Apakah kamu sudah pernah mendengar tentang sindrom tersebut?

Apa itu sindrom Othello?

Othello syndrome atau sindrom Othello kali pertama ditemukan oleh seorang psikiater bernama John Todd. Bersama dengan rekannya, Kenneth Dewhurst, ia menuliskan tentang sindrom Othello lewat sebuah penelitian berjudul The Othello Syndrome A Study in the Psychopathology of Sexual Jealousy

Kondisi ini merupakan sindrom yang membuat seseorang merasa cemburu berlebihan dengan pasangannya. Timbul cemburu tidak wajar, hingga muncul delusi dan berpotensi mengakibatkan hal yang buruk. 

Othello sendiri diambil dari salah satu naskah drama karya William Shakespeare, yang ditulis di abad ke-18. Othello menikah dengan seorang wanita bernama Desdemona. Kemudian keputusan Othello membuat salah satu bawahannya yang bernama Iago kecewa. 

Iago kemudian memperdaya Othello untuk memercayai istrinya berselingkuh dengan bawahannya yang lain, yaitu Cassio. Othello termakan tipu daya Iago dan akhirnya membunuh sang istri. 

Kemudian, di akhir kisah Othello mengetahui bahwa Iago telah menipunya. Othello pun akhirnya bunuh diri karena menyesal telah membunuh sang istri. 

Gejala sindrom Othello

Sindrom ini membuat seseorang mengalami delusi tentang adanya pengkhianatan yang dilakukan pasangan dan membuatnya cemburu. Orang yang mengalaminya akan menuduh dan mencurigai pasangan berselingkuh. 

Karena memercayai adanya perselingkuhan, orang tersebut akan mencari bukti dan melakukan interogasi terhadap pasangan. Orang tersebut juga tak segan melakukan tindakan ekstrem.

Dampak buruk sindrom Othello

Sindrom Othello juga dikenal dengan nama lain seperti delusional jealousy, erotic jealousy syndrome, morbid jealousy, othello psychosis atau sexual jealousy. 

Sesuai dengan namanya, kecemburuan ini pastinya terjadi di dalam satu hubungan. Dan yang menyedihkan, bahwa kondisi ini bukan hanya dapat mengganggu pasangan yang dicurigai berselingkuh. Tetapi juga dapat berakhir menjadi petaka. 

Kondisi ini dapat berakhir dengan rusaknya hubungan rumah tangga, bahkan di tahap yang parah bisa menyebabkan pembunuhan pasangan atau bunuh diri

Kondisi ini lebih sering terjadi pada pria dibanding dengan wanita. Persentasenya, menurut Psychology Today sebesar 60 persen untuk pria dan sisanya untuk wanita.

Penyebab sindrom Othello

Sindrom ini bisa muncul spontan, tetapi bisa juga muncul akibat efek dari adanya kondisi medis tertentu. 

Beberapa kondisi yang terkait dengan sindrom Othello di antaranya gangguan saraf otak, epilepsi, penyakit Parkinson, demensia, skizofrenia atau efek samping obat-obatan tertentu. 

Meski kali pertama ditemukan oleh seorang psikiater, tetapi di dalam perkembangannya sindrom ini lebih sering diartikan sebagai kondisi medis yang memengaruhi saraf. 

Karena itu sindrom ini juga lebih sering disebut gangguan neurologis. Sementara delusi (pikiran atau pandangan yang tidak rasional), tampaknya terkait dengan disfungsi lobus frontal, terutama lobus frontal kanan. 

Lobus frontal adalah bagian dari otak yang terletak di bagian depan kepala dan diperkirakan memiliki ukuran sepertiga dari total ukuran otak.

Bagian ini memiliki banyak peran, termasuk pengaturan gerakan, kemampuan bicara, konsentrasi, penalaran, perencanaan, emosi, suasana hati hingga mengendalikan perilaku sosial. 

Bagaimana cara mengatasinya?

Mengatasi sindrom Othello bergantung pada penyebabnya. Jika munculnya sindrom karena pengaruh dari skizofrenia, umumnya akan diobati dengan pengobatan dan terapi yang dibutuhkan. 

Jika ternyata dilatarbelakangi penyakit saraf, maka akan dilakukan pengobatan yang sesuai. Begitu juga jika terjadi akibat penyakit Parkinson.

Orang yang menjalani pengobatan penyakit Parkinson mungkin mengembangkan kondisi sindrom Othello. Untuk mengatasinya diperlukan konsultasi lebih lanjut dengan dokter ahli. 

Fakta penelitian tentang othello syndrome

Dilansir Psychiatry and Clinical Neurosciences, prevalensi sindrom Othello sebesar 1,1 persen pada pasien rawat inap psikiatri. Selain itu, terdapat 7 persen pada pasien dengan gangguan mental neurobiologis. 

Dalam satu penelitian, sindrom ini ditemukan sebanyak 0,17 persen dari semua kasus rawat inap pasien psikiatri selama periode 61 tahun. Penelitian yang lebih difokuskan pada pasien yang berusia lebih tua, ternyata hasilnya menunjukkan kasus yang lebih banyak. 

Demikian penjelasan tentang sindrom Othello yang bisa terjadi spontan atau karena pengaruh kondisi kesehatan tertentu. Segera konsultasi ke ahlinya jika kamu atau pasangan dicurigai memiliki kondisi ini.

Konsultasikan masalah kesehatan kamu dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Kesehatan Mental

Tips Hadapi Pasangan Hobi Ghosting yang Bikin Hubungan Tak Nyaman

Saat ini masyarakat khususnya kalangan anak muda tengah dihebohkan tentang berita ghosting atau menghilang tanpa kejelasan dalam suatu hubungan. Terkait hal tersebut apakah sebaiknya hubungan diakhiri saja? Berikut penjelasannya. 

Apa itu ghosting? 

Ghosting atau tiba-tiba menghilang dari kehidupan seseorang tanpa pemberitahuan via telepon, email, atau teks, telah menjadi fenomena umum di dunia kencan modern, dan juga di lingkungan sosial lainnya.

Menurut hasil dari dua studi tahun 2018 yang dilansir dari laman Healthline, sekitar 25 persen orang telah menghilang begitu saja dari kehidupan seseorang tanpa adanya penjelasan yang jelas. 

Munculnya komunikasi elektronik dan aplikasi kencan populer seperti Grindr, Tinder, dan Bumble tampaknya membuat banyak orang lebih mudah untuk memutuskan koneksi dengan cepat. Ghosting sendiri adalah fenomena yang lebih kompleks daripada yang mungkin kamu pikirkan. 

Mengapa orang memutuskan untuk ghosting?

Orang-orang menghilang begitu saja tanpa alasan atau sering disebut ghosting tentunya disebabkan karena berbagai alasan yang dapat bervariasi dalam kompleksitas. Berikut adalah beberapa dari sekian banyak alasan seseorang menghilang tanpa alasan seperti dilansir dari laman Healthline

Takut

Ketakutan akan hal yang tidak diketahui sudah tertanam dalam diri manusia. Kamu mungkin memutuskan untuk mengakhirinya karena takut mengenal seseorang yang baru atau takut reaksinya apabila putus.

Penghindaran konflik

Manusia secara naluriah bersosialisasi, memiliki hubungan sosial apapun, baik atau buruk, dapat memengaruhi kualitas hidup.

Akibatnya, kamu mungkin merasa lebih nyaman jika tidak pernah bertemu dengan seseorang lagi daripada menghadapi potensi konflik atau penolakan yang bisa terjadi saat putus.

Kurangnya konsekuensi

Manusia adalah makhluk sosial. Jika hubungan sosial terganggu, ini dapat menimbulkan perasaan yang tidak nyaman.

Akibatnya, seseorang mungkin saja merasa lebih nyaman untuk tidak pernah berkomunikasi atau bertemu kembali dibandingkan dengan menghadapi konflik atau penolakan yang terjadi ketika memutuskan untuk mengakhiri hubungan.

Perawatan diri

Jika suatu hubungan berdampak negatif pada kualitas hidup, memutuskan kontak terkadang tampak seperti satu-satunya cara untuk mencari kesejahteraan sendiri tanpa putus cinta atau berpisah.

Apabila kamu sedang dalam suatu hubungan dan pasanganmu tiba-tiba menghilang, hal itu mungkin karena mereka tidak merasakan percikan romantis, terlalu sibuk untuk berkomitmen untuk tetap berhubungan, atau tidak siap ke langkah selanjutnya.

Bagaimana cara mengetahui pasanganmu ghosting

Menurut Healthline, berikut ini beberapa tanda jika pasanganmu ghosting

Apakah ini perilaku normal bagi mereka?

Beberapa orang tampaknya keluar dari jalannya masing-masing untuk jangka waktu yang lama sebelum kembali kepadamu, jadi mungkin bukan masalah besar jika mereka tidak merespons dengan sangat cepat. 

Namun jika mereka biasanya responsif dan tiba-tiba berhenti menelepon atau membalas SMS dan chat untuk jangka waktu yang sangat lama, hal itu bisa menjadi tanda bahwa pasanganmu ghosting

Apakah ada yang berubah dalam hubungan?

Apakah kamu mengatakan sesuatu yang membuat mereka bereaksi keras atau mengirimkan teks yang mungkin telah disalahpahami oleh pasangan? Kesalahpahaman atau buruknya komunikasi saat menjalin hubungan bisa membuat salah satu di antara kalian melakukan ghosting

Baca juga: Sering Tak Disadari, Ini Tanda Toxic Relationship dan Cara Mengakhirinya

Hal yang harus kamu lakukan apabila pasangan ghosting 

Setiap orang memiliki cara masing-masing dalam menyelesaikan masalahnya. Namun dengan meninggalkan salah satu pihak tanpa ada kejelasan bukanlah hal yang baik dalam suatu hubungan. 

Berikut beberapa cara untuk membantu diri sendiri menghadapi dan menerima perasaan setelah ditinggal tanpa penjelasan seperti dilansir dari Healthline:

Tetapkan batasan terlebih dahulu

Ketika menjalani sebuah hubungan, pikirkan kembali komitmen yang telah dibuat oleh kedua belah pihak. Kejujuran dan transparansi dapat membantu kamu serta pasangan untuk memastikan tidak ada garis yang terlampaui tanpa disadari. 

Beri orang itu batas waktu

Belum mendengar kabar dari mereka selama beberapa minggu atau bulan dan lelah menunggu? Beri mereka ultimatum. 

Misalnya, kamu mengirimi mereka pesan yang meminta untuk menelepon atau mengirim SMS minggu depan, dan apabila tidak terjadi akan menganggap bahwa hubungan telah berakhir.

Ini bisa tampak kasar, tetapi bisa membuat kamu menutup diri dan memulihkan perasaan kehilangan kendali dalam suatu hubungan. 

Jangan menyalahkan diri sendiri secara otomatis

Kamu tidak memiliki bukti atau konteks untuk menyimpulkan mengapa orang lain meninggalkan hubungan tersebut, jadi jangan merendahkan diri sendiri dan membuat diri semakin terluka secara emosional.

Jangan obati perasaan yang terluka dengan konsumsi obat-obatan

Jangan mematikan rasa sakit dengan obat-obatan, alkohol, atau minuman keras lainnya. Perbaikan ini bersifat sementara, dan akan hilang dengan menerima kenyataan yang ada. 

Habiskan waktu bersama teman atau keluarga

Jalinlah persahabatan dengan orang-orang yang kamu percayai dan dengan seseorang yang dapat berbagi perasaan cinta. Mengalami hubungan yang positif dan sehat dapat menempatkan situasi ke dalam perspektif.

Lakukan konsultasi dengan dokter

Jangan takut untuk menghubungi terapis atau konselor yang dapat membantu mengartikulasikan perasaan kompleks yang mungkin kamu miliki. Mereka juga dapat memberi kamu strategi penanggulangan lebih lanjut untuk memastikan keluar dari masa lalu yang menyakitkan.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Kesehatan Mental

Deretan Tanda dan Gejala Shopaholic, Apakah Kamu Mengalaminya?

Aktivitas berbelanja tentunya menjadi kesukaan banyak orang, khususnya bagi para wanita. Banyak orang mengatakan bahwa dengan berbelanja akan mendapatkan rasa bahagia yang tidak bisa diucapkan.

Namun demikian, kebiasaan berbelanja seperti apakah yang menjadi tanda-tanda kamu seorang shopaholic?

Apa itu shopaholic?

Melansir penjelasan laman Healthline, kecanduan belanja atau shopaholic adalah bagian dari gangguan pembelian kompulsif. Kondisi ini digambarkan sebagai keharusan untuk membelanjakan uang, terlepas dari kebutuhan atau kemampuan finansial. 

Meskipun banyak orang menikmati berbelanja sebagai hadiah atau aktivitas rekreasi, belanja kompulsif adalah gangguan kesehatan mental dan dapat menyebabkan konsekuensi yang parah.

Apa saja gejala shopaholic

Dalam beberapa kasus, mungkin sulit untuk mengetahui apakah kamu seorang shopaholic atau bukan. Banyak orang suka berbelanja, banyak orang juga yang menghabiskan terlalu banyak uang saat melakukan aktivitas ini. 

Namun penting untuk diperhatikan bahwa pergi berbelanja sesekali tidak berarti kamu seorang pecandu belanja.

Seperti dilansir laman Psych Guide, ada beberapa tanda dan gejala yang ditampilkan apabila kamu seorang shopaholic

Gejala emosional dan kecanduan belanja

Pada umumnya para pecandu belanja mungkin mencoba menyembunyikan kecanduannya. Jadi, jika kamu mulai berusaha menyembunyikan tagihan kartu kredit, tas belanja, atau kuitansi, mungkin itu menjadi gejala awal seorang shopaholic.

Dalam beberapa kasus, pecandu belanja mencoba menyembunyikan kecanduan mereka dengan berbohong tentang satu hal. 

Misalnya, seseorang mungkin mengakui bahwa mereka pergi berbelanja, tetapi mereka mungkin berbohong tentang berapa banyak yang mereka habiskan. 

Tak hanya itu saja, beberapa gejala emosional lain yang mungkin bisa memperlihatkan bahwa kamu adalah seorang shopaholic atau bukan sebagai berikut ini: 

  • Menghabiskan banyak uang untuk berbelanja lebih dari yang mereka mampu
  • Belanja sebagai reaksi dari perasaan marah atau depresi
  • Berbelanja sebagai cara untuk mengurangi rasa bersalah karena berbelanja sebelumnya.
  • Merusak hubungan karena terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berbelanja
  • Kehilangan kendali atas perilaku belanja
  • Setelah berbelanja akan merasa bersalah, namun akan mengulanginya kembali secara terus menerus

Gejala fisik

Meskipun sebagian besar kecanduan memiliki gejala fisik yang terkait dengannya, kecanduan belanja mungkin tidak.

Dalam kebanyakan kasus, gejala yang kamu alami akibat kecanduan belanja akan lebih banyak menampilkan sifat emosional. Bukti fisik kecanduan belanja mungkin termasuk situasi keuangan yang menurun.

Dampak menjadi seorang shopaholic

Apa saja dampak yang bisa terjadi bagi seorang shopaholic? Berikut ulasannya:

Efek jangka pendek

Efek jangka pendek dari kecanduan belanja mungkin terasa positif. Dalam banyak kasus, kamu akan merasa bahagia setelah menyelesaikan aktivitas belanja.

Namun, perasaan ini sering kali bercampur dengan kecemasan atau rasa bersalah, dan dalam banyak kasus, rasa bersalah atau kecemasan dapat mendorong kamu kembali ke toko untuk berbelanja lebih banyak lagi.

Efek jangka panjang

Efek jangka panjang dari kecanduan belanja dapat bervariasi khususnya dalam intensitas dan cakupannya. Banyak pecandu belanja menghadapi masalah keuangan, dan mereka mungkin terbebani oleh utang. 

Perlu diwaspadai bahwa ketika kamu kecanduan belanja, hubungan pribadimu juga bisa rusak. Dalam kondisi shopaholic yang parah mungkin bisa sampai mengalami perceraian atau menjauhkan diri dari orang tua, anak-anak, hingga orang yang kamu cintai.

Baca juga: Cara Menggunakan Sarung Tangan saat Belanja Agar Cegah Penularan Virus Corona

Cara mengatasi shopaholic

Kecanduan belanja bisa jadi sulit untuk dikontrol, karena kegiatan berbelanja adalah bagian normal dari kehidupan sehari-hari. Setiap orang harus membeli makanan secara teratur, dan barang-barang seperti pakaian, produk pribadi, dan mobil dari waktu ke waktu. 

Bergantung pada tingkat keparahan kecanduan belanja, pembeli kompulsif pada tingkat yang parah mungkin perlu menghentikan atau mulai merencanakan pengeluaran dengan sebaik mungkin. 

Apabila kamu tidak bisa melakukannya sendiri, cobalah untuk meminta bantuan orang lain untuk mengatur keuangan.

Paling sering, kecanduan belanja dapat diobati dengan terapi perilaku dan konseling individu. Orang dengan kecanduan belanja harus mengembangkan kontrol impuls dan juga belajar mengidentifikasi pemicu.

Jika kondisi ini berasal dari depresi atau masalah kesehatan mental lainnya, pengobatan konseling dapat membantu.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Kesehatan Mental

Ketika Memutuskan untuk Bunuh Diri, Ini Terjadi pada Otak Manusia!

Diketahui kasus bunuh diri setiap tahunnya selalu meningkat. Hal tersebut tentunya menjadi perhatian khusus bagi masyarakat di seluruh dunia. Namun tahukah kamu, ternyata keputusan untuk bunuh diri berkaitan dengan kondisi otak seseorang?

Kasus bunuh diri di dunia 

Melansir penjelasan WHO, hampir 800.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun, yakni satu orang setiap 40 detik. 

Pada 2016 sekitar 79% kasus bunuh diri terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Bunuh diri menyumbang 1,4% dari semua kematian di seluruh dunia dan menjadi penyebab utama kematian.

Data menunjukkan mayoritas remaja usia 15-29 tahun, lebih banyak melakukan tindakan bunuh diri daripada menderita kanker, pneumonia, influenza, dan penyakit paru-paru kronis. 

Apa yang terjadi pada otak seseorang ketika memutuskan bunuh diri? 

Seperti dilansir dari laman University of Cambridge, sebuah tim peneliti internasional telah mengidentifikasi jaringan kunci di dalam otak yang meningkatkan risiko seseorang akan berpikir tentang atau mencoba bunuh diri. 

Mengutip University of Cambridge, dr Anne Laura Van Harmelen bersama timnya mengamati perubahan struktur dan fungsi otak dari 12.000 orang peserta yang dilibatkan.

Melalui penelitian tersebut diketahui bahwa manusia memiliki dua jaringan otak yang bisa meningkatkan keinginan untuk bunuh diri. 

Jaringan pertama disebut dengan prefrontal cortex ventral dan lateral. Jaringan ini menghubungkan area otak frontal atau bagian depan serta bertugas dalam mengatur emosi. 

Perlu kamu ketahui, terjadinya perubahan pada jaringan tersebut diakibatkan oleh berbagai faktor. Saat terjadi perubahan, akan tercipta pikiran negatif yang berlebihan.

Sementara jaringan kedua memiliki fungsi menghubungkan korteks prefrontal dorsal dan sistem gyrus frontal inferior. 

Jaringan ini berperan aktif dalam proses pengambilan keputusan serta mengendalikan perilaku seseorang. Perubahan yang terjadi pada bagian ini, terutama yang bersifat negatif bisa meningkatkan atau memicu keinginan seseorang untuk melakukan bunuh diri. 

Tanda-tanda apabila seseorang mencoba untuk bunuh diri 

Tentunya kamu tidak bisa melihat isi hati dan pikiran seseorang, sehingga tidak mudah untuk mengidentifikasi apakah seseorang memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Namun, seperti dilansir dari laman Healthline, berikut beberapa tanda peringatan bahwa seseorang mungkin berniat bunuh diri: 

  • Berbicara tentang perasaan putus asa atau merasa sendirian.
  • Mengatakan mereka tidak punya alasan untuk terus hidup. 
  • Membuat wasiat atau memberikan harta pribadi. 
  • Mencari cara untuk menyakiti diri sendiri, seperti membeli senjata. 
  • Tidur terlalu banyak atau terlalu sedikit. 
  • Menghindari interaksi sosial dengan orang lain. 
  • Mengungkapkan kemarahan atau niat untuk membalas dendam. 
  • Menunjukkan tanda-tanda kecemasan atau kegelisahan yang ekstrim. 
  • Berbicara tentang bunuh diri sebagai jalan keluar. 

Memang terasa menakutkan, tetapi mengambil tindakan dan mencari bantuan secepatnya dapat mencegah pikiran-pikiran tersebut.

Baca juga: Jangan Dianggap Enteng! Ini Bahaya PTSD yang Bisa Sebabkan Bunuh Diri

Bagaimana cara berbicara dengan seseorang yang ingin bunuh diri? 

Jika kamu curiga bahwa anggota keluarga atau teman mungkin mempertimbangkan untuk bunuh diri, bicarakan dengan mereka tentang kekhawatiran yang dialami.

Kamu dapat memulai percakapan dengan mengajukan pertanyaan, hindari pembicaraan yang bersifat menghakimi dan konfrontatif. 

Bicaralah secara terbuka dan jangan takut untuk mengajukan pertanyaan yang tidak berbelit. Selama percakapan, pastikan kamu melakukan hal-hal berikut ini: 

  • Tetap tenang dan bicara dengan nada meyakinkan.
  • Akui bahwa perasaan mereka adalah hal normal yang pasti dialami setiap manusia.
  • Memberikan dukungan secara mental. 

Mendengarkan dan menunjukkan dukungan adalah cara terbaik untuk membantu mereka yang memiliki pikiran untuk bunuh diri. Kamu juga dapat mendorong mereka untuk mencari bantuan dari seorang dokter. 

Apabila kamu khawatir dan tidak tahu apa yang harus dilakukan, sebaiknya segera temui dokter untuk mendapatkan bantuan perawatan bagi seseorang yang ingin bunuh diri. 

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Kamus Penyakit

Gangguan Depresi: Jenis, Gejala dan Pengobatan

Gangguan depresi adalah penyakit umum yang terjadi di seluruh dunia. Penyakit ini bisa menyerang kapan saja, namun rata-rata kemunculannya di usia akhir remaja hingga pertengahan usia 20-an.

Depresi seringkali disalahartikan sebagai kesedihan biasa. Ada juga yang menganggapnya sama dengan stres. Jika kamu adalah orang yang memiliki anggapan tersebut, tandanya kamu perlu mengenal tentang gangguan depresi lebih lanjut lagi.

Baca juga: Merasa Kesepian Wajar, Tapi Kesepian akibat Depresi Ini yang Harus Diwaspadai

Apa itu depresi?

Depresi adalah gangguan perasaan yang menyebabkan rasa sedih dan kehilangan minat. Depresi juga memengaruhi cara berpikir dan cara berperilaku seseorang.

Dalam kondisi tertentu, depresi dapat menyebabkan masalah emosional dan fisik. Dalam kondisi yang parah, depresi membuat penderitanya kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari.

Penderitanya mungkin saja membutuhkan perawatan jangka panjang. Kabar baiknya, orang dengan depresi dapat menjalani perawatan dan dapat merasa lebih baik setelah melakukan pengobatan.

Meski seringkali dianggap sama, karena gejalanya yang mirip, namun depresi berbeda dari stres. Stres adalah reaksi tubuh saat menghadapi tekanan melebihi dari batas kemampuan seseorang mengatasinya. Dengan gejala cemas, takut, kelelahan dan beberapa gejala lainnya.

Jenis-jenis depresi

Depresi adalah suatu kondisi masalah mental yang terbagi menjadi beberapa jenis, tergantung dari keparahan kondisi pasien. Namun umumnya, ada dua jenis utama depresi yaitu:

1. Gangguan depresi mayor

Gangguan depresi mayor adalah gangguan depresi yang ditandai dengan perasaan sedih, putus asa, yang tidak kunjung hilang.

Umumnya,seseorang akan didiagnosis mengalami depresi jenis ini jika mengalami setidaknya lima jenis gejala depresi dan gejalanya bertahan setidaknya selama dua minggu.

2. Gangguan depresi persisten

Depresi jenis ini disebut juga sebagai distimia. Depresi jenis ini biasanya lebih ringan tetapi kronis. Gejalanya berlangsung setidaknya selama dua tahun.

Umumnya penderita gangguan depresi jenis ini akan mengalami gangguan dalam menjalani kegiatan sehari-harinya. Sifat kronis pada gangguan depresi jenis ini lebih menantang untuk diatasi, namun penderitanya memiliki kesempatan pengobatan yang sama dengan jenis depresi mayor.

Apa saja gejala gangguan depresi?

Ada orang yang mengalami gangguan depresi hanya sekali selama hidupnya. Namun ada yang mengalami gangguan ini beberapa kali dan penderitanya akan menunjukkan gejala seperti:

  • Perasaan sedih, menangis, hampa atau putus asa
  • Rasa marah yang meledak-ledak, mudah marah atau frustrasi
  • Kehilangan minat atau tidak lagi bisa menikmati sebagian besar atau semua kegiatan normal, seperti seks, hobi atau olahraga
  • Gangguan tidur, termasuk insomnia atau tidur terlalu banyak
  • Kelelahan dan kekurangan energi, bahkan tugas kecil pun membutuhkan usaha ekstra
  • Penurunan nafsu makan dan penurunan berat badan
  • Bertambahnya nafsu makan yang signifikan dan penambahan berat badan
  • Mengalami kecemasan, mudah terhasut dan juga mudah gelisah
  • Kemampuan berpikir, bicara dan menggerakan tubuh yang lambat
  • Sulit berkonsentrasi dan sulit membuat keputusan
  • Sulit mengingat
  • Mengalami gangguan fisik yang tidak dapat dijelaskan, seperti mendadak sakit punggung atau sakit kepala
  • Memikirkan kematian yang sering atau berulang, pikiran untuk bunuh diri, percobaan bunuh diri atau bunuh diri

Gejala-gejala tersebut tidak semuanya dialami sekaligus. Pada tingkatan usia tertentu, gejala yang muncul pun akan berbeda-beda. Berikut perbedaan gejala yang ditunjukkan orang yang mengalami depresi berdasarkan perbedaan usia.

Gejala gangguan depresi pada orang dewasa

Banyak orang yang menganggap remeh gejala depresi. Karenanya depresi seringkali tidak terdiagnosis dan tidak dapat ditangani dengan tepat. Dalam banyak kasus, orang dengan depresi juga enggan mencari bantuan. Berikut gejala gangguan depresi yang umum dialami orang dewasa:

  • Berubahnya kepribadian
  • Kesulitan mengingat
  • Kelelahan, kehilangan nafsu makan, mengalami masalah tidur atau kehilangan minat berhubungan seks yang bukan disebabkan oleh kondisi medis atau obat-obatan
  • Enggan bersosialisasi dan tidak mau mencoba melakukan hal baru
  • Memikirkan dan ingin melakukan bunuh diri, terutama pada pria yang lebih tua

Gejala gangguan depresi pada anak-anak dan remaja

Gejala yang muncul mirip dengan depresi pada orang dewasa. Namun ada perbedaan seperti:

  • Pada anak-anak gejala depresi yang umum terjadi adalah mudah marah, mudah was-was, mengalami penurunan berat dan dan biasanya menolak untuk pergi ke sekolah.
  • Pada remaja, yang membedakan adalah melibatkan hasil prestasi sekolah yang merosot, sensitif dan sering merasa adanya salah paham. Ada juga yang menggunakan narkoba atau alkohol. Dalam beberapa kasus juga ada yang mencoba melukai diri sendiri.

Seseorang yang didiagnosis depresi umumnya sudah mengalami berbagai gejala yang sudah disebutkan di atas, selama minimal dua minggu berturut-turut.

Apa penyebab terjadinya gangguan depresi?

Tidak diketahui pasti penyebab terjadinya depresi. Namun ada beberapa faktor yang dianggap memengaruhi seseorang mengalami penyakit ini. Dilansir dari psychiatry.org, faktor tersebut antara lain:

  • Biokimia. Yaitu adanya perbedaan kimia pada otak yang dapat memengaruhi depresi pada penderitanya.
  • Genetika. Depresi dapat menurun melalui genetik. Misalkan, salah satu anak kembar identik mengalami depresi, maka anak kembar yang satunya lagi memiliki kemungkinan mengalami depresi juga di kemudian hari. Kemungkinan tersebut hingga 70 persen terjadi.
  • Kepribadian. Orang-orang dengan penghargaan diri yang rendah, mudah mengalami stres dan umumnya pesimistis lebih mungkin mengalami depresi.
  • Faktor lingkungan. Kondisi tertentu yang terjadi di lingkungan dapat memicu terjadinya depresi. Kondisi tersebut seperti kekerasan fisik, penelantaran, pelecehan.

Bagaimana mendiagnosis gangguan depresi?

Dokter akan melakukan beberapa tes sebelum menentukan diagnosis. Tahapan tes tersebut antara lain:

  • Pemeriksaan fisik. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan menanyakan riwayat kesehatan. Karena dalam beberapa kasus kondisi kesehatan tertentu bisa menjadi pemicu munculnya depresi.
  • Tes laboratorium. Tes ini berupa tes darah lengkap atau melihat fungsi tiroid.
  • Evaluasi kejiwaan. Dalam tahapan ini ahli kesehatan mental akan menanyakan seputar gejala yang dialami, pikiran dan perasaan serta pola perilaku pasien. Di sini umumnya pasien akan diminta mengisi sejumlah kuesioner untuk mendapatkan kesimpulan kondisi pasien.
  • Menggunakan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). DSM-5 adalah panduan kesehatan mental yang terbitkan oleh American Psychiatric Association. Dokter akan melihat kecocokan kriteria depresi yang tercantum pada DSM-5.

Bagaimana mengobati gangguan depresi?

Depresi adalah salah satu gangguan mental yang paling mungkin untuk diobati. Sebanyak 80 hingga 90 persen penderitanya membaik setelah menjalani perawatan. Orang yang mengalami depresi tersebut rata-rata bisa mengatasi gejala dengan baik.

Berikut beberapa jenis pengobatan yang bisa dilakukan penderita depresi:

Obat-obatan

Obat yang umum digunakan adalah antidepresan. Obat ini digunakan untuk memodifikasi kondisi otak seseorang. Obat ini umumnya tidak memiliki efek pada orang yang tidak mengalami depresi.

Jika mengonsumsinya sesuai dengan resep dokter, pasien akan menunjukkan kemajuan dalam satu atau dua minggu pertama penggunaan. Pasien akan merasakan manfaat seutuhnya jika telah mengonsumsi obat selama dua hingga tiga bulan.

Jika pasien tidak merasakan perubahan atau tidak membaik setelah beberapa minggu, dokter biasanya akan menambahkan dosis atau mengganti dengan jenis depresan lainnya.

Hal yang mungkin terjadi saat menggunakan antidepresan

Jika sudah merasa membaik, jangan menghentikan pengobatan secara tiba-tiba. Pemutusan penggunaan obat-obatan dapat berisiko membuat depresi memburuk tiba-tiba.

Bicarakan terlebih dahulu kepada dokter baru kemudian dokter yang akan menyarankan bagaimana pasien menyudahi pengobatan.

Psikoterapi

Psikoterapi adalah istilah yang digunakan untuk sesi berbicara dengan tenaga profesional kesehatan mental. Ada beberapa jenis psikoterapi yang bisa dilakukan, tergantung rekomendasi dari dokter.

Jenis yang umum dilakukan adalah terapi kognitif atau terapi interpersonal. Melakukan terapi ini akan membantu pasien untuk mengatasi beberapa kondisi seperti:

  • Mampu menyesuaikan diri dengan keadaan atau kesulitan yang terjadi saat ini
  • Mengidentifikasi perilaku negatif dan menggantinya dengan yang lebih sehat dan positif
  • Mencari tahu pengalaman dan mencoba mengembangkannya ke arah positif dengan cara berinteraksi dengan orang lain
  • Mencari cara untuk mengatasi masalah
  • Membantu mengontrol diri dan meringankan gejala seperti rasa marah dan putus asa
  • Mengembangkan kemampuan yang ada dan menerima kesulitan dengan cara yang lebih sehat

Electroconvulsive therapy (ECT)

Terapi ini biasanya digunakan untuk pasien yang tidak membaik meski telah mengonsumsi obat-obatan. Dilakukan berupa stimulasi listrik pada bagian otak untuk meredakan depresi.

Terapi yang sudah digunakan sejak 1940-an ini biasanya dilakukan dua hingga tiga kali seminggu. Dengan jumlah total 12 kali perawatan.

Baca juga: 5 Manfaat Berpikir Positif untuk Kesehatan yang Wajib Kamu Ketahui!

Apakah depresi bisa dicegah?

Tidak ada pencegahan yang bisa dilakukan dengan pasti. Namun, setelah didiagnosis kamu bisa melakukan berbagai macam kegiatan untuk mencegah depresi memburuk. Kegiatan ini juga bisa dilakukan untuk lebih menerima kondisimu saat ini. Beberapa hal bisa kamu lakukan antara lain:

  • Hidup dengan sederhana. Menetapkan tujuan yang lebih sederhana dan lebih masuk akal akan membuat kamu merasa lebih tenang. Jika ternyata belum bisa memenuhi target, beri ruang untuk dirimu bersedih.
  • Menulis jurnal. Menuliskan kata-kata bisa meningkatkan suasana hati. Lewat menulis kamu bisa mengekspresikan rasa kecewa, marah, takut dan juga bentuk emosi lainnya.
  • Mengikuti grup yang bermanfaat. Saat ini sudah banyak grup organisasi yang memberikan dukungan untuk kesehatan mental, termasuk depresi. Kamu bisa mengikutinya untuk bertemu orang-orang yang juga sedang berjuang untuk sembuh di grup dukungan.
  • Mencari cara mengelola stres. Banyak cara yang bisa dilakukan seperti meditasi, relaksasi atau yoga.
  • Mengatur waktu. Buatlah jadwal harian, agar hidup lebih teratur dan ini dapat membantumu mengatasi rasa kehilangan minat melakukan apapun.
  • Hindari membuat keputusan jika kondisi sedang tidak baik. Jika merasa tidak baik atau tertekan, berikan waktu untuk berpikir jernih sebelum memutuskan sesuatu.
  • Jangan mengisolasi diri. Cobalah untuk melakukan interaksi dengan orang lain dalam lingkup yang lebih luas, seperti mengikuti kegiatan sosial.

Depresi dan kecemasan

Dikutip dari Healthline, depresi dan kecemasan dapat terjadi secara bersamaan. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen penderita depresi juga memiliki gejala kecemasan.

Di sisi lain, depresi dan kecemasan juga memiliki gejala yang mirip, ini dapat meliputi:

  • Mudah marah
  • Sulit untuk mengingat atau berkonsentrasi
  • Gangguan tidur

Bahkan, kedua kondisi tersebut juga memiliki beberapa pengobatan yang sama, seperti:

  • Terapi, seperti cognitive behavioral therapy
  • Obat-obatan tertentu
  • Terapi alternatif

Depresi dan obsessive-compulsive disorder (OCD)

Obsessive-compulsive disorder (OCD) adalah salah satu jenis gangguan kecemasan. Kondisi ini dapat menyebabkan pikiran, dorongan, dan ketakutan yang tidak diinginkan secara berulang (obsesi).

Ketakutan ini menyebabkan seseorang melakukan perilaku atau ritual berulang (kompulsif) yang pada dasarnya diharapkan dapat meredakan tekanan akibat obsesi.

Seseorang dengan kondisi ini seringkali menemukan diri mereka terjebak dalam lingkaran obsesi dan kompulsi. Hal tersebut dapat menyebabkan seseorang menarik diri dari situasi sosial, yang mana dapat meningkatkan risiko depresi.

Konsultasikan masalah kesehatan Anda dan keluarga melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Mitra dokter kami siap memberi solusi. Yuk, download aplikasi Good Doctor di sini!

Categories
Kesehatan Mental

Putus Cinta Bisa Akibatkan Berat Badan Turun Drastis, Ini Penyebabnya

Bagi sebagian orang, putus cinta membuat suasana hati dan pikiran menjadi terganggu. Namun lebih dari itu, putus cinta juga bisa membuat berat badan turun drastis lho. Apakah kamu juga pernah mengalaminya?

Lalu apa sebenarnya hubungan antara putus cinta dengan penurunan berat badan yang drastis? Begini penjelasan medisnya.

Perubahan fisik akibat putus cinta

Sebenarnya tidak ada yang tahu persis bagaimana patah hati dapat memengaruhi tubuh secara pasti. Namun, efek dari putus cinta pada setiap orang bisa bermacam-macam termasuk membuat berat badan turun drastis.

Dilansir dari Healthline, Jennifer Kelman, pekerja sosial klinis berlisensi, mengatakan bahwa patah hati dapat menyebabkan perubahan nafsu makan, kurangnya motivasi, penurunan berat badan atau penambahan berat badan, makan berlebihan, sakit kepala, sakit perut, dan tidak enak badan secara umum.

Hal serupa juga disampaikan oleh ahli stres, Dr. Dan Guerra dan Dr. Dana Gionta, dari New York. Mereka menjelaskan bagaimana stres psikologis dapat membuat perubahan fisik dalam tubuh.

“Faktanya, beberapa orang mungkin kehilangan berat badan selama stres, namun ada pula yang justru berat badannya bertambah selama stres. Hal ini berkaitan dengan jenis metabolisme antarindividu dan juga berkaitan dengan bagaimana kita memproses stres secara psikologis,” jelas mereka. 

Hubungan antara rasa sakit fisik dan psikologis

Memulihkan diri dari putus cinta membutuhkan kerja keras. Tak jarang putus cinta berdampak pada pikiran serta terhadap fisik.

Penelitian menemukan bahwa orang-orang yang baru saja mengalami putus cinta mengalami aktivitas otak yang serupa. Saat diperlihatkan foto orang yang mereka cintai maka mereka bisa mengalami sakit fisik.

Para peneliti menyimpulkan bahwa penolakan, rasa sakit emosional dan fisik, semuanya diproses di wilayah otak yang sama. Menurut penulis buku soal patah hati, Meghan Laslocky, hal tersebut bisa jadi karena sistem aktivasi simpatis dan parasimpatis dipicu secara bersamaan.

Sistem parasimpatis adalah bagian dari sistem saraf yang menangani fungsi rileks seperti pencernaan dan produksi air liur. Ini memperlambat detak jantung dan pernapasan.

Sebaliknya, sistem saraf simpatik membuat tubuh siap bereaksi. Ini adalah respons “flight or fight” yang mengirimkan hormon ke seluruh tubuh untuk meningkatkan detak jantung dan membangunkan otot.

Ketika keduanya dihidupkan secara bersamaan, masuk akal bahwa tubuh akan mengalami ketidaknyamanan, bahkan mungkin nyeri dada.

Putus cinta dan turunnya berat badan

Kesedihan dan depresi, termasuk akibat putus cinta juga dapat memperlambat metabolisme tubuh, sehingga kita membutuhkan lebih sedikit makanan. 

Tingkat kecemasan kita juga dapat meningkat secara signifikan dan itu dapat menyebabkan gejala pada tubuh, terutama pada sistem pencernaan, endokrin, dan kardiovaskular.

Ada riset dari produk pelangsing menyatakan 46 persen responden perempuan mengalami kurang nafsu makan. Hal itu disebabkan pergolakan emosional.

Sementara 47 persen lainnya justru mengatakan mereka ingin memanfaatkan momen putus ini dan menurunkan berat untuk membuat mereka merasa lebih percaya diri.

Beberapa alasan ilmiah lain juga berhasil menemukan hubungan antara putus cinta dan kehilangan berat badan. Berikut adalah penjelasannya:

  • Saat kamu bahagia dan jatuh cinta, tubuhmu melepaskan dopamin dan oksitosin, hormon yang membuatmu merasa senang dan puas. Saat hubungan berakhir, hormon-hormon ini terkunci dan digantikan oleh hormon stres.
  • Ketika marah, tubuh akan memproduksi kortisol dan epinefrin. Namun, ketika hormon stres diproduksi berlebihan untuk jangka waktu yang lama seperti pada saat putus cinta, dapat membahayakan.
  • Produksi hormon stres yang berlebihan mengirim darah ke otot sehingga otot siap untuk melawan atau lari. Hal ini membuat anggota tubuh terasa bengkak dan dapat menyebabkan sakit kepala, sakit leher, dan rasa sesak di dada.
  • Karena banyak darah telah dikirim ke otot, lebih sedikit yang masuk ke sistem pencernaan yang berarti bahwa orang yang kesal dan stres untuk waktu yang lama dapat mengalami buang air besar yang tidak teratur.
  • Hormon stres juga memengaruhi sistem kekebalan dan membuatmu lebih rentan terserang flu atau virus.

Jika sudah terjadi serangkaian gejolak emosi dan hormon stres, rasanya tidak ada lingkungan fisik atau emosional yang akan membuatmu merasa nafsu makan. 

Tips menjaga berat badan setelah putus cinta

Menurut Dr. Dan Guerra dan Dr. Dana Gionta, ada beberapa cara agar berat badan tidak turun drastis setelah kamu mengalami putus cinta, di antaranya:

  • Menjaga kebiasaan makan yang benar
  • Memelihara motivasi untuk hidup dengan gaya hidup sehat
  • Pilih makanan dan camilan yang sehat 
  • Istirahat dengan cukup 

Sangat penting juga untuk kamu tetap berhubungan lingkungan sosialmu dan tidak mengisolasi diri sendiri.

Namun, bila kamu merasa stres, sedih dan marah yang berlebihan dalam jangka waktu lama sehingga mengganggu aktivitas harianmu, cobalah untuk meminta bantuan profesional. 

Pastikan untuk mengecek kesehatan kamu dan keluarga secara rutin melalui Good Doctor dalam layanan 24/7. Jaga kesehatan kamu dan keluarga dengan konsultasi rutin bersama mitra dokter kami. Download aplikasi Good Doctor sekarang, klik link ini, ya!